Minggu, 20 Agustus 2017

Gula rafinasi bocor ke pasaran, pabrik dalam negeri bisa gulung tikar

Jumat, 16 Juni 2017 17:17

Foto: Efendi Murdiono Foto: Efendi Murdiono
Ayo berbagi!

Rahman Sabon Nama Ketua Umum APT2PHI (Asosiasi Pedagang Dan Tani Tanaman Pangan Dan Hortikultura Indonesia) mengimbau pada pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla agar bisa memerintahkan untuk menghentikan membanjirnya impor gula kristal putih atau white sugar dan gula rafinasi.

"Gula putih dan rafinasi yang membanjiri pasaran masih perlu dibedakan agar bisa diketahui konsumen. Kalau gula rafinasi tidak segera dikendalikan dan dibiarkan masuk kepasar gula konsumsi, ini bahaya, karena akan menjadi kompetitor yang tidak sehat bagi produk gula lokal," katanya, Jumat (16/6).

"Saya khawatir pemerintahan Jokowi -Jusuf Kalla akan menyulitkan Indonesia mencapai kedaulatan pangan dari perlindungan petani tebu dan pabrik gula lokal dari liberalisasi perdagangan gula yang tidak adil," tambahnya.

Rahman Sabon Nama yang juga pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI Pusat) itu menyatakan bahwa baru mendapat laporan dari APT2PHI Sumatera Utara bahwa kini di gudang Divre Bulog Sumatera Utara stok gula lebih dari 10.000 ton produk gula lokal PTPN II dan PTPN XI menumpuk di gudang. "Ini kalau didiamkan pemerintah maka 59 unit pabrik gula lokal nasional bisa gulung tikar alias bangkrut," tegas Rahman seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.

Pemerintahan Jokowi belum terlambat dan harusnya bisa menciptakan berjalannya regenerasi petani dengan memberikan rangsangan yang menguntungkan untuk bekerja sebagai petani, karena saat ini minimnya minat generasi muda untuk bekerja sebagai petani.

Rahman menyarankan kepada pemerintah agar kedalautan pangan bisa terwujud maka pertama adalah perlu segera melakukan revitalisasi semua pabrik gula peninggalan Belanda yang tersebar di pulau Jawa.

Kedua; hentikan segera impor gula rafinasi diganti dengan impor gula kristal merah/raw sugar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakun pabrik gula yang lahan perkebunan tebunya terbatas.

Hal ini lebih menguntungkan karena ada kesempatan kerja untuk buruh tani dan juga harga gula rafinasi dalam negeri lebih murah dibandingkan dengan impor. Harga raw sugar saat ini dipasaran internasional berkisar dengan harga USD 285-287 CIF per ton Indonesian port, maka dengan itu kalau diproses sendiri tentu harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan gula rafinasi impor.

"Setahu saya bahwa kebutuhan gula nasional tahun 2016 sekitar 5,5-6 juta ton sedangkan produksi nasional dari 59 pabrik gula lokal yang berbasis bahan baku tebu lebih kurang 2,3 juta ton dengan rendemen rata rata 5,7 -6 persen atau sekitar 5 ton perhektar." ujarnya.

Ketiga : untuk meningkatkan produksi gula nasional sebaiknya lahan tidur perhutani yang ada di pulau Jawa dan Sumatra bisa dimanfaatkan untuk menanam tebu rakyat untuk meningkatkan produksi gula dalam negeri tuturnya.

"Akibat kebijakan dari Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian ini, bisa berakibat buruk pada kedalautan pangan matinya pabrik gula nasional, dan petani malas menanam tebu karena kemampuan daya beli pabrik gula rendah, petani merugi hidupnya semakin termarjinalkan hasil panen gulanyapun payah  diserap pasar dan konsumen karena sulit bersaing dengan gula rafinasi impor," Tutur pria kelahiran Adonara NTT.

Penulis : Andi Juandi

Editor: Sigit Kurniawan.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar