Senin, 21 Agustus 2017

Laporan dari Bangladesh: Bulan puasa, pengungsi Rohingya andalkan bantuan

Jumat, 16 Juni 2017 06:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Sebagian dari setidaknya 400.000 pengungsi dan migran tanpa dokumen dari etnik Rohingya Muslim asal Myanmar di Bangladesh mengandalkan bantuan untuk menopang hidup mereka, terutama yang tinggal di luar kamp resmi.

Di tengah hujan rintik-rintik, puluhan orang berbaris mengantre di depan sebuah mobil van putih. Dua pria sibuk membagikan bingkisan yang terdiri dari beras, minyak goreng, kacang lentil, kentang, garam dan juga terpal.

Kebutuhan pokok itu amat berarti bagi penerima, orang-orang Rohingya yang menyelematkan diri dari dugaan kekerasan dan penindasaan di Myanmar, negara asal mereka, yang terletak di seberang Sungai Naf dari Cox's Bazar, wilayah pesisir di wilayah Bangladesh selatan.

"Kalau tidak ada bantuan ini, kami sekeluarga kekurangan makan. Padahal sekarang Ramadan, jadi susah sekali tanpa makanan mencukupi," tutur Aminah, seorang pengungsi Rohingya asal negara bagian Rakhine, Myanmar.

Ditambahkannya, ia bersama putra-putranya turut mengikuti rombongan tetangga yang melarikan diri Februari lalu setelah merasa tidak aman meskipun operasi militer di Rakhine dinyatakan berakhir.

Aminah tinggal di gubuk dadakan di pinggir ladang milik penduduk Bangladesh. Terpal bantuan akan ia gunakan untuk menutupi atap gubuk yang sementara ini hanya terdiri dari dedaunan dan potongan kayu.

Pengungsi tersebar

Kamp-kamp yang ada sudah tak mampu menampung pengungsi baru dan lembaga-lembaga bantuan skala kecil menyasar pemukiman dadakan pengungsi Rohingya di luar kamp.

''Sebenarnya banyak orang Rohingya yang berada di luar kamp. Tak mungkin membantu mereka yang berada di dalam kamp-kamp terkonsentrasi karena jumlahnya luar biasa banyak. Lebih mudah membantu mereka yang ada di luar kamp.

''Jadi kami mengumpulkan informasi dan memberikan bantuan terpal untuk atap gubuk dan paket kebutuhan pokok cukup untuk satu minggu sehingga mereka bisa bertahan di masa sulit seperti ini," kata Simson Halder, direktur Bangladesh Social Services (BSS), sebuah LSM yang berkantor di Dhaka, ibu kota Bangladesh.

Dengan donasi dari sejumlah pihak, BSS menyalurkan bantuan kepada 300 kepala keluarga pengungsi Rohingya di tersebar di pinggir-pinggir ladang dan bahkan ada pula yang tinggal di bawah pohon.

Untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK), mereka menggunakan pengairan ladang dan juga laut terbuka.

Kedatangan pengungsi Rohingya dari Myanmar ke Bangladesh sejak puluhan tahun lalu ditambah dengan banjir pengungsi gelombang baru pascakerusuhan di Rakhine, Myanmar, pada Oktober 2016, membuat Bangladesh menjadi negara penampung orang Rohingya terbesar di dunia. Di sini tak kurang dari 400.000 orang Rohingya mengungsi.

Sedot sumber daya

Faktor utama adalah kedekatan wilayah geografis yang hanya dipisahkan oleh Sungai Naf. Adapun mereka terkonsentrasi di Distrik Cox's Bazar dengan penduduk sekitar 2,5 juta jiwa.

Kehadiran pengungsi, menurut Bupati Cox's Bazar, Mohammad Ali Hossain, menimbulkan persoalan kompleks di sebuah negara yang baru naik ke taraf pendapatan rendah-menengah berdasarkan ranking Bank Dunia.

''Pemerintah kami sangat berbaik hati dan selalu mengedepankan sisi kemanusiaan. Dengan keterbatasan sumber daya, kami berusaha memberikan layanan dasar kepada mereka seperti perumahan, obat-obatan dan juga sanitasi. Tetapi ini sangat terbatas dan sangat sulit menyediakan semuanya dari sumber keuangan pemerintah."

"LSM dan organisasi internasional juga memberikan bantuan kepada pengungsi tapi tidak cukup. Jadi kami berusaha menjangkau mereka tetapi tempat mereka pula tersebar di mana-mana," kata Mohammad Ali Hossain dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Kelompok minoritas etnik Rohingya tidak diakui sebagai warga negara oleh Myanmar namun dianggap sebagao pendatang gelap dari Bangladesh walaupun dari generasi ke generasi mereka sudah ada di Rakhine, Myanmar.

Negara itu melancarkan operasi militer di Rakhine dengan dalih memulihkan keamanan sejak terjadi serangan terhadap pos-pos perbatasan yang menewaskan sembilan aparat keamanan Myanmar pada Oktober tahun 2016 lalu.

Pihak berwenang Myanmar mengatakan aksi tersebut dilancarkan oleh kelompok militan Rohingya bersenjata tajam dan aparat keamanan melakukan operasi keamanan yang dinyatakan berakhir Februari lalu. Namun demikian hingga kini, akses ke sebagian wilayah di Rakhine masih dinyatakan tertutup bagi badan-badan luar negeri maupun bagi wartawan.


Tulisan ini adalah bagian dari laporan berseri tentang pengungsi Rohingnya di online BBCIndonesia.com dan dalam acara radio Liputan Khas BBC Indonesia mulai Kamis, 29 Juni, dalam siaran pukul 05:00 WIB.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar