Kamis, 24 Agustus 2017

BNPT dan FKPT bentuk komunitas hoax

Jumat, 16 Juni 2017 09:15

Ilustrasi. Ilustrasi.
Ayo berbagi!

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Nusa Tenggara Timur membantu pembentukan komunitas tolak hoaks (hoax) untuk kepentingan cegah dan tangkal radikalisme terorisme di tengah masyarakat setempat.

"Kami memfasilitasi pembentukan komunitas itu saat melakukan aksi dialog literasi media yang melibatkan sejumlah unsur masyarakat Kota Kupang pada hari Kamis (15/6)," kata Ketua Komisi Media Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Nusa Tenggara Timur Simon Petrus Nili di Kupang, Jumat (16/6).

Ada tiga kelompok komunitas tolak hoaks yang dibentuk setelah dialog tersebut. Komunitas ini beranggotakan jurnalis, personel TNI dan Polri, akademisi, praktisi, aparatur sipil negara (ASN), tokoh masyarakat, dan pegiat LSM.

Komonitas itu akan bertugas merekrut lagi anggota lainnya secara berjejaring untuk terus secara masif membudayakan semangat tolak hoaks di tengah masyarakat.

Langkah awalnya, kata dia, memprogram sejumlah langkah literasi media dengan belajar menjadi jurnalis warga untuk menjadi pioner bagi penyebar informasi dan berita benar.

"Jika ada informasi hoax yang beredar di media sosial, komunitas inilah yang akan membantu memberi klarifikasinya kepada masyarakat sehingga tidak menyebar luas menjadi informasi yang menyesatkan," katanya.

Bekas pemimpin redaksi sebuah harian terbitan Kupang itu mengatakan bahwa banyak anggota komunitas tolak hoaks dan melakukan aksi-aksinya sebagai jurnalis warga maka akan sanggup memberikan satu literasi yang baik bagi masyarakat dalam memahami dan memanfaatkan media sosial saat ini.

Tidak bisa dipungkiri perkembangan media sosial saat ini sangat masif hingga menembus batas sekat seluruh level sosial kemasyarakatan. Kendati demikian, kata mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kupang itu, pemanfaatan media sosial itu harus benar-benar terkendali agar tidak terhempas dalam isu dan informasi bohong alias hoax yang bisa memberi dampak buruk, terutama bagi kehidupan sosial kemasyarakatn di daerah ini.

Perilaku teror dan radikal yang mulai masif terjadi di beberapa daerah dan negara lain dunia juga dipengaruhi oleh media sosial. Oleh karena itu, menjadi penting bagi masyarakat mengendalikan pemanfaatan media sosial secara arif dan bijaksana.

Ketua Komunitas "Tartoe Hoax" I Ketut Wiyasa mengatakan bahwa pihaknya sudah membentuk kelompok antihoaks yang beranggotakan 15 orang. Komunitas ini akan terus melakukan rekrutmen secara berantai mengikuti pola berjejaring.

"Ini sudah jadi program prioritas komunitas tersebut," kata seorang personel polisi itu.

Selain merekrut anggota secara berjejaring, dia bersama seluruh anggota akan melakukan anjangsana media sekaligus pelatihan jurnalisme dasar untuk memudahkan tugas ke depannya, yaitu menjadi jurnalis warga.

Sekretaris Komunitas Tartoe Hoax Linda Makandolu menambahkan bahwa seluruh rancangan program itu sudah terjadwal dan siap melaksanakannya. (Ant)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-DeN

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar