Kamis, 29 Juni 2017

Kuba kecam perubahan kebijakan 'embargo' AS

Sabtu, 17 Juni 2017 14:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Pemerintah Kuba mengecam keputusan Presiden AS Donald Trump mengubah kebijakan terhadap negara pulau tersebut.

Bagaimanapun, negara itu mengatakan tetap akan bekerja sama dengan negara tetangga terbesarnya.

Dalam pernyataannya di Miami, Trump mengatakan dia mengajukan kembali pembatasan perjalanan dan perdagangan yang dilonggarkan oleh pemerintah Obama, dengan mengecam "sepenuhnya merupakan kesepakatan satu pihak".

Tetapi dia tidak mengurangi ikatan diplomatik dan komersial yang penting.

"Pemerintah Kuba mengecam kebijakan memperketat embargo," seperti disampaikan TV pemerintah Kuba.

Tetapi juga menegaskan kembali "bersedia untuk melanjutkan dialog dan kerja sama dengan penuh rasa hormat".

Barack Obama berupaya mencairkan hubungan kedua negara dengan melonggarkan larangan perdagangan dan wisata.

Presiden Trump mengatakan kebijakan baru ini akan memperketat perjalanan dan pengiriman dana ke Kuba.

Trump mengumumkan perubahan itu pada Jumat (16/06), dia menyebut kekhawatiran masalah HAM, dengan mengatakan bahwa melakukan kesepakatan dengan pemerintah Castro yang "brutal" itu "mengerikan" dan "salah arah".

Pada malam itu, media milik pemerintah Kuba juga berbicara dengan keras.

"Setiap strategi yang bertujuan mengubah sistem politik, ekonomi dan sosial di Kuba - baik dengan tekanan atau pengenaan atau melalui cara yang lebih halus - akan gagal," kata dia.

Sebenarnya, Presiden Trump tidak memperketat semua kesepakatan Obama.

Dia tidak akan menutup kedutaan besar AS di Havana, penerbangan komersial dari AS akan terus berlanjut, dan warga Amerika masih bisa pulang ke rumah dengan barang-barang dari Kuba.

Apa tanggapan warga Kuba di Miami?

"Embargo harus berlanjut. Mengapa memberikan penghargaan kepada sebuah negara di mana warganya tidak dapat uang? Mereka masih kelaparan dan tidak ada kebebasan apapun. Mengapa kita tetap memberi makan orang di posisi atas ketika mereka menekan warganya sendiri." Jose Nadal

"Saya merupakan 100% Republikan. Saya sepakat 150% apa yang Trump katakan dan lakukan. Mereka harus menerapkan sanksi terhadap Kuba. Ketika Obama membuat kesepakatan dan memulihkan hubungan dengan pemerintah Kuba, dia memberikan semua yang mereka minta. Kami tidak menerima apapun dari pemerintah Kuba. Ini mengapa Trump ingin memperketat sanksi." Cathy Henderson

"Saya menentang embargo. Tirani Kuba menggunakan embargo sebagai sebuah dalih untuk membenarkan apa yang telah gagal. Mereka menyalahkan hal buruk di Kuba akibat embargo." Santiago Portal

BBC Mundo

Sejarah embargo perdagangan AS terhadap Kuba

1959: Revolusioner Kuba Fidel Castro memimpin gerilyawan ke Havana untuk menggulingkan rejim Batista.

1960: Sebagai tanggapan atas reformasi komunis Castro, AS memutuskan hubungan diplomatik dan menerapkan embargo perdagangan.

1962: Castro sepakat untuk mengijinkan Uni Soviet untuk mengirimkan rudal nuklir ke negara pulau tersebut sehingga menyebabkan AS dan Soviet berada di ambang perang nuklir.

April 2009: Presiden Barack Obama mencabut larangan perjalanan keluarga dan pengiriman remitansi ke Kuba.

Juli 2015: AS dan Kuba kembali membuka kedutaan di masing-masing ibukota dan memulihkan hubungan diplomatik.

Maret 2016: Presiden Obama mengunjungi Kuba dan bertemu dengan Presiden Raul Castro. Dia menyampaikan harapan embargo akan diakhiri, tetapi hanya dapat dicabut oleh Kongres AS yang dikuasai olah Republikan yang menentang langkah tersebut.

Agustus 2016: Penerbangan komersial AS tiba di Kuba untuk pertama kalinya setelah lebih dari setengah abad.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar