Selasa, 22 Agustus 2017

Sistem visa kerja Australia yang baru akan lebih ketat

Rabu, 19 April 2017 02:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Australia akan menerapkan persyaratan visa baru yang lebih sulit untuk para tenaga kerja terampil dari luar negeri.

Program selama ini, yang dikenal dengan Visa 457, digunakan untuk merekrut para pekerja asing yang terampil di bidang kesehatan, teknologi informasi atau IT, maupun restoran.

Banyak pekerja terampil dalam bidang-bidang tersebut berasal dari India, Inggris, dan Cina.

Namun Perdana Menteri Malcolm Turnbull mengatakan bahwa Visa 457 akan dihapuskan untuk memprioritaskan perekrutan warga lokal Australia.

"Sistem yang baru akan diterapkan secara nyata, tegas, dan tegas untuk kepentingan nasional," tutur PM Turnbull, Selasa (18/04).

Para pengkritik Visa 457 berpendapat skema itu membuat para pekerja Australia kehilangan kesempatan karena kedatangan pekerja asing, yang umumnya mendapat gaji lebih murah.

____________________________________________________________________

Pengalaman Ade Tsalasi, pekerja terampil IT dari Indonesia

Saya mulai bekerja di Australia tahun 2006 dengan Visa 457 berdasarkan Migration Occupations in Demand List (MODL) atau daftar keterampilan yang sangat dibutuhkan oleh Australia. Dalam kasus saya, perusahaan yang mensponsori visa karena mereka melihat keterampilan saya dibutuhkan dan menawarkan pekerjaan kepada saya.

Peraturan baru sebenarnya akan amat berpengaruh pada perusahaan-perusahaan yang ingin mendatangkan karyawannya dari luar Australia. Yang paling banyak di bidang IT itu dan mereka berasal dari India, kalau dari Indonesia itu sebenarnya kecil.

Bukan hanya karena tidak banyak tenaga kerja yang memiliki keterampilan IT tapi secara biaya juga lebih murah untuk mendatangkan pekerja IT dari luar. Perbandingannya bisa 1:5, jadi satu tenaga IT lokal setara dengan lima tenaga kerja dari India.

Bagi orang Australia atau yang sudah mendapat izin tinggal dan bekeraja di Australia, maka peraturan yang baru bagus. Selama ini tenaga IT lokal harus bersaing dengan tenaga IT dari luar Australia dan hal itu sangat susah.

Perusahaan IT lokal Australia selama ini juga susah karena secara biaya sulit bagi mereka untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan IT internasional, yang banyak mendatangan tenaga kerja dari India, misalnya, sehingga pada akhirnya bisa menurunkan harga buat pengguna jasa.

Secara sumber daya, untuk bidang-bidang IT yang baru, Australia masih mengalami kekurangan karena perkembangan IT di sini tidak seperti di Eropa dan Amerika. Tapi saya berbicara dengan teman-teman, peraturan ini bagus karena akan ada tekanan bagi perusahaan-perusahaan IT lokal untuk melatih tamatan baru universitas dengan teknologi-teknologi yang baru.

_____________________________________________________________________

Sebagai gantinya akan disiapkan dua jenis visa sementara dengan persyaratan tambahan dan daftar keterampilan yang terbuka lebih sedikit dari sebelumnya.

Yang pertama dengan masa dua tahun hanya tersedia untuk 200 jenis pekerjaan dari yang sebelumnya mencapai 650 jenis.

Sedangkan untuk visa kedua dengan masa kerja yang lebih panjang mengharuskan pemohon memiliki kemampuan bahasa Inggris, melalui pemeriksaan kriminal, dan ikut ujian pasar tenaga kerja.

Berdasarkan statistik pemerintah, dari 95.758 pekerja yang tinggal di Australia dengan Visa 457 sebagian besar berasal India (24,6%), Inggris (19,5%), dan Cina (5,8%).

Tujuan Visa 457 adalah untuk mengisi kekurangan tenaga kerja di sektor-sektor tertentu namun belakangan dianggap terlalu mudah diperoleh para pekerja asing.

Namun para pekerja yang saat ini menggunakan Visa 457 tidak akan terpengaruh hingga masa berlakunya berakhir.

"Program Visa 457 diberlakukan untuk periode empat tahun namun pada dasarnya 'terbuka-tertutup', sehingga dalam banyak hal hasilnya menjadi migrasi," jelas Menteri Imigrasi, Peter Dutton.

Perubahan pemberian visa kerja ini menyusul keputusan pemerintah Australia bulan lalu yang menghentikan visa untuk pekerja asing di bidang industri makanan cepat.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar