Sabtu, 22 Juli 2017

Penjelasan Menlu Retno terkait 16 WNI di Marawi

Selasa, 30 Mei 2017 08:26

Menlu Retno Marsudi usai Sidang Kabinet Paripurna menjawab pertanyaan wartawan di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (29/5). Foto: Setkab Menlu Retno Marsudi usai Sidang Kabinet Paripurna menjawab pertanyaan wartawan di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (29/5). Foto: Setkab
Ayo berbagi!

Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi memberikan informasi perkembangan terkini dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini tengah berada di wilayah darurat militer di Marawi, Filipina. Mereka sudah meminta dibantu agar bisa dievakuasi.

“Kita sudah menerima permintaan dari 16 WNI itu agar mereka dibantu evakuasi. Memang sampai sekarang kita tidak atau belum bisa bergerak karena dari kontak kita dengan otoritas setempat, operasi masih terus dilakukan. Sehingga tidak mungkin ada pergerakan apapun,” kata Menlu usai menghadiri Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (29/5).

Menurut Menlu, berdasarkan informasi yang diperoleh dari otoritas setempat, saat ini 16 WNI diketahui berada di salah satu masjid di Kota Marawi.

“Mereka ada di situ dan mereka menurut informasi dari otoritas setempat dalam kondisi yang baik,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal, melalui pesan singkat mengemukakan, ke-16 WNI tersebut adalah anggota Jamaah Tabligh yang melakukan khuruj, berdakwah selama 40 hari, di Filipina. Kebetulan markas Jamaah Tabligh di Filipina ada di Marawi.

Menlu Retno menjelaskan, pihaknya melalui KJRI Davao City sudah melakukan kontak baik dengan kelompok yang beranggotakan 10 orang maupun kelompok yang beranggotakan 6 orang.

“Jadi itu update yang dapat saya berikan sejauh ini,” sambungnya.

Terkait kemungkinan adanya WNI yang meninggal dalam konflik antara pihak militer dengan kelompok bersenjata di daerah Marawi, Menlu mengaku belum bisa mengonfirmasi informasi tersebut. Ia menjelaskan, saat ini situasinya emergency, sehingga Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mencoba untuk menahan dulu situasinya seperti apa.

“Setelah itu, baru kita bicara bagaimana, dan bagaimananya itu biasanya kita tidak hanya terpaku pada satu skenario,” kata Menlu, dikutip Setkab

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-der

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar