Kamis, 22 Juni 2017

Inggris berencana gelar pemilihan umum dini pada 8 Juni

Selasa, 18 April 2017 18:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengumumkan akan meminta parlemen melakukan pemungutan suara untuk pemilihan umum dini pada 8 Juni.

Sebelumnya, PM May pernah mengatakan tidak akan menggelar pemilihan umum hingga berakhirnya masa kerja parlemen saat ini pada tahun 2020 mendatang.

Namun dia mengatakan mengubah keputusan tersebut untuk menjamin stabilitas pada masa proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit dan setelahnya.

"Saya menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk menjamin kepastian dan keamanan bagi tahun-tahun mendatang adalah dengan menggelar pemilihan umum ini," tuturnya di depan kediaman resminya, 10 Downing Street, pada Selasa (18/04).

Rencana pemilu dini ini disambut baik oleh pemimpin kubu oposisi Partai Buruh, Jeremy Corbyn.

"Saya menyambut baik keputusan perdana menteri untuk memberi rakyat Inggris kesempatan memilih pemerintah yang akan menempatkan kepentingan mayoritas sebagai yang pertama."

Sementara Ketua Partai Liberal Demokrat, Tim Farron, menyatakan dukungan lewat Twiiter, "Ini kesempatan kita untuk mengubah arah negara kita. Jika Anda ingin mencegah bencana Brexit yang keras."

Dukungan 2/3 anggota parlemen

May menjadi perdana menteri setelah mundurnya PM David Cameron karena referendum tentang masa depan keanggotaan Inggris di Uni Eropa -pertengahan tahun 2016 lalu- dimenangkan oleh kubu yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Pemungutan suara di parlemen -yang dibutuhkan untuk mewujudkan rencana PM May- akan digelar Rabu (19/04).

Menurut May, partai-partai politik lain 'melakukan permainan' yang menambah risiko pada kemampuan untuk membuat Brexil berhasil serta mengganggu kepastian dan stabilitan negara.

"Jadi kita butuh pemilihan umum dan kita butuh saat ini. Pada saat ini kuta memiliki satu-satu kesempatan untuk menyelesaikannya," tegasnya.

Rencana pemilu dini ini membutuhkan dukungan dua pertiga dari total anggota Majelis Rendah Parlemen Inggris, jadi bukan dua pertiga dari yang memberikan suara.

Dengan 650 kursi, maka PM May harus mendapat dukungan dari 434 anggota parlemen untuk bisa mewujudkan rencananya.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar