Selasa, 24 Oktober 2017

Ilmuwan berhasil regenerasi sel jantung yang rusak pada tikus

Senin, 19 Juni 2017 15:12

Tikus laboratorium (sumber: Istimewa) Tikus laboratorium (sumber: Istimewa)
Ayo berbagi!

Sebuah penelitian yang dilakukan di Weizman Institute menemukan bahwa suatu molekul yang banyak ditemukan di jaringan jantung dapat mendorong perbaikan yang cepat pada tikus laboratorium dan juga pada sel manusia.

Berdasarkan laporan dari majalah Nature , penemuan ini menawarkan harapan bagi jutaan penderita penyakit kardiovaskuler di seluruh dunia. Penelitian ini dilakukan oleh Weizman Institute bersama sejumlah lembaga ternama di Amerika Serikat dan Israel yang mempelajari protein embrionik dalam regenerasi jantung dewasa. 

Sementara regenerasi jantung pada mamalia telah diamati dalam fase sebelum lahir, nyaris mustahil ditemukan kemampuan organ tersebut memperbaiki dirinya setelah kelahiran. Kerusakan pada jantung yang muncul setelah kelahiran, seperti serangan jantung contohnya, tidak dapat diperbaiki. Yang lebih parah, bekas luka-luka akibat kerusakan pada sel jantung itu mengganti sel-sel yang sehat dengan sel bekas luka yang membebani sel jantung sehat lainnya. 

Sehingga kerusakan apapun pada jantung cenderung meningkatkan risiko bagi kerusakan tambahan hingga terjadinya gagal jantung. 

Ketika peneliti melakukan studi atas protein yang bernama Agrin, ditemukan bahwa zat ini mengatur proses regenerasi sel-sel jantung. Zat ini umum ditemukan pada jantung janin  dan dengan cepat menghilang ketika bayi telah lahir. Agrin sendiri diperkirakan terletak di antara sel-sel jantung janin itu sendiri. 

Ketika para ilmuwan mengambil Agrin dari jantung tikus yang baru lahir, mereka berhasil mengujinya dalam berbagai keadaan dengan hasil yang menggembirakan. Ketika Agrin disuntuk pada jantung yang mengalami kerusakan pada tikus dewasa, senyawa itu nampaknya dapat memulihkan kesehatan para tikus itu dalam hitungan pekan. Sebagian besar sel bekas luka juga digantikan oleh sel-sel jantung baru yang sehat. 

"Sudah jelas molekul ini memicu serangkaian proses. Kita menemukan bahwa zat itu menempel pada sebuah reseptor di sel otot jantung, dan pengikatan tersebut mengakibatkan sel menjadi lebih muda, mendekati seperti masih dalam keadaan pada janin," kata Profesor Eldad Tzahor. 

Dilaporkan bahwa penelitian lebih lanjut dengan binatang yang jauh lebih besar akan dilakukan di Jerman, bekerja sama dengan peneliti dari Technical University Munich

Menurut Badan Kesehatan Dunia, penyakit terkait jantung adalah penyebab kematian tertinggi. Pada tahun 2015 saja diperkirakan sebanyak 17.7 juta orang meninggal karena penyakit jantung. Hal ini merupakan hampir sepertiga dari kematian di dunia setiap tahunnya. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar