Sabtu, 22 Juli 2017

Singapura tahan pengasuh anak yang diduga terlibat ISIS

Selasa, 13 Juni 2017 15:54

Ilustrasi (sumber: Istimewa) Ilustrasi (sumber: Istimewa)
Ayo berbagi!

Seorang warga negara Singapura menjadi perempuan pertama yang ditahan oleh pihak berwajib di negeri tersebut di bawah undang-undang yang mengatur kegiatan radikalisme. Hal in terungkap dari keterangan Ministry of Home Affairs (MHA), atau ekuivalen Kementerian Dalam Negeri negara itu.

Sebagaimana dilansir oleh The Straits Times, perempuan yang bernama Izzah Zahrah Al Ansari tersebut berencana untuk bergabung dan menjadi "janda martir" bagi ISIS di Suriah dan Irak hingga akhirnya ditangkap pihak yang berwajib di awal bulan ini. Izzah diketahui bekerja sebagai pengasuh anak dari Sparkletots Preschool yang dikelola oleh yayasan sosial yang terafiliasi dengan partai yang berkuasa di Singapura, yaitu People's Action Party

Dalam pernyataan yang dirilis oleh MHA, Izzah mulai teradikalisasi di tahun 2013 dengan pengaruh propaganda daring yang dilancarkan ISIS, dimana dia meyakini kebenaran dari gerakan ISIS tersebut. Hal ini diperburuk dengan jejaring internasional yang diperolehnya dalam pergaulan di dunia maya. Di antara pihak yang menjadi relasinya termasuk beberapa militan ISIS dan simpatisan, beberapa kini telah meninggal di Suriah atau ditahan karena rangkaian kegiatan terkait terorisme. 

Kedua orang tuanya, yang merupakan guru, serta saudara perempuannya telah menyadari keterlibatan Izzah dalam radikalsme sejak 2015, akan tetapi mereka tidak melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib, sebagaimana keterangan MHA. 

Menurut kementerian dalam negeri Singapura itu, Izzah telah berencana untuk turut bergabung ke Suriah dan hendak membawa anak semata wayangnya juga. Dia bahkan telah berusaha mencari jodoh dari kalangan pendukung ISIS untuk menikahinya dan memboyongnya ke Suriah. Diyakini oleh pihak berwajib bahwa jika bersuamikan pejuang ISIS yang kemudian syahid di medan pertempuran maka statusnya sebagai "janda martir" dapat memudahkannya mencari pasangan kembali di sana. 

Kebiasaannya mengunggah materi dan propaganda pro ISIS sejak 2014 di media sosial. Meski akunnya berulang kali telah dihapus oleh pihak administrator karena isinya yang tendensius, akan tetapi dia terus membuat akun-akun baru dan memuat materi provokatif tersebut kembali. Izzah bahkan sempat sesumbar kepada salah satu rekannya di bulan April tahun ini bahwa pihak berwajib Singapura belum menyadari sikapnya tersebut. 

Dalam beberapa waktu terakhir ini, pihak berwajib Singapura tengah berupaya menghimbau masyarakat supaya melaporkan individu yang menunjukkan kebiasaan atau perilaku yang sesuai ciri-ciri orang yang telah mengalami radikalisasi. Diharapkan intervensi dini dapat merubah cara pandang tersebut dan mengurangi kemungkinan adanya suatu aksi teror di masa mendatang. 

"Dalam kasus Izzah, anggota keluarganya tidak melaporkannya kepada pihak yang berwajib ketika dia masih muda dan sebetulnya hal itu dapat menjauhkan dirinya dari jalan radikalisme," demikian pernyataan dari MHA. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar