Rabu, 28 Juni 2017

Mahasiswa AS yang dibebaskan Korut dalam kondisi koma, meninggal dunia

Selasa, 20 Juni 2017 08:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Mahasiswa Amerika Serikat yang dibebaskan Korea Utara dalam keadaan koma, pekan lalu, telah meninggal dunia.

"Dengan kesedihan kami melaporkan bahwa putra kami, Otto Warmbier, telah merampungkan perjalanannya ke rumah. Dikelilingi keluarga yang mencintainya, Otto meninggal dunia hari ini pukul 14.20," sebut pernyataan keluarga Warmbier.

Sejak pulang ke AS, mahasiswa itu "tidak bisa bicara, tidak bisa melihat, dan tidak bisa bereaksi terhadap perintah verbal".

Keluarga Warmbier menuding kematian mahasiswa berusia 22 tahun itu disebabkan penyiksaan yang dia alami di Korut.

"Penyiksaan buruk yang dialami putra kami di tangan orang-orang Korea Utara memastikan tiada hasil lain yang mungkin terjadi selain peristiwa sedih yang kami alami hari ini."

Otto Warmbier dibebaskan Korut setelah divonis hukuman kerja paksa selama 15 tahun pada Maret 2016 lalu lantaran mencuri plang propaganda Korut di sebuah hotel di Pyongyang saat berkunjung sebagai turis.

Namun, ketika tiba di AS, Selasa (13/06), baru diketahui bahwa Warmbier telah berada dalam keadaan koma selama setahun terakhir.

Kepada orang tua mahasiswa berusia 22 tahun itu, Korut mengklaim bahwa putra mereka mengidap botulisme sesaat setelah menjalani persidangan pada Maret 2016. Aparat Korut kemudian mengaku kepada keluarga Warmbier bahwa pemuda itu diberi pil tidur dan dia jatuh dalam keadaan koma sejak saat itu.

Namun, tim dokter di Cincinatti, AS, menepis klaim bahwa Warmbier mengidap botulisme.

Tim dokter mengatakan Warmbier "tidak menunjukkan pemahaman bahasa" dan "kehilangan sel saraf secara ekstensif" yang amat mungkin disebabkan oleh terhentinya fungsi jantung-paru

"(Kondisi Warmbier) bukan sesuatu yang biasa kami lihat pada cedera trauma otak. Jenis ini yang terjadi pada penghentian fungsi jantung-paru," kata Kanter.

Berdasarkan pemindaian di Pusat Medis Cincinnati awal pekan ini, tim dokter mengatakan bahwa tiada bukti Warmbier disiksa secara fisik selama ditahan.

Menanggapi kematian Warmbier, Presiden AS Donald Trump mengatakan peristiwa itu menguatkan tekad pemerintahannya "untuk mencegah tragedi semacam itu menimpa orang-orang tak berdosa akibat tangan-tangan rezim yang tidak menghormati aturan hukum dan martabat manusia."

"Amerika Serikat sekali lagi mengecam kebrutalan rezim Korea Utara selagi kami berkabung korban terkini rezim tersebut," kata pernyataan resmi presiden.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar