Sabtu, 24 Juni 2017

Dokter AS bantah klaim Korut soal mahasiswa yang koma

Jumat, 16 Juni 2017 14:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Sekelompok dokter Amerika Serikat tidak menemukan "tanda-tanda botulisme" pada tubuh mahasiswa AS yang dibebaskan pemerintah Korea Utara dalam kondisi koma.

Sebelumnya, Korut menyatakan kondisi koma yang dialami Otto Warmbiernama mahasiswa tersebutdisebabkan botulisme dan pil tidur setelah menjalani persidangan.

"Kondisi sarafnya paling baik digambarkan sebagai keadaan sadar, namun tidak merespons," kata Daniel Kanter, salah seorang dokter yang tergabung dalam tim peneliti.

Kanter menambahkan, Warmbier "tidak menunjukkan pemahaman bahasa" dan "kehilangan sel saraf secara ekstensif" yang amat mungkin disebabkan oleh terhentinya fungsi jantung-paru

"(Kondisi Warmbier) bukan sesuatu yang biasa kami lihat pada cedera trauma otak. Jenis ini yang terjadi pada penghentian fungsi jantung-paru," kata Kanter.

Berdasarkan pemindaian di Pusat Medis Cincinnati awal pekan ini, tim dokter mengatakan bahwa tiada bukti Warmbier disiksa secara fisik selama ditahan.

Sementara itu, ayah Warmbier mengaku ragu dengan klaim Korut bahwa anaknya menderita botulisme.

"Kalaupun Anda percaya dengan penjelasan botulisme dan pil tidur menyebabkan komasedangkan kami tidak percayatiada alasan bagi sebuah negara beradab merahasiakan kondisinya dan tidak memberinya perawatan kesehatan tertinggi."

Otto Warmbier adalah seorang mahasiswa jurusan ekonomi Universitas Virginia. Dia ditahan pada Januari 2016 saat mengunjungi Korut sebagai turis.

Dia dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun lantaran berupaya mencuri plang proganda Korut di sebuah hotel.


Apakah yang dimaksud dengan Botulisme?

Botulisme adalah keracunan yang menyebabkan kelumpuhan total pada tubuh, kesulitan bernapas, bahkan kematian pada beberapa kasus.

Pencetusnya adalah bakteri jenis clostridium botulinum. Kendati begitu, gejala botulisme bukan disebabkan bakteri itu sendiri, melainkan dari racun yang diproduksi organisme mikroskopis tersebut. Racun ituyang disebut botulinumkemudian menyerang sistem saraf dan mengakibatkan kelumpuhan.

Seseorang terpapar botulinum bisa dengan menyantap makanan yang terkontaminasi dengan racun tersebut, atau melalui luka.

Kontaminasi melalui makanan terjadi manakala bakteri clostridium botulinum tersimpan di kaleng atau dengan cara yang membuat organisme tersebut tidak mendapat pasokan udara. Jika itu terjadi, bakteri tersebut akan memproduksi racun.

Hal ini jarang terjadi pada makanan yang diproduksi di dunia Barat, namun Korut mengklaim itulah yang terjadi pada Otto Warmbier.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar