Jumat, 22 September 2017

Perempuan di Pilpres Iran: Penting tapi tak bisa mencalonkan diri

Selasa, 16 Mei 2017 12:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Saat warga Iran masuk ke tempat pemungutan suara untuk memilih presiden baru pada Jumat (19/05) mendatang, semua calon di kertas suara adalah pria.

Hampir empat dekade berlalu sejak Revolusi 1979 menciptakan Republik Islam Iran, namun tidak ada perempuan yang boleh mencalonkan diri untuk posisi nomor satu itu.

Bukan berarti mereka sama sekali tidak mencoba.

Tahun ini, 137 perempuan mengajukan diri. Bakal calon presiden yang paling terkenal adalah Azam Taleghani, mantan anggota parlemen berusia 72 tahun dan anak dari seorang ayatullah terkenal.

Dia sebenarnya sudah berupaya mencalonkan diri sejak tahun 1997 dengan tekad untuk menantang kalimat bermakna ganda di konstitusi Iran, yang selama ini ditafsirkan bahwa hanya pria yang boleh menjadi presiden.

Taleghani berkeras kriterianya bisa diterapkan untuk pria maupun perempuan dan sebagai politisi berpengalaman dia sepenuhnya memenuhi syarat.

Namun badan pengawas pemilihan, Majelis Wali, tidak sepakat dan mendiskualifikasi setiap usahanya.

Bulan Maret tahun ini, Taleghani -yang semakin tua dan sudah menggunakan tongkat- kembali menapak tangga di kantor Kementerian Dalam Negeri untuk mendaftarkan diri.

Dan kembali lagi, dia dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Meraih pemilih perempuan

Walau tidak boleh mencalonkan diri, jumlah perempuan di Iran mencapai hampir setengah dari jumlah total pemilih. Jadi suara mereka cukup penting dan para calon presiden biasanya berupaya untuk menjangkau mereka.

Dalam sebuah acara kampanye, misalnya, Presiden petahana, Hassan Rouhani, menerbitkan fotonya di media sosial yang memicu kebingungan beberapa kalangan.

Dia sedang berjalan-jalan di pegunungan pada suatu akhir pekan bersama dua pendaki perempuan muda. Salah seorang mengenakan jilbab yang tak sesuai dengan kriteria jilbab versi kalangan garis keras Islam di Iran, sedangkan seorang lagi malah hanya mengenakan topi.

Foto itu jelas sebagai pesan kepada para pemilih perempuan muda yang modern, bahwa Rouhani adalah calon yang tidak terlalu perduli dengan pembatasan ketat pakaian perempuan di negara itu dan batasan-batasan sosial lainnya.

Video kampanye Rouhani juga mengangkat pujian atas pencapaian perempuan Iran di dunia kerja dan olahraga sambil memberi dukungannya.

Dia merupakan satu-satunya calon yang sejauh ini menggelar acara kampanye khusus untuk kaum perempuan.

Ribuan perempuan muda menyambutnya dengan gemuruh ketika dia datang ke Stadion Shiroudi di ibu kota Teheran, pekan lalu.

Banyak yang mengenakan jilbab ungu -yang merupakan warna kampanye Rouhani- dan banyak pula yang membawa spanduk menuntut hak dan kebebasan yang lebih besar.

Sindiran Rouhani

Dalam kampanye di Stadion Shiroudi itu, seorang anggota parlemen perempuan yang terkenal, Parvaneh Salahshouri, mendapat sambutan meriah ketika mengatakan polisi syariah sebaiknya tidak mengganggu perempuan dan memusatkan perhatian pada pemberantasan korupsi.

Rouhani kemudian tampil di panggung, diapit oleh para anggota parlemen perempuan dan secara tidak langsung menyindir saingannya dari garis keras, Ebrahim Raisi, yang memiliki padangan konservatif bahwa 'pekerjaan perempuan kurang penting dibanding peran sebagai istri dan ibu'.

"Apakah Anda yang ingin menghentikan perempuan ke luar untuk bekerja?" tanyanya. "Jika Anda benar-benar yakin dengan pekerjaan untuk perempuan, kenapa Anda tidak melakukan sesuatu untuk itu?"

Sebagai calon dari kubu konservatif, Raisi tentu memiliki tugas berat untuk menarik para pemilih perempuan muda yang berpikiran modern.

Bagaimanapun dia tetap mencoba.

Dalam kegiatan kampanye, Raisi sering merujuk pada istrinya, seorang perempuan bergelar doktor dan guru besar universitas.

"Saya tidak keberatan menyantap makan malam yang dingin ketika istri saya harus bekerja lembur," katanya kepada para wartawan beberapa waktu lalu.

Namun foto dalam sebuah kampanyenya memperlihatkan pemisahan tegas para pemilih perempuan dan pria, sehingga muncul sejumlah komentar dari kaum moderat.

Upaya mendekati perempuan

Banyak yang berpendapat bahwa pandangan Raisi yang sebenarnya adalah dekat dengan pemimpin, yang menurut banyak orang kelak akan digantikannya, Pemimpin Agung, Ali Khamenei.

Khamenei terkenal dengan pandangan bahwa kesetaraan gender adalah 'gagasan Barat yang gagal' dengan menekankan pentingnya peran perempuan dalam rumah dan keluarga.

Calon lain dalam pemilihan presiden kali ini adalah Wali Kota Teheran, Mohammad Bahger, yang juga menggunakan media sosial untuk mendekat pemilih perempuan.

Belum lama ini dia menerbitkan fotonya yang dikelilingi kaum muda dari etnis Kurdi, termasuk perempuan yang menggunakan jilbab berwarna cerah dengan sebagian rambut mereka yang terlihat jelas.

Namun di media sosial pula dia sering diingatkan tentang usulannya di masa lalu untuk memisahkan pria dan perempuan di tempat kerja di Teheran.

Dan Presiden Rouhani menyindirnya beberapa kali dalam urusan tersebut.

Retorika dan kenyataan

Bersamaan dengan pemilihan presiden, berlangsung juga pemilihan dewan kota, yang terbuka untuk calon perempuan, yang pada saat bersamaan memiliki pengaruh lebih besar pula di tingkat lokal.

Dalam pemilihan lokal empat tahun lalu, jumlah perempuan yang mendapat kursi di dewan kota mencapai rekor terbanyak dan banyak yang berharap kali ini mereka bisa mengulangi pencapaian yang sama.

Berdasarkan keterwakilan perempuan di dewan kota dan parlemen, peringkat Iran relatif rendah, yaitu 177 dari 193 berdasarkan laporan PBB tahun 2017 tentang Perempuan Dalam Politik.

Namun keterlibatan perempuan dalam dewan kota sudah berdampak dan di tingkat inilah mereka bisa membuat perubahan.

Pada rangkaian kampanye di Teheran, para pemilih perempuan mendengarkan serius janji-janji yang disampaikan untuk mereka oleh para calon presiden,

Banyak yang mempertanyakan apakah retorika politik memang kelak bakal diwujudkan menjadi kebijakan yang akan mengatasi tekanan-tekanan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Bakal calon presiden perempuan yang berpengalaman tapi terus-terusan gagal, Azam Taleghani, ikut dalam sebuah kampanye di Universitas Amir Kabir.

Dia berjanji akan terus berkampanye agar perempuan bisa mencalonkan diri sebagai presiden, namun kali ini dia akan memberi suara kepada Presiden Rouhani.

"Mungkin kita tidak akan pernah punya presiden perempuan," katanya kepada para mahasiswa di sana. "Tapi tidak berarti bahwa hak untuk mencalonkan diri direbut dari kita."

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar