Kamis, 19 Oktober 2017

Semakin Banyak Penjualan Bagasi Penerbangan Indonesia-Australia

Senin, 19 Juni 2017 16:40

(Courtesy: AustraliaPlus) Sebagian penumpang menjual bagasi karena barang bawaanya tidak banyak. (Courtesy: AustraliaPlus) Sebagian penumpang menjual bagasi karena barang bawaanya tidak banyak.
Ayo berbagi!

Semakin banyak penumpang pesawat antara Indonesia dan Australia yang menjual bagasi mereka, namun apakah tindakan tersebut diperbolehkan?

Dengan adanya komunitas di sosial media seperti Facebook membuat komunikasi semakin mudah dilakukan.

Salah satunya hal yang muncul dari ketersediaan komunikasi itu adalah usaha menjual bagasi barang bawaan.

"Hi saya akan melakukan perjalanan dari Sydney ke Jakarta pada tanggal sekian. Saya masih memiliki tempat untuk 10 kg barang. Biaya titipan adalah $ 10 per kg. Saya tidak terima makanan atau obatan-obatan. Di Sydney barangnya bisa diantara ke. dan di Jakarta barangnya bisa diambil di sini..'

Demikian beberapa post yang muncul dalam akun komunitas seperti di The Rock di Sydney dan di Indonesia Business Network di Melbourne.

Setiap penumpang kelas ekonomi dari Australia ke Indonesia dan sebaliknya mendapat jatah bagasi 30 kg.

Inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh sebagian penumpang untuk mendapatkan penghasilan tambahan, mungkin untuk mengurangi biaya tiket atau juga untuk berbisnis.

Apakah tindakan penumpang membawa barang orang lain tersebut ilegal?

Manajer Garuda Indonesia di Melbourne Micky Irfandy dalam percakapan dengan wartawan ABC Australia Plus Indonesia Sastra Wijaya hari Jumat (16/6/2017) mengatakan bahwa dia baru mengetahui hal tersebut.

Namun menurutnya dari segi peraturan, tidak ada yang dilanggar oleh penumpang yang melakukan penjualan bagasi tersebut.

"Yang tidak diperbolehkan adalah pengiriman bagasi tanpa adanya penumpang yang terbang. Namun kalau ada penumpang yang membawa barang orang lain kita tidak bisa melarang." katanya.

Angelina Sukiri yang memiliki biro perjalanan Extra Travel di Melbourne mengatakan bahwa dia sudah melihat fenomena ini dimulai tahun lalu.

"Saya melihat adanya post di internet sejak tahun lalu." katanya.
Namun baik Micky Irfandy dan Angelina Sukiri mengatakan bahwa sebaiknya mereka yang ingin mengirimkan barang dari Indonesia ke Australia maupun sebaliknya menggunakan jasa resmi kargo ataupun lewat pos.

"Menurut saya dari sisi biro perjalanan, bagasi untuk dijual ini tidak aman."

"Karena kalau bagasi nya hilang juga tidak ada yang tanggung jawab. Sedangkan perusahaan jasa pengiriman barang pasti punya asuransi bernama public liability insurance yang akan melindungi barang-barang yang dikirim." kata Angelina Sukiri.

"Saran saya pengiriman barang tetap lewat courier service, atau lewat Post Australia, mereka ada pengiriman package yang murah saat ini."

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar