Jumat, 22 September 2017

Pulau Terpencil Tak Berpenghuni di Pasifik Selatan Penuh Sampah

Kamis, 18 Mei 2017 13:27

Ayo berbagi!

Sebuah pulau terpencil dan tak berpenghuni di Pasifik Selatan menjadi tempat pembuangan sampah.

Pantai Pulau Henderson yang terdaftar sebagai Warisan Dunia, terletak dekat Amerika Selatan, kini dipenuhi sekitar 37,7 juta serpihan dengan berat total mencapai 17,6 ton, seperti yang terungkap dalam sebuah penelitian.

Peneliti asal Australia, Dr Jennifer Lavers mengatakan pulau tersebut memiliki kepadatan sampah plastik tertinggi dibandingkan di manapun di dunia.

Dia mengatakan temuan, yang diterbitkan pada hari Selasa (16/05) di Prosiding National Academy of Sciences, merupakan peringatan bagi dunia bahwa polusi plastik adalah ancaman kemanusiaan, seperti halnya perubahan iklim.

Produksi plastik tahunan meningkat dari 1,7 juta ton pada tahun 1954, menjadi 311 juta ton pada tahun 2014.

Jumlah produksi plastik telah menghasilkan sekitar lima triliun barang-barang plastik, kebanyakan berukuran kurang dari lima milimeter, yang beredar di permukaan perairan di seluruh dunia.

Untuk mengetahui berapa banyak serpihan di pulau terpencil tersebut, Dr Lavers, yang juga pakar biologi konservasi di Institute for Marine and Antartic Studies dari University of Tasmania dan Dr Alexander Bond dari Centre for Conservation di Inggris, mensurvei pantai utara dan timur dari pulau ini, selama tiga bulan di tahun 2015.

Dr Lavers mengatakan 17,6 ton puing-puing plastik yang diperkirakan berada di Pulau Henderson hanyalah senilai 1,98 detik dari produksi plastik global setiap tahunnya.

Skip YouTube Video

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

YOUTUBE: video polusi sampah

Dia mengatakan jumlah sampah sebegitu besarnya, hingga membutuhkan lima orang dalam satu tim untuk menyisir pantai sejauh 10 meter selama enam jam.

Dari perhitungan tim yang diturunkan, ada 671,6 barang-barang per meter persegi di permukaan pantai, dengan sekitar 68 persen serpihan tertutup pasir kurang dari 10 sentimeter. Anda bisa menonton seperti apa kondisinya, lewat video berikut.

A crab inside a blue plastic cup
Plastik menjadi ancaman utama bagi hewan-hewan laut.

Koleksi: Dr Jennifer Lavers

Skala polusi di Pulau Henderson mengejutkan Dr Lavers, meski ia sudah banyak mengunjungi "tumpukan sampah" di kawasan perairan dan melacak polusi plastik di lingkungan laut.

Pulau Henderson berada di kawasan laut yang jarang dilalui dan tidak berada di dekat jalur pelayaran atau perikanan, tanpa fasilitas industri atau jauh dari perkotaan yang jarak 5.000 kilometer."

"Mayoritas barang-barang tampaknya berasal dari tanah awalnya, kemudian masuk kawasan laut. Ini benar-benar tegantung kita untuk dapat membuat perbedaan dan mengurangi permintaan produk plastik," katanya.

Kawasan permukiman ada di Pulau Pitcairn dengan populasi hanya 40 orang.

Dead turtle caught in plastic waste on Henderson Island
Kura-kura mati terlilit tali plastik di pantai Pulau Henderson, Laut Pasifik Selatan dekat Amerika Selatan.

ABC News

Barang-barang sehari-hari menjadi tumpukan sampah

Dr Lavers mengatakan hanya sekitar 7 persen sampah di pantai terkait dengan perikanan. Sebagian besar barang yang ditemukan di pantai adalah barang-barang rumah tangga sehari-hari seperti korek api, pisau cukur plastik, sikat gigi, sendok plastik yang digunakan dalam deterjen atau formula bayi, dan mainan bayi.

"Faktanya barang-barang yang kita sebut 'sekali pakai' tidaklah seperti itu. Dan barang-barang yang dibuat beberapa dekade yang lalu, masih dan akan beredar di lautan selama beberapa dekade yang akan datang ," kata Dr Lavers.

Dr Lavers mengatakan penelitian mereka menunjukkan "tidak ada tempat di dunia yang aman, plastik ada di mana-mana".

Lebih dari seperempat sampah berasal dari Amerika Selatan dan merupakan hasil pergerakan arus Pasifik Selatan, yang mengalir berlawanan jarum jam, setelah melakukan perjalanan ke utara benua Amerika.

Perkiraan tersebut "mengkhawatirkan", karena dalam survei tersebut tidak termasuk barang-barang yang terkubur pasir lebih dalam dari 10 sentimeter atau serpihan di area tebing atau bebatuan.

Polusi plastik merupakan ancaman utama bagi spesies laut, kata Dr Lavers. Sebuah studi yang dirilis dalam dua bulan terakhir menunjukkan sekitar 1.200 spesies terkena dampak buruknya.

Di Pulau Henderson, sampah tersebut menghalangi penyu yang mencoba masuk ke pantai dan mengurangi jumlah penyu yang bertelur. Sampah-sampah ini juga mempengaruhi dua spesies burung laut asli.

Dr Lavers mengatakan polusi plastik juga merupakan ancaman utama bagi kesehatan manusia, karena dampak racun dari bahan kimia terkait plastik dalam rantai makanan.

"Paling tidak, 25 persen spesies ikan laut dunia mengkonsumsi plastik dan kami tahu plastik tersebut mengandung polutan kimiawi," katanya.

"Ikan berada di tingkat bawah rantai makanan ... dan kita tahu manusia berada di puncaknya."

Dr Lavers mengatakan solusinya adalah kampanye pendidikan dan perubahan sosial yang luas, yang didorong publik.

"Politisi tidak membuat keputusan berdasarkan apa yang ilmuwan katakan, keputusan dibuat karena publik menuntutnya," kata Dr Lavers.

"Itu tidak akan terjadi sampai seluruh populasi menyadari bahwa masalah ini setara dengan perubahan iklim. Kita perlu bergerak sekarang dan kita perlu bergerak cepat."

"Saya butuh publik untuk menyuarakan sebuah gerakan global, jadi kita bisa menghentikan kecanduan pada barang-barang plastik kita."

Tonton videonya disini.

Diterbitkan oleh Erwin Renaldi pada 17/05/2017 pukul 16:00 AEST. Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar