Rabu, 13 Desember 2017

Cerita sepak terjang Maute bersaudara di Marawi, Filipina

Selasa, 20 Juni 2017 14:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
maute
AFP/Getty Images
Abdullah Maute (berdiri) menunjuk peta dalam pertemuan dengan Isnilon Hapilon (kedua dari kiri), yang merupakan pemimpin kelompok Abu Sayyaf. Foto ini didapat militer Filipina.

Sepak terjang kakak beradik Omarkhayam dan Abdullah Maute di Marawi, Filipina selatan, dimulai bertahun-tahun lalu.

Setelah lulus dari SMA Kristen Dansalan College, Maute bersaudara menempuh studi di Timur Tengah.

Menurut Sidney Jones, selaku direktur Institute for Policy Analysis of Conflict di Jakarta, serta Rommel Banlaoi, yang menjabat Philippine Institute for Peace, Violence and Terrorism Research di Manila, kakak beradik tersebut berbeda jurusan.

Omarkhayam menuju Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, sedangkan Abdullah ke Yordania. Dalam periode inilah, menurut Jones, Maute bersaudara mengalami proses radikalisasi.

marawi
AFP/Getty Images
Warga sipil Kota Marawi mengungsi dengan mengusung bendera putih.

Selang 10 tahun kemudian, kata Banlaoi, mereka kembali ke Mindanao dan mendapat arahan dari Ustadz Sanussi asal Indonesia. Melalui jejaring pria yang belakangan menjadi buronan inilah, Maute bersaudara dapat menjalin kontak dengan sejumlah milisi Asia Tenggara, seperti pembuat bom asal Malaysia, Zulkifli bin Hir.

Status sosial keluarga Maute yang merupakan bagian dari kaum elite Mindanao menambah kuat posisi Omarkhayam dan Abdullah. Ayah mereka merupakan seorang insinyur dan ibu mereka terlibat dalam konstruksi dan properti Mindanao.

Bahkan, menurut Banlaoi, keluarga Maute punya hubungan darah dengan para petinggi Front Pembebasan Mindanao (MILF).

"Koneksi-koneksi ini memberikan semacam perlindungan kepada kelompok tersebut," ujar Banlaoi kepada kantor berita AFP.

Sejak konflik di Marawi meletus, ayah dan ibu Maute telah ditangkap. Aparat menyebut penangkapan ibu Maute sangat penting karena dia diduga menjadi penyokong dana kelompok tersebut.

Bahkan, kata Banlaoi, ketujuh putra keluarga Maute terlibat dalam konflik di Marawi.

marawi
AFP/Getty Images
Militer Filipina mengerahkan serdadu untuk menumpas kelompok Maute di Marawi.

Kelompok kecil

Pada 2012, kelompok Maute muncul sebagai kelompok kecil dalam pemberontakan milisi Muslim Mindanao. Seiring berkembangnya popularitas kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam atau ISIS di Suriah dan Irak, kelompok Maute turut naik kelas.

"Saya kira yang membuat kelompok Maute dari kumpulan kerabat menjadi ancaman militer serius adalah kemunculan ISIS di Timur Tengah," terang Sidney Jones.

Sekutu utama kelompok Maute adalah Isnilon Hapilon, pemimpin kelompok Abu Sayyaf di Mindanao. Oleh ISIS, Hapilon dijadikan pemimpin di Filipina dan diyakini berada di Marawi bersama Maute bersaudara.

Akan tetapi, Sidney Jones mengatakan kepemimpinan ISIS di Filipina telah beralih dari Hapilon ke Maute bersaudara lantaran mereka praktis mengendalikan Marawi.

Sebuah rekaman video yang diperoleh militer Filipina menunjukkan Abdullah Maute berdiri dan memberikan instruksi aksi serbuan, sementara Hapilon duduk dan mendengarkan.

Menurut Jones, Maute bersaudara berhasil menjadikan Filipina selatan sebagai basis ISIS sekaligus memikat milisi asing dari Chechnya, Libia, Indonesia, dan Malaysia.

"Sejauh ini semua orang risau dengan ancaman milisi asing yang pulang dari Suriah dan Irak. Namun, tiba-tiba ancaman yang lebih besar justru datang dari milisi asing yang datang ke Mindanao dan tidak pernah menginjakkan kaki di Timur Tengah."

"Marawi telah menjadi tujuan baru untuk berjihad."

marawi
Reuters
Kota Marawi dihujani gempuran militer Filipina.

Asal kebencian

Hingga kini, orang-orang Mindanao tidak habis pikir bagaimana Maute bersaudara bisa menjadi begitu radikal.

Selang 20 tahun setelah lulus dari SMA Kristen Dansalan College, Omarkhayam dan Abdullah Maute membawa bendera ISIS dan membakar almamater mereka.

"Kami tidak paham dari mana kebencian mereka berasal," kata Zia Alonto Adiong, seorang anggota parlemen daerah di Mindanao.

Duma Sani, mantan dekan di Universitas Mindanao, memiliki putri yang satu angkatan dengan Maute bersaudara di sekolah. Menurutnya, warga setempat tidak mendukung ideologi yang diusung Omarkhayam dan Abdullah Maute.

"Orang-orang ini adalah anak muda yang punya pemahaman sendiri soal Al-Quran dan tidak menghormati sesepuh mereka," kata Sani kepada AFP.

Belum diketahui keberadaan Maute bersaudara. Mereka diyakini masih berada di kawasan Marawi dengan dilindungi jaringan terowongan dan ruang bawah tanah yang bisa menahan gempuran militer Filipina.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar