Kamis, 29 Juni 2017

ISIS klaim serang masjid di Kota Kabul

Jumat, 16 Juni 2017 10:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
kabul, isis
EPA
Aparat Afghanistan berjaga di sekitar masjid yang menjadi lokasi pengeboman bunuh diri.

Kelompok milisi yang menyebut diri mereka Negara Islam atau ISIS menyatakan telah melancarkan serangan terhadap sebuah masjid di sebuah wilayah yang banyak dihuni kaum Syiah di Kota Kabul, Afghanistan.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Amaq, kelompok bermazhab Sunni itu mengaku bertanggung jawab atas pengeboman bunuh diri di Masjid Al-Zahra yang menewaskan empat orang.

Dua di antara korban meninggal dunia adalah seorang polisi dan tokoh pendiri masjid.

Aksi pengeboman bunuh diri di Masjid Al-Zahra terjadi ketika para jemaah sedang berbuka puasa.

Melalui pernyataan di akun Facebook juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Najib Danish, pelaku penyerangan diketahui berupaya memasuki masjid namun gagal mencapai ruang salat. Dia kemudian memicu bom di dapur masjid.

isis, kabul
EPA
ISIS mengaku bertanggung jawab atas pengeboman bunuh diri di Masjid Al-Zahra yang menewaskan empat orang.

Aksi tersebut ditengarai sengaja dilakukan pada masa-masa sekarang lantaran umat Syiah tengah menggelar ritual untuk menghormati Imam Ali, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad.

Serangan di Kabul semakin sering terjadi di Kabul selama sebulan terakhir. Sebelum bom bunuh diri di Masjid Al-Zahra, serangan bom bunuh diri juga terjadi di dekat wilayah kedutaan-kedutaan asing bulan lalu. Sebanyak 90 orang meninggal dunia dan sedikitnya 400 orang cedera.

Insiden itu menimbulkan gelombang demonstrasi menuntut pemerintah meningkatkan pengamanan. Dalam salah satu demonstrasi, sebanyak lima orang meninggal dunia akibat tembakan polisi guna membubarkan demonstran.

Maraknya serangan pada bulan Ramadan, menurut Shiraz Maher selaku peneliti di King's College London, tidak lepas kaitannya dengan pemahaman bahwa Allah menurunkan banyak berkah pada saat Ramadan.

Berkah itu, tambah Maher, mengalir kepada para umat yang menjalankan ibadah, termasuk doa dan amal.

"Menurut pemikiran radikal, jika penambahan doa dan amal didorong saat Ramadan, mengapa tidak meningkatkan pertumpahan darah? Mereka meyakini ini adalah peluang untuk menggandakan pertempuran melawan peradaban sehingga serangan lebih banyak dari biasanya," kata Maher, yang telah menulis buku berjudul Salafi-Jihadism: The History of an Idea.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar