Minggu, 16 Desember 2018 | 23:33 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Peras Manager Kafe Rp 500 Juta, Pria Ini Dihukum 2 Tahun 9 Bulan

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
(Courtesy: AustraliaPlus) Omar Succarieh baru bisa mengajukan pembebasan bersyarat pada bulan Mei 2018.
(Courtesy: AustraliaPlus) Omar Succarieh baru bisa mengajukan pembebasan bersyarat pada bulan Mei 2018.
<p>Seorang pria Queensland yang telah menjalani hukuman atas keterlibatannya dalam aksi penyerangan di luar negeri kembali menerima hukuman penjara, kali ini selama dua tahun sembilan bulan, atas tindak pemerasan terhadap seorang manajer kafe di Brisbane.</p><p>Omar Succarieh, 34 tahun, dinyatakan bersalah melakukan pemerasan setelah meminta seorang manajer kafe menyerahkan lebih dari $ 50.000 (atau setara Rp 500 juta) untuk menanggung hutang yang disengketakan dengan mantan mitra bisnisnya.</p><p>Pengadilan Distrik mengungkap bahwa Succarieh mengancam akan mematahkan kaki korban dan menemui keluarganya jika ia tak membayar. Lalu korban menyerahkan uang 10.000 dolar (atau setara Rp 100 juta) kepada mantan rekan bisnisnya itu sebelum akhirnya melapor ke polisi.</p><p>Succarieh sebelumnya telah menjalani hukuman penjara selama 4,5 tahun akibat keterlibatannya dalam upaya serangan di luar negeri.</p><p>Ia mengaku bersalah atas pelanggaran tersebut karena telah memberi dukungan kepada anggota kelompok ISIS asal Australia yang pergi ke Suriah pada tahun 2014.</p><p>Dalam menjatuhkan vonis kepada Succarieh atas tindak pemerasan yang dilakukannya, Hakim Brian Devereaux mengatakan bahwa tak ada alasan yang masuk akal bagi Succarieh untuk melakukan pemerasan itu dan ia sendiri merupakan "pria dewasa dengan karakter yang mengintimidasi".</p><p>Hakim Devereaux mengatakan, ia menerima bahwa Succarieh telah menjadi "tahanan panutan" dan memiliki prospek rehabilitasi yang baik.</p><p>"Saya menerima saya harus melanjutkan atas dasar bahwa Anda berasal dari latar belakang keluarga yang akrab, dan telah menunjukkan bahwa anda adalah suami, ayah, pekerja, anggota komunitas yang baik dan murah hati terhadap orang lain, terlepas dari pelanggaran yang pernah membuat anda ditahan dan dihukum,” papar Hakim Devereaux.</p><blockquote class="comp-rich-text-blockquote comp-embedded-float-full source-blockquote" > <i class="fa fa-quote-left quote-marks" aria-hidden="true"></i> <div class="quote"> <p>&quot;Dalam hal ini, Anda memiliki latar belakang yang memungkinkan pengadilan untuk memprediksi bahwa Anda akan bisa direhabilitasi di masa depan,&quot; jelas Hakim Devereaux.</p> </div> <i class="fa fa-quote-right quote-marks" aria-hidden="true"></i> </blockquote><p>Hakim Devereaux mengatakan, ia juga menerima bahwa Succarieh telah menerima bimbingan agama dan mendapatkan pencerahan atas perilakunya.</p><p>"Anda menerima konseling mereka dan mengerti bahwa Anda mampu mengubah gaya hidup Anda. Sudah jelas bahwa Anda adalah orang yang cerdas dan sangat disiplin,” sebut sang hakim.</p><p>Pengadilan menunjukkan, Succarieh baru bisa mengajukan pembebasan bersyarat atas keterlibatannya dalam serangan luar negeri, pada bulan September.</p><p>Hakim Devereaux menghukum Succarieh dua tahun sembilan bulan penjara dan menetapkan tanggal pembebasan bersyarat baru yakni 10 Mei 2018.</p><h3><strong>Korban tertekan</strong></h3><p>Jaksa Michael Lehaine mengatakan bahwa Succarieh adalah "pria dewasa dan mengintimidasi" sehingga pemerasan tersebut memiliki "dampak signifikan" terhadap korban.</p><blockquote class="comp-rich-text-blockquote comp-embedded-float-full source-blockquote" > <i class="fa fa-quote-left quote-marks" aria-hidden="true"></i> <div class="quote"> <p>&quot;Ia (korban) sangat sulit tidur, ia menjadi paranoid, sering gugup, selalu mewaspadai situasi disekitarnya,&quot; jelas Jaksa Lehaine.</p> </div> <i class="fa fa-quote-right quote-marks" aria-hidden="true"></i> </blockquote><p>"Cobaan berat tersebut telah menyebabkan ia menderita trauma emosional yang parah, yang menurut saya, tak satupun dari hal itu mengejutkan, mengingat ancaman yang dilontarkan terdakwa," sambungnya.</p><p>Lehaine mengatakan Succarieh juga menunjukkan sikap kurang menyesal atas pelanggaran yang ia lakukan.</p><p><a class="external" href="http://www.abc.net.au/news/2017-05-22/omar-succarieh-sentenced-extortion-demanding-money/8547286" target="_blank" title="">Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.</a></p><p>Diterbitkan: 17:15 WIB 22/05/2017 oleh Nurina Savitri.</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Liga Indonesia | 16 Desember 2018 - 21:50 WIB

Persewar Papua tahan imbang Persik Kediri 1-1

Afrika | 16 Desember 2018 - 21:39 WIB

Dubes: Pasar Afrika capai Rp7.900 triliun

Aktual Dalam Negeri | 16 Desember 2018 - 21:25 WIB

Presiden minta aparat kemanan serius tangani pembalakan liar

Aktual Pemilu | 16 Desember 2018 - 21:12 WIB

KPU Bantul peroleh 70 kotak suara rusak

Kecelakaan | 16 Desember 2018 - 20:50 WIB

Anggota Polres Mojokerto tewas akibat kecelakaan

Otomotif | 16 Desember 2018 - 20:37 WIB

Perhatikan hal ini jika berkendara saat hujan

<p>Seorang pria Queensland yang telah menjalani hukuman atas keterlibatannya dalam aksi penyerangan di luar negeri kembali menerima hukuman penjara, kali ini selama dua tahun sembilan bulan, atas tindak pemerasan terhadap seorang manajer kafe di Brisbane.</p><p>Omar Succarieh, 34 tahun, dinyatakan bersalah melakukan pemerasan setelah meminta seorang manajer kafe menyerahkan lebih dari $ 50.000 (atau setara Rp 500 juta) untuk menanggung hutang yang disengketakan dengan mantan mitra bisnisnya.</p><p>Pengadilan Distrik mengungkap bahwa Succarieh mengancam akan mematahkan kaki korban dan menemui keluarganya jika ia tak membayar. Lalu korban menyerahkan uang 10.000 dolar (atau setara Rp 100 juta) kepada mantan rekan bisnisnya itu sebelum akhirnya melapor ke polisi.</p><p>Succarieh sebelumnya telah menjalani hukuman penjara selama 4,5 tahun akibat keterlibatannya dalam upaya serangan di luar negeri.</p><p>Ia mengaku bersalah atas pelanggaran tersebut karena telah memberi dukungan kepada anggota kelompok ISIS asal Australia yang pergi ke Suriah pada tahun 2014.</p><p>Dalam menjatuhkan vonis kepada Succarieh atas tindak pemerasan yang dilakukannya, Hakim Brian Devereaux mengatakan bahwa tak ada alasan yang masuk akal bagi Succarieh untuk melakukan pemerasan itu dan ia sendiri merupakan "pria dewasa dengan karakter yang mengintimidasi".</p><p>Hakim Devereaux mengatakan, ia menerima bahwa Succarieh telah menjadi "tahanan panutan" dan memiliki prospek rehabilitasi yang baik.</p><p>"Saya menerima saya harus melanjutkan atas dasar bahwa Anda berasal dari latar belakang keluarga yang akrab, dan telah menunjukkan bahwa anda adalah suami, ayah, pekerja, anggota komunitas yang baik dan murah hati terhadap orang lain, terlepas dari pelanggaran yang pernah membuat anda ditahan dan dihukum,” papar Hakim Devereaux.</p><blockquote class="comp-rich-text-blockquote comp-embedded-float-full source-blockquote" > <i class="fa fa-quote-left quote-marks" aria-hidden="true"></i> <div class="quote"> <p>&quot;Dalam hal ini, Anda memiliki latar belakang yang memungkinkan pengadilan untuk memprediksi bahwa Anda akan bisa direhabilitasi di masa depan,&quot; jelas Hakim Devereaux.</p> </div> <i class="fa fa-quote-right quote-marks" aria-hidden="true"></i> </blockquote><p>Hakim Devereaux mengatakan, ia juga menerima bahwa Succarieh telah menerima bimbingan agama dan mendapatkan pencerahan atas perilakunya.</p><p>"Anda menerima konseling mereka dan mengerti bahwa Anda mampu mengubah gaya hidup Anda. Sudah jelas bahwa Anda adalah orang yang cerdas dan sangat disiplin,” sebut sang hakim.</p><p>Pengadilan menunjukkan, Succarieh baru bisa mengajukan pembebasan bersyarat atas keterlibatannya dalam serangan luar negeri, pada bulan September.</p><p>Hakim Devereaux menghukum Succarieh dua tahun sembilan bulan penjara dan menetapkan tanggal pembebasan bersyarat baru yakni 10 Mei 2018.</p><h3><strong>Korban tertekan</strong></h3><p>Jaksa Michael Lehaine mengatakan bahwa Succarieh adalah "pria dewasa dan mengintimidasi" sehingga pemerasan tersebut memiliki "dampak signifikan" terhadap korban.</p><blockquote class="comp-rich-text-blockquote comp-embedded-float-full source-blockquote" > <i class="fa fa-quote-left quote-marks" aria-hidden="true"></i> <div class="quote"> <p>&quot;Ia (korban) sangat sulit tidur, ia menjadi paranoid, sering gugup, selalu mewaspadai situasi disekitarnya,&quot; jelas Jaksa Lehaine.</p> </div> <i class="fa fa-quote-right quote-marks" aria-hidden="true"></i> </blockquote><p>"Cobaan berat tersebut telah menyebabkan ia menderita trauma emosional yang parah, yang menurut saya, tak satupun dari hal itu mengejutkan, mengingat ancaman yang dilontarkan terdakwa," sambungnya.</p><p>Lehaine mengatakan Succarieh juga menunjukkan sikap kurang menyesal atas pelanggaran yang ia lakukan.</p><p><a class="external" href="http://www.abc.net.au/news/2017-05-22/omar-succarieh-sentenced-extortion-demanding-money/8547286" target="_blank" title="">Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.</a></p><p>Diterbitkan: 17:15 WIB 22/05/2017 oleh Nurina Savitri.</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Minggu, 16 Desember 2018 - 16:13 WIB

Ini cara cegah kejahatan `SIM swap fraud` ala Bareskrim

Sabtu, 15 Desember 2018 - 21:27 WIB
Hari Menanam Nasional 2018

PKSM dan Pramuka bagikan 3.500 batang pohon kepada pengguna jalan

Sabtu, 15 Desember 2018 - 21:19 WIB

Disdukcapil Kotabaru memusnahkan ratusan KTP-el rusak

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com