Minggu, 24 September 2017

Iran ajak Indonesia kembangkan teknologi nano

Rabu, 12 April 2017 16:14

Ilustrasi. Foto: Shutterstock Ilustrasi. Foto: Shutterstock
Ayo berbagi!

Dewan Pengembangan Nano Teknologi Iran (INIC) mengajak pemerintah Indonesia bekerja sama mengembangkan teknologi nano demi mengatasi berbagai masalah kesehatan, industri, hingga lingkungan.

"INIC punya misi ingin memperkenalkan teknologi nano ke khalayak lebih luas, khususnya warga Indonesia sebagai sesama negara Muslim demi mengimbangi kemajuan yang sudah dicapai sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan Jerman," kata Sekretaris Jenderal INIC Saeed Sarkar dalam wawancara khusus di Jakarta, Rabu (12/4).

Sarkar menjelaskan saat ini teknologi nano telah menjadi jawaban banyak persoalan, mulai dari mahalnya biaya pengobatan, tingginya ongkos produksi, dan pencemaran lingkungan.

"Salah satu contoh manfaat teknologi nano di bidang kesehatan adalah obat kanker. Peneliti Iran saat ini telah mengembangkan jenis obat yang dapat langsung menyasar sel kanker atau tumor ganas dalam jaringan tubuh sehingga efeknya tidak separah kemoterapi," Sarkar berujar.

Bahkan, menurut Sekjen INIC itu, harga obat kanker teknologi nano buatan Iran harganya lebih murah dibanding ongkos pengobatan umumnya.

"Biaya pengobatan kanker biasanya dapat mencapai ratusan dolar Amerika Serikat, tetapi berkat teknologi nano kami mampu menurunkan harganya hingga sekitar 20 dolar AS," jelas Sarkar.

Obat kanker yang kini telah diekspor ke berbagai negara, menurut Sarkar, juga dapat dikembangkan dan diproduksi di Indonesia.

"Proses produksi obat dapat dilakukan di Indonesia, bahkan besar kemungkinan negara ini menjadi pemasok obat kanker ke negara kawasan Asia Tenggara," kata Sarkar.

Di samping manfaat di bidang medis, pria yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Teheran itu menambahkan teknologi nano telah menjawab persoalan pencemaran lingkungan, dan kebutuhan efisiensi pada industri.

"Saat ini banyak negara mengalami masalah pencemaran air, salah satunya akibat limbah pembangunan. Namun sejak adanya teknologi nano, zat berbahaya misalnya timbal dapat dipisahkan dari air. Begitu pun di bidang industri, teknologi nano memungkinkan berbagai macam produk dibuat lebih murah, cepat, dan tahan lama," katanya.

Teknologi nano, kata Sarkar, sederhananya adalah teknik atau disiplin dalam ilmu pengetahuan yang melibatkan material berukuran satu sampai 100 nanometer (nm). Sebagai perbandingan, satu sentimeter (cm) setara dengan 10 juta nanometer.

Sarkar yang khusus mengunjungi Indonesia untuk memperkenalkan teknologi nano sejak Sabtu lalu mengatakan pihaknya telah berkunjung ke Kementerian Perindustrian, Selasa.

"Pihak kementerian menyambut baik rencana kerja sama pengembangan teknologi nano ini, khususnya di bidang kesehatan dan industri. Agenda selanjutnya kami akan berkunjung ke Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian," katanya tambahnya.

Meski demikian, menurut Sarkar, kerja sama pengembangan teknologi nano nantinya tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi pihak lain seperti pengusaha, investor, akademisi, dan peneliti juga harus turut serta.

"Kami juga telah bertemu dengan rektor Universitas Indonesia dan berbincang mengenai rencana kerja sama penelitian serta pengembangan laboratorium teknologi nano di Indonesia," kata Sarkar.

Ia mengatakui kajian dan pengembangan teknologi nano masih kurang banyak terdengar di tanah air. Meski demikian, sejumlah peneliti telah membentuk organisasi profesi Masyarakat Nano Indonesia (MNI) sebagai forum komunikasi antarpemangku kepentingan yang terdiri atas lembaga riset, pemerintah, pelaku industri, dan pihak universitas.

Sejak dibentuk pada 2009 di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), MNI punya misi untuk meningkatkan pengenalan, penelitian, dan pengembangan nanoteknologi di Indonesia, demikian tulis organisasi tersebut dalam laman resminya.

"Satu hal yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi nano agar menjadi massal, yaitu adanya program khusus yang mencakup aktivitas bersama dari berbagai pemangku kepentingan misalnya dalam bentuk seminar, lokakarya, atau pertukaran pengetahuan," Sarkar menjelaskan.

Teknologi nano, bagi Sarkar adalah masa depan yang tidak dapat dihindari karena hal tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Negara yang mengabaikan pengembangan teknologi nano akan tertinggal dalam kompetisi dan tidak mendapat tempat dalam pasar, kata Sarkar menutup. (Ant)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar