Kamis, 19 Oktober 2017

Negara paling bahagia di Asia, Bhutan belajar pertanian dari Australia

Sabtu, 09 Mei 2015 06:29

Delegasi dari Bhutan saat berada di Australia. Foto: Wendy Perry. Delegasi dari Bhutan saat berada di Australia. Foto: Wendy Perry.
Ayo berbagi!
Terletak diantara India dan Cina, Kerajaan Bhutan dikenal sebagai negara paling bahagia di kawasan Asia. Perwakilaan kerajaan sedang berada di Australia untuk mempelajari soal tenaga kerja di sektor pertanian.

Pihak Kerajaan Bhutan kini tengah memusatkan perhatian pada bagaimana mempertahankan tingkat kebahagiaan, tetapi dengan tetap meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Karenanya, Kerajaan Bhutan mengutus 12 orang perwakilan ke Mildura dan Robinvale, Victoria Utara.

Dalam kunjungan ini mereka akan bertandang ke sejumlah perguruan tinggi dan peternakan untuk mempelajari pengembangan tenaga kerja.

Kerajaan Bhutan yang memiliki populasi sebanyak 700 ribu orang, memiliki strategi untuk tenaga kerja.

Wendy Perry, dari Workforce Blue Print, kelompok dari Australia yang memimpin para delegasi, mengatakan hanya Bhutan yang yang ia ketahui memiliki strategi rencana untuk urusan ketenagakerjaan.

Ia mengatakan telah beberapa tahun bekerja dengan Bhutan. Ia pun pernah berkunjung kesana. Menurutnya kunjungan para delegasi ke Australia bisa membantu mereka membuka wawasan.

"Melihat apa yang ada disini dan mengunjungi organisasi yang berbeda-beda, bagaimana mereka bekerja," ujar Perry.

"Mereka ingin melihat seperti apa contoh yang baik di tingkat internasional."

Perry menjelaskan industri yang menjadi fokus para delegasi adalah pertanian, pariwisata, dan konstruksi.

Menurutnya, Bhutan memiliki filosofi berdasarkan pada Tingkat Kebahagiaan Nasional.

"Dengan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan budaya dan mempertahankan nilai-nilai sosial dan lingkungan," ujarnya.

"Jadi filosofi mereka soal rencana tenaga kerja dan pertumbuhan benar-benar luar biasa karena mereka ingin melihat warganya memiliki aspirasi untuk meraih segalanya."

Kinley Wangdi, yang bekerja untuk Departemen Tenaga Kerja dan Perburuhan di Bhutan mengaku orang-orang yang ia temui saat ia berpergian kemanapun, selalu tertarik dengan tingkat kebahagiaan di Bhutan.

80 persen warga Bhutan ketergantungan pada sektor pertanian. Foto: Flickr, Jmhullot.

"Kemanapun kami pergi keliling dunia, banyak orang yang meminta penjelasan soal Tingkat Kebahagiaan Nasional," kata Wangdi.

Ia menyatakan bahwa mempelajari soal pelatihan tenaga kerja memiliki kaitan langsung dengan kebahagiaan, khususnya untuk urusan sumber daya manusia.

Wangdi menjelaskan bahwa pertanian adalah prioritas utama negaranya karena letak geografis yang terkurung oleh daratan, sehingga warganya perlu menjadi mandiri.

Saat ini, Bhutan mengimpor banyak sumber pangan dari India. Padahal Bhutan memiliki wilayah pedesaan lebih banyak, dibanding kawasan perkotaan.

"Jadi pertanian tidak hanya sumber kehidupan, tapi juga cara hidup," kata Wangdi.

"Ada korelasi langsung dengan budaya dan budaya adalah komponen penting untuk bisa meraih kebahagiaan nasional." 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-der

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar