Jumat, 24 November 2017

Peringatan setahun upaya kudeta Turki: Erdogan menyerukan 'bela bangsa'

Minggu, 16 Juli 2017 10:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
turki
Chris McGrath/Getty
Erdogan mengatakan: "Orang-orang pada malam itu tidak memiliki senjata api, mereka memiliki bendera dan yang lebih penting lagi, mereka memiliki keyakinan."

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menyampaikan pidato yang penuh emosional di hadapan puluhan ribu orang di Istanbul pada peringatan setahun kudeta yang gagal.

Erdogan mengatakan: "Orang-orang pada malam itu tidak memiliki senjata api, mereka memiliki bendera dan yang lebih penting lagi, mereka memiliki keyakinan."

Dia menyatakan mendukung hukuman mati terhadap orang-orang yang berkomplot melakukan kudeta dan mengatakan mereka harus berseragam ala tahanan Guantanamo.

Sekitar 250 orang tewas dan 2.196 orang terluka dalam upaya kudeta yang dilakukan faksi militer pada 15 Juli tahun lalu.

Sejak saat itulah, Pemerintah Turki telah memecat lebih dari 150.000 pegawai negeri, dengan alasan untuk menyingkirkan orang-orang yang mendukung kudeta.

turki
EPA
Puluhan ribu warga Turki memadati jembatan Boshporus yang setahun lalu dijadikan lokasi menolak upaya kudeta.

Tetapi para pengkritik mengatakan pemecatan itu, dan gelombang penangkapan terhadap 50.000 orang lainnya, merupakan upaya membungkam perbedaan pendapat.

Erdogan berpidato di hadapan puluhan ribu pendukungnya yang memadati jembatan di atas selat Bosphorus, sebuah lokasi yang dijadikan simbol saat warga sipil menghadapi tentara pendukung kudeta setahun lalu.

Dia berkata: "Saya bersyukur kepada semua rakyat saya yang membela negara mereka."

Erdogan mengatakan 250 orang tewas dalam upaya kudeta itu, namun menurutnya negara Turki telah memenangkan masa depannya.

"Kehadiran massa yang memenuhi jembatan pada malam itu ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka telah memegang kendali," katanya, dan kemudian diimbangi oleh "jutaan orang lainnya yang turun ke jalan pada malam itu untuk mempertahankan kehormatan bangsanya".

Dia mengatakan bahwa dia akan "mematahkan kepala para pengkhianat" yang merencanakan kudeta tersebut.

turki
Sean Gallup/Getty
Pendukung Erdogan yang memadati jembatan Martir di atas selat Bosphorus, Turki.

Erdogan juga mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan Perdana Menteri Binali Yildirim tentang komplotan kudeta tersebut. Dia mengatakan: "Ketika mereka muncul di pengadilan, ayo kita tampilkan mereka dengan seragam ala Guantanamo."

Di atas jembatan, Presiden kemudian memimpin doa bersama para 'martir bagi orang-orang yang tewas akibat upaya kudeta itu. Jembatan itu sendiri telah berganti nama menjadi Jembatan Martir sejak 15 Juli.

Usai berpidato di hadapan massa, Erdogan kembali ke Ankara untuk berbicara di gedung parlemen, yang setahun lalu menjadi salah-satu sasaran serangan oleh komplotan kudeta.

turki
Sean Gallup/Getty
Puluhan ribu warga Turki memadati jembatan di atas selat Bosphorus yang setahun silam dijadikan lokasi simbol perlawanan terhadap upaya kudeta.

Setelah itu, Presiden direncanakan meresmikan monumen korban kudeta di istana negara. Pemerintah juga telah menetapkan tanggal 15 Juli sebagai hari libur nasional.

Pemerintah Turki menuduh gerakan pengikut setia ulama Fethullah Gulen yang melakukan plot untuk menggulingkan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Juli 2016 lalu.

Gulen, yang berada di Amerika Serikat, membantah keterlibatannya. Washington sejauh ini menolak tuntutan dari pemerintah Turki untuk mengekstradisi ulama itu.

Menurut wartawan BBC Mark Lowen, ingatan akan upaya kudeta setahun lalu membelah negara itu. Sebagian melihatnya sebagai kelahiran kembali Turki, namun yang lain tidak melihatnya seperti itu.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar