Selasa, 19 Juni 2018 | 23:20 WIB

Daftar | Login

Banner Lebaran Banner Lebaran
Top header banner

/

Habiskan 36 Tahun, Seorang Pria Tiongkok Bikin Saluran Air Sepanjang 10 km di Atas Tebing

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
<p align=center><img src="http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2017/04/18/c81c5202e63e4363ad007dc8421dccbb.jpg"></p> <p align=center><img src="http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2017/04/18/c754b9271a0a4e7ebe3f7556e9d95d11.jpg"></p> <p>Seorang pria dari Desa Tuanjie, Distrik Bozhou Kota Zhunyi, bagian Barat Tiongkok berhasil membuat sebuah saluran air sepanjang 10 km di atas tebing curam setinggi 300 meter dalam waktu 36 tahun. </p> <p align=center><img src="http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2017/04/18/115d0e9ab6ff45dca29d4a7dc73f5e13.jpg"></p> <p>Sebelum tahun 1995, daerah tersebut hanya dapat ditanami jagung, sehingga kemiskinan menjadi masalah yang dihadapi setiap warga Desa Tuanjie. Selain minimnya tanah garapan dan keadaan geografis yang buruk, sulitnya air adalah penyebab utama desa tersebut dihantui kemiskinan selama bertahun-tahun. Warga desa bertengkar untuk mendapatkan air minum sudah menjadi pemandangan lumrah. </p> <p align=center><img src="http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2017/04/18/172e7ea3bbd34db19219e9348ad26843.jpg"></p> <p>Secercah cahaya harapan mulai muncul pada tahun 1959. Pada tahun itu, seorang pemuda bernama Huang Dafa bergabung menjadi anggota Partai Komunis Tiongkok dan dipilih sebagai Kepala Desa. Membuat saluran air merupakan ide pertama setelah pemuda itu memangku jabatannya. </p> <p align=center><img src="http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2017/04/18/36f83deabb37444cad608ad4a49ec64d.jpg"></p> <p>Sebenarnya sumber air berada tak jauh dari Desa Tuanjie, namun jika ingin menyalurkan air ke desa, maka diperlukan sebuah saluran air yang dapat melewati 3 bukit dan 3 tebing curam setinggi 300 meter. Selama ratusan tahun, para warga desa hanya dapat mengeluh di hadapan tebing curam itu dan bertahan hidup dengan mengandalkan cuaca. </p> <p align=center><img src="http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2017/04/18/0c065e5039d6472493d15c1c5df40380.jpg"></p> <p>Huang Dafa merupakan kepala desa pertama yang membulatkan tekad untuk membuat saluran air. Pengukuran hanya memanfaatkan beberapa batang bambu, dan dilakukan dengan mata telanjang. Dinding saluran air tidak ditempel dengan semen,tapi menggunakan lumpur kuning yang terdapat di atas tebing. Karena tidak mengerti persoalan teknis, begitu air bah datang, saluran air yang baru dibuat pun sontak hancur berkeping-keping. Setelah jerih payah selama belasan tahun, air tetap tidak dapat disalurkan ke Desa Tuanjie. </p> <p align=center><img src="http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2017/04/18/5bd4e4de492c43d393e9fcdbf1943605.jpg"></p> <p>Upaya Huang Dafa untuk membuat saluran air tidak lagi mendapatkan dukungan warga, namun ia tetap menyimpan impiannya itu di dalam lubuk hatinya,. Pada umur 53 tahun, Huang Dafa dimutasi ke sebuah PLTA. Di sana, ia menggunakan waktu 3 tahun untuk belajar dan mengumpulkan pengetahuan tentang pembuatan saluran air. </p> <p>Pada umur 56 tahun, Huang Dafa kembali di Desa Tuanjie, dan kembali memimpin warga desa membuat selokan. <p align=center><img src="http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2017/04/18/66d330333499449587a5527f985ee6aa.jpg"></p> <p>Demi mengumpulkan dana, ia berupaya meyakinkan para warga desa dari pintu ke pintu, meski sejumlah orang meragukannya, tapi para warga desa yang ingin terlepas dari kemiskinan, sehingga mereka pada akhirnya ikut memberi sumbangan untuk pembangunan proyek tersebut. Pemerintah setempat juga memberikan dukungan besar dalam pendanaan dan teknologi. </p> <p>Melalui upaya gigih seluruh warga desa selama 3 tahun, saluran air akhirnya berhasil dibuat, sehingga air pun dapat disalurkan ke desa. <p align=center><img src="http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2017/04/18/9d181a36aec24dafbbb6fdf5eb27e0a1.jpg"></p> <p>Dengan adanya air, Desa Tuanjie mengalami perubahan. Tanah tandus menjadi lahan persawahan, para warga desa tak lagi khawatir kekurangan beras. Banyak warga menjadi kaya dengan bercocok tanam atau pembudidayaan. Anak-anak dapat belajar dengan tenang, desa yang hanya terdiri dari seratus lebih kepala keluarga (KK) itu kini telah melahirkan 30 lebih mahasiswa. </p> <p>Kini kehidupan warga desa semakin membaik, saluran air yang mengubah nasib mereka itu kemudian dinamakan sebagai Selokan Dafa. </p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aplikasi | 19 Juni 2018 - 20:52 WIB

Instagram akan hadirkan fitur pelacak aktivitas

Aplikasi | 19 Juni 2018 - 20:39 WIB

YouTube Music dan YouTube premium telah resmi dirilis

Megapolitan | 19 Juni 2018 - 20:28 WIB

Jokowi berikan jaket olahraga ke pengunjung KRB

Aktual Dalam Negeri | 19 Juni 2018 - 19:48 WIB

Sistem buka-tutup diberlakukan di Jalur Nagreg

Arestasi | 19 Juni 2018 - 19:37 WIB

Polres Sukabumi tangkap tiga pelaku pembunuhan

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com