Kamis, 24 Agustus 2017

Para pemimpin agama dan adat dunia terjun 'melindungi lingkungan'

Selasa, 20 Juni 2017 05:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Untuk pertama kalinya para pemuka lintas agama dan pemimpin masyarakat dunia berkumpul untuk meluncurkan gerakan perlindungan hutan lewat forum Interfaith Rainforest Initiative di Oslo, Norwegia, yang dibuka Senin (19/06).

Pendekatan moral yang dilakukan para pemimpin tersebut delegasi dari berbagai negara ini diharapkan akan membantu usaha mengatasi masalah lingkungan seperti pengrusakan hutan dan perburuan satwa liar, misalnya.

Raja Norwwgia, Harald V, menghadiri pembukaan pertemuan yang antara lain didasarkan pada kekhawatiran musnahnya hutan tropis di kawasan Amerika Selatan, Afrika, dan Asia dengan seluas negara Austria setiap tahunnya.

Pemuka agama Kristen, Islam, Yahudi, Hindu, Buddha, dan Daoisme berkumpul selama tiga hari dengan pemimpin masyarakat adat untuk membahas tujuan dan aksi dalam melindungi hutan.

Delegasi Indonesia antara lain terdiri dari Dr Din Syamsuddin -Ketua Pusat Dialog dan Kerjasama Antara Peradaban- dan Abdon Nababan -Wakil Ketua Dewan Nasional Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, AMAN.

Kepada BBC Indonesia, Abdon Nababan, menjelaskan pertemuan Oslo mempertemukan agama dan masyarakat adat 'yang sama-sama berbasis keyakinan'.

"Pertemuan ini mencoba melihat prakarsa bersama ke depan, bagaimana supaya kerja sama lintas iman ini bisa menjadi kekuatan baru, di dalam percepatan penyelamatan hutan," kata wakil ketua AMAN ini.

Inisiatif ini disambut baik oleh pegiat lingkungan, Billy Lolowang, yang aktif di lapangan di wilayah Sulawesi Utara bersama lembaganya, Tasikoki.

"Suatu hal yang bagus sekali mendengar kabar bahwa ada inisiatif dari sisi keagamaan untuk bergerak juga secara aktif dalam hal pelestarian lingkungan. Hampir setiap orang di Indonesia punya agama, dan pendekatan agama juga penting dalam penyelamatan lingkungan."

Tasikoki banyak bergerak dalam upaya mengatasi pengrusakan dan penebangan hutan serta perburuan satwa liar. Dengan wilayah kegiatan di Sulawesi Utara yang sebagian besar warganya memeluk agama Kristen, Tasikoko meminta keterlibatan para pendeta dalam menyampaikan pesan-pesan pelestarian lingkungan.

Penerapan di lapangan

Salah satu hal yang akan menjadi dasar pembahasan plan of action dalam pertemuan di Oslo adalah garis perjuangan bersama, seperti dijelaskan Abdon Nababan.

"Yang akan dibicarakan adalah platform, momentum-momentum apa yang akan kita gunakan sama-sama untuk mengangkat isu bersama, bagaimana mengelola sumber daya yang ada, baik jaringan, pendanaan, dan lain-lain, sehingga kerja sama ini bisa berlangsung dengan baik."

Selama ini gereja dan ormas-ormas Islam memang sudah memiliki agenda penyelamatan hutan dan penyelesaian konflik agraris. Pemerintah Indonesia mengharapkan kelompok agama dan adat dapat membantu proses pengembalian 12,7 juta hektar ke masyarakat dalam bentuk hutan sosial atau hutan adat.

ProFauna adalah salah satu kelompok lingkungan yang sudah melibatkan kelompok agama. Pada tahun 2005, misalnya, mereka pernah mengumpulkan 34 pesantren di Indonesia namun penerapan di lapangan masih jauh dari harapan, seperti dijelaskan ketua ProFauna Rosek Nursahid,

"Itu masih sangat lemah. Tetapi ada di beberapa tempat, di beberapa daerah yang sudah mengimplementasikan. Masih tidak cukup karena kita membutuhkan sebuah gerakan di level nasional untuk betul-betul bisa menyelamatkan lingkungan yang semakin terpuruk," tambanya.

mui, hutan, haram
BBC
Pada bulan September 2016, MUI menetapkan pembakaran hutan dengan sengaja dan memfasilitasi dan membiarkan pembakaran hutan sebagai haram.

Gerakan moral

Di balik upaya gerakan yang melibatkan pemimpin agama dan masyarakat adat yang diharapkan akan bergema di tingkat masyarakat, sebenarnya masih ada pula unsur perusahaan-perusahaan besar yang tak kalah perlunya ikut berperan.

Dan gerakan bersama di kalangan masyarakat sipil, menurut Abdon Nababan, akan bisa memberi tekanan kepada perusahaan yang masih belum memperhatikan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari operasi sehar-harinya.

"Kekuatan agamawan ini bersama-sama dengan para aktivis dari masyarakat adat akan menjadi kekuatan yang pasti lebih besar dalam berhadapan dengan kekuatan uang dari perusahaan. Selama ini kan banyak perusahaan, bahkan seringnya masuk lewat agamawan," kata Abdon Nababan dari AMAN.

Tetapi Billy Lolowang mempertanyakan kekuatan pendekatan moral mengingat beberapa undang-undang yang ada selama ini -dengan sanksi hukuman dan denda- dalam kenyataannya belum efektif.

"Secara keagamaan, mau diberi sanksi apa ya. Ditakut-takuti tidak masuk surga atau ini dosa. Harapannya dengan pendekatan agama, hal itu dilarang, atau hal itu diharamkan," kata Billy dari Tasikoki.

Pada bulan September 2016, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan fatwa yang menyebut pembakaran lahan yang dapat merusak lingkungan adalah haram.

Namun Rosek Nursahid memandang Fatwa MUI tersebut masih belum memiliki kekuatan yang cukup hingga ke lapangan, khususnya pada perusahaan-perusahaan.

"Gerakan agama itu akan efektif ketika masuk kepada individu-individu. Kalau kita bicara tentang agama, maka akan bicara tentang keyakinan. Kita akan bicara moralitas, sementara moralitas itu akan susah kita terapkan di perusahaan-perusahaan."

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar