Kamis, 14 Desember 2017

Brigjen TNI Herman Asaribab pimpin sidang pantukhir tamtama

Rabu, 22 Maret 2017 16:16

Foto: Aman Hasibuan Foto: Aman Hasibuan
Ayo berbagi!

Kepala Staf Kodam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Herman Asaribab pimpin Sidang Panitya Penentuan Terakhir (Pantukhir) Calon Tamtama PK TNI-AD gelombang I Khusus Pulau Terluar, Perbatasan, Pedalaman Tahun 2017.

Kontributor Elshinta, Aman Hasibuan, Rabu (22/3) melaporkan, sebanyak 74 orang yang mengikuti sidang pantukhir seluruhnya putra daerah asli Papua, dan 50 orang dinyatakan lulus dan langsung mengikuti  pendidikan di Rindam XVII/Cenderawasih, serta empat orang lulus cadangan.

Pangdam XVII/Cenderawasih dalam amanatnya menyampaikan, sidang pemilihan calon Tamtama TNI AD Khusus Pulau Terluar, Perbatasan, Pedalaman Tahun 2017 ini merupakan salah satu proses dalam memilih calon yang memenuhi syarat berdasarkan hasil seleksi dan pemeriksaan yang meliputi aspek administrasi, jasmani, kesehatan, psikologi dan mental ideologi serta kesehatan jiwa. Selanjutnya calon yang terpilih atau lulus seleksi akan mengikuti pendidikan dasar di Rindam XVII/Cenderawasih. 

“Program Tamtama khusus ini merupakan bentuk apresiasi terhadap putra asli Papua melalui perekrutan anggota TNI bagi putra Papua di daerah terluar, di daerah terpencil dan perbatasan,” kata Pangdam.

Dijelaskan Pangdam, selama ini jarang sekali pemuda asli Papua dari pulau-pulau terluar, daerah terpencil dan perbatasan yang terekrut untuk menjadi seorang prajurit TNI. Untuk itu diadakanlah penerimaan Tamtama khusus dimana para prajurit tersebut setelah mengikuti pendidikan akan dikembalikan ke daerah asalnya.

Pangdam mengharapkan kepada semua anggota tim seleksi untuk dapat bertindak secara profesional dan obyektif dalam memberikan penilaiannya. Tidak ada pilih kasih dalam pemilihan calon. Semua calon yang memenuhi syarat sesuai norma yang telah ditentukan, dialah yang berhak mengikuti pendidikan.

“Hal ini penting untuk dipahami guna mendapatkan calon-calon Tamtama TNI AD benar-benar berkualitas. Hal ini dimaksudkan agar dikemudian hari tidak ditemukan adanya prajurit yang disersi maupun sakit berat, sehingga tidak dapat melanjutkan pendidikan yang diakibatkan oleh proses seleksi yang kurang optimal. Kita mempunyai tanggungjawab moral yang sangat berat dan tanggungjawab tersebut bukan hanya dari TNI selaku institusi yang memberikan tugas kepada kita, tetapi juga kepada masyarakat dan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga, untuk menepis adanya tudingan miring yang menganggap bahwa masuk menjadi anggota TNI harus membayar sejumlah uang,” ungkapnya.

Penulis: Angga Kusuma

Editor: Sigit Kurniawan

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-ank

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar