Minggu, 28 Mei 2017

Sindikat Penyelundup Senjata Kejutkan Penegak Hukum Australia

Selasa, 16 Mei 2017 17:11

(Courtesy: AustraliaPlus) Dari kiri: Ahmed Karnib, Khoder El Ali dan Andrew Botros, menyelundupkan lebih dari 130 pistol Glock ke Australia. (Courtesy: AustraliaPlus) Dari kiri: Ahmed Karnib, Khoder El Ali dan Andrew Botros, menyelundupkan lebih dari 130 pistol Glock ke Australia.
Ayo berbagi!

Ini adalah salah satu operasi penyelundupan senjata terbesar dalam sejarah Australia - sebuah skema yang mengejutkan Kepolisian New South Wales (NSW) serta mempermalukan pejabat Bea Cukai negara itu.

Sebuah sindikat yang bekerja dari luar kantor pos di pinggiran kota Sydney menyelundupkan lebih dari 130 senapan semi-otomatis bertenaga tinggi ke Australia melalui paket kiriman surat, ketika kota ini berada dalam ancaman insiden penembakan.

Pada saat penangkapan mereka di tahun 2012, sindikat tersebut memiliki rencana untuk kembali membawa ratusan pistol Glock ke Australia.

Hanya sebagian kecil dari pistol yang mereka selundupkan pernah ditemukan. Lebih dari 100 pistol masih berada di jalanan, di tangan para penjahat.

"Ini pistol yang bagus, pistol Glock. Ini tak berbeda dengan kendaraan bermotor jenis sport, sesuatu yang ingin dimiliki semua orang. Pistol Glock itu seperti pistol Ferrari."

- Kepala Inspektur Grant Taylor, Skuad Senjata Api Kepolisian NSW, 2009-2012.

Selama lima tahun, pemimpin sindikat tersebut telah menyeret kasusnya melalui pengadilan. Baru sekarang, rincian lengkap dari skema - yang disebut oleh para ahli senjata sebagai "peringatan" terhadap pihak berwenang Australia - ini terungkap.

Grant Taylor
Grant Taylor: “Pistol Glock itu seperti ferrari-nya senjata api.”

ABC

Januari 2012: penembakan di malam hari

"Bagaimana bisa sejumlah besar pistol Glock semi-otomatis ... masuk ke Australia, dan tiba-tiba berakhir di pinggiran barat Kota Sydney? Ini adalah peringatan."

- Gary Fleetwood, Komisi Intelijen Kriminal Australia.

Operasi tersebut terungkap setelah adanya baku tembak yang dilakukan penjahat rendahan di jalanan Kota Sydney, yang membuat para penyidik menelusuri penjual senjata di Jerman, Swiss, dan Amerika Serikat - dan kembali ke sebuah kantor pos di pinggiran kota Sydney.

Pada hari Senin (15/05/2017) dini hari, di pinggiran Wiley Park, beberapa orang berdebat sengit di dalam mobil mereka.

Ketika seorang penduduk setempat menyuruh mereka diam, ia pun ditembak.

Polisi kemudian mengejar mobil tersebut, dan mencarinya. Video polisi merekam penemuan sebuah pistol di lantai mobil tersebut.

"Saya melepaskan satu peluru dari dalam kendaraan. Oke, senjata ini sekarang sudah bersih."

- Petugas polisi.

Pistol itu langsung menjadi barang yang paling dicari. Ini adalah pistol Baby Glock semi-otomatis - mudah disembunyikan, dan hanya tersedia untuk para penegak hukum di Australia.

Tapi polisi juga memperhatikan bahwa nomor seri pada tiga bagian utamanya tidak sesuai - dan bahwa semua komponennya benar-benar baru.

Senjata
Detektif meyakini, penemuan 140 peluru pistol Glock artinya ada 140 pistol Glock yang beredar di jalanan.

Supplied

Polisi menyadari mereka sekarang tengah menyelidiki operasi penyelundupan internasional.

"Tak ada asap bila tak ada api. Dan jika seseorang memasukkan tiga senjata, kemungkinan besar ada lagi. Jadi itu alasan yang tepat untuk meluncurkan Strike Force Maxworthy."

- Detektif Kepala Grant Taylor

Februari 2012: ada pasar gelap

Detektif unit Maxworthy menghubungi pabrik Glock di Austria dan mengetahui bahwa senjata tersebut dijual ke penjual senjata kecil di Jerman, yang kemudian menjualnya ke pembeli di Australia.

Senjata itu dikirim ke kantor pos di pinggiran kota Sydney.

Pemilik waralaba kantor pos, Andrew Botros, dikenal oleh kepolisian setempat. Ia berada di bawah pengawasan dan teleponnya disadap.

Begitu juga dua tersangka lainnya. Salah satunya adalah Ahmed Karnib, yang bekerja di jasa pengirim barang terdekat. Yang lainnya adalah teknisi Optus, Khoder El Ali - pria yang diidentifikasi polisi sebagai pemimpin jaringan ini.

Polisi mendengarkan saat para pria itu menggunakan kode acak mereka sendiri dalam percakapan telepon untuk membahas pengiriman senjata.

Ahmed Karnib: "Berapa banyak barang yang kita bicarakan?"

Khoder El Ali: "Mereka setidaknya berusaha mengirimi kita 80 gulungan pancing."

Karnib: "Delapan puluh gulungan pancing, itu cukup bagus."

El Ali: "Ayo lakukan ini. Semua toko senjata ini, mereka akan langsung membeli barang ini, ini pasar yang besar, di industri perikanan. Tak ada penjual serupa di sini."

Karnib: "Seperti yang kita bilang, ada pasar di luar sana dan kita, kita adalah penyedianya."

El Ali: "Itu benar, saya akan segera berbicara denganmu sobat."

Ketika penjual senjata di Jerman juga ditempatkan dalam pengawasan, polisi menemukan bahwa pengiriman komponen senjata lain sudah dalam perjalanan ke Australia.

Fab Furia
Detektif Skuad Senjata Api, Fab Furia: “Kami harus bertindak cepat.”

ABC

Saat paket itu tiba, kali ini petugas Bea Cukai sedang menunggu. Di dalam kotak itu, mereka menemukan 140 peluru pistol Glock.

Polisi segera menyadari skala skema penyelundupan tersebut.

"Kami harus bertindak cepat Jika seseorang meminta 140 peluru, kami tahu bahwa di suatu tempat ada 140 pistol Glock, tapi kami tidak yakin apakah mereka masih berada di Jerman atau di Australia -dan kami pasti tak mau ada lagi pistol Glock yang masuk ke Australia."

- Sersan Detektif Fab Furia, Skuad Senjata Api Kepolisian NSW

Maret 2012: aksi dan penahanan

Polisi memutuskan untuk memasang jebakan, menggunakan paket yang disita dengan peluru pistol Glock.

Kotak itu dikemas ulang dan dilengkapi dengan perangkat sadap. Kemudian dikirim ke kantor pos oleh petugas Bea Cukai yang menyamar sebagai kurir.

"Mereka bisa memberi tahu kami bahwa mereka tahu di dalam paket itu ada bagian pistol Glock dan khususnya peluru. Ini berhasil dengan sempurna. "

- Detektif Kepala Grant Taylor

Setelah paket dikirimkan, Botros dan Karnib terekam tengah membahas paket itu - dan peluru pistol yang seharusnya terisi.

Andrew Botros: Saya tak percaya. Hanya ada peluru di dalamnya?

Ahmed Karnib: Ya.

Laki-laki tak dikenal: Untuk apa? Seri 9? Seri 5?

Karnib: Saya tak tahu ukuran berapa. Ini untuk Glocks.

Botros: Oh, untuk Glocks. Untuk seri 9.

Botros ditangkap di kantor pos, namun menyangkal dirinya mengetahui tentang paket tersebut.

Sementara Karnib ditangkap di kantor jasa pengiriman terdekat tempatnya bekerja. Ia juga bersikukuh tak tahu apa-apa - bahkan mengklaim telah menemukan salah satu identitas palsu yang digunakan oleh El Ali untuk membeli senjata secara daring.

El Ali ditangkap saat mengemudi bersama istrinya.

"Hebatnya, mereka masih sombong pada saat terakhir dan seterusnya. Saya pikir mereka percaya bahwa ini tak terjadi saat mereka ditangkap, dan bahwa kami tak akan pernah bisa merumuskan sebuah kasus melawan mereka."

- Detektif Kepala Grant Taylor

Petugas polisi: Apa yang anda ketahui tentang kotak itu?

Botros: Tidak ada. Mereka bahkan seharusnya tidak mengantarkan kotak itu ke sini. Itu Fedex.

Petugas polisi: Anda tahu apa isi kotak itu?

Botros: Tidak, saya tidak tahu. Tidak sama sekali. Saya belum menandatanganinya.

Lebih dari 100 senjata tak terdeteksi

Dari 132 pistol yang diselundupkan, polisi hanya menemukan 24 di antaranya. Mereka ditemukan di tengah geng motor, di laboratorium narkoba, dan anggota geng kejahatan Timur Tengah.

Salah satunya bahkan ditemukan tersembunyi di boneka beruang raksasa.

Botros dan Karnib kemudian mengaku bersalah mengimpor barang terlarang dan menjual senjata api.

Karnib menjalani hampir empat tahun penjara; Botros menghabiskan kurang dari dua tahun dalam tahanan sampai ia dibebaskan dengan jaminan dan harus mematuhi kewajiban berperilaku baik.

El Ali dinyatakan bersalah melakukan persekongkolan untuk mengimpor senjata tersebut, dan juga memiliki serta memasoknya.

Ia dijatuhi hukuman minimal 13 tahun, dan berhak untuk pembebasan bersyarat pada tahun 2025.

Diterjemahkan Selasa 16 Mei 2017 oleh Nurina Savitri. Simak beritanya dalam dalam Bahasa Inggris di ABC News.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar