Rabu, 20 Juni 2018 | 01:30 WIB

Daftar | Login

Banner Lebaran Banner Lebaran
Top header banner

/

Para pengungsi Rohinya tinggal berjejalan di kamp Bangladesh

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
BBC Indonesia
BBC Indonesia
<p>Di wilayah tak lebih dari dua kilometer persegi saja terdapat 20.000 pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar di Leda, Teknaf, Cox's Bazar, wilayah pesisir Bangladesh selatan.</p><p>Inilah salah satu kamp di Bangladesh untuk pengungsi Rohingya, yang melarikan diri dari Myanmar karena mengaku mengalami penindasaan, diskriminasi, dan kekerasan di negara bagian Rakhine, tempat kelompok minoritas Rohingya ini tinggal. </p><p>Letak geografis yang hanya dipisahkan oleh Sungai Naf menjadikan Bangladesh sebagai salah satu tujuan utama pelarian orang-orang Rohingya. Oleh sebab itu, jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh diperkirakan melebihi angka 400.000 orang. </p><p>Sebagian besar mereka menempati kamp-kamp di Distrik Coz's Bazar, wilayah terdekat dengan Rakhine.</p><p>Di Kamp Leda, barak terbuat dari dinding bambu dan atap dari daun pinang ditambal dengan terpal. Adapun lantainya adalah tanah semata. Tungku tanah liat beserta beberapa peralatan dapur, bumbu, tikar tidur dan pakaian menyatu dalam satu ruang. Di musim hujan seperti pertengahan tahun sekarang, angin kencang kerap membuat atap-atap beterbangan.</p><p>&quot;Dua keluarga tinggal bersama dalam satu petak barak tidaklah mudah, khususnya menyangkut makanan dan ruang gerak. Tidak ada ruang untuk bergerak. Ada pula masalah sanitasi. Semuanya menjadi masalah,&quot; ungkap Khadija, salah seorang pengungsi Rohingya.</p> <ul> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38202191">Ikut demonstrasi Rohingya, PM Malaysia Najib Razak dikecam</a></li> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38768882">Rohingya di Myanmar: Kebenaran, kebohongan dan Aung San Suu Kyi</a></li> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40271182">Laporan dari Bangladesh: Bulan puasa, pengungsi Rohingya andalkan bantuan</a></li> </ul><p>Khadija, 25 tahun, punya dua putra masing-masing berusia tiga tahun kelahiran Myanmar, dan putra bungsunya, tujuh bulan, lahir di barak ini tepat 15 hari hari setelah tiba di Bangladesh pada November 2016, menyusul operasi militer di negara bagian Rakhine bulan sebelumnya.</p><p>&quot;Air bersih terbatas. Setiap hari kami dapat dua ember air, jika ada cukup air maka anak-anak saya bisa mandi. Saya mandi sekali seminggu dan membawa air dari tempat penampungan yang agak jauh. Kalau suami sedang di rumah maka ia mengambil air.&quot;</p><h3>Akses kesehatan</h3><p>Khadija berbagi barak dengan bibinya yang juga punya anak berkebutuhan khusus. Praktis di barak ini hanya dihuni perempuan dan anak-anak karena suami Khadija buruh di kota dan tidak setiap minggu pulang. </p><p>Keberadaan anak kecil tampak di mana-mana, sebagian tak berpakaian dan sebagian berpakaian lusuh tanpa alas kaki pula walaupun lingkungan tempat tinggal becek. </p><p>Keputusan politik Myanmar, yang mayoritas penduduknya Buddha, sejauh ini belum ada terkait pemecahan status Rohingya. </p><p>Di Myanmar, kelompok minoritas beragama Islam itu tidak diakui sebagai warga negara tetapi dianggap sebagai pendatang asal Bangladesh meskipun mereka telah hidup di Myanmar secara turun temurun. Myanmar tidak mengenal istilah Rohingya dan menggunakan sebutan 'orang-orang Bengali'.</p><p>Di Bangladesh, mereka juga tidak dianggap sebagai warga negara. </p><p>Menurut Bank Dunia, negara itu baru saja masuk kategori pendapatan menengah ke bawah dengan pendapatan per kapita antara US$1.006 dan US$3.955 (sekitar Rp13,5 juta-53 juta), status yang sudah diduduki Indonesia sejak 1990-an. </p><p>Kondisi ekonomi itu tak membantu memudahkan pemerintah setempat dalam mengurus pengungsi, kata Bupati Cox's Bazar, Mohammad Ali Hossain.</p><p>&quot;Negara kami tidak kaya. Rata-rata penghasilan kami sangat rendah tetapi kami kesulitan mengubah nasib kami. Sumber daya di daerah-daerah terutama Cox's Bazar, tidak cukup. Sebagian besar kawasan terdiri dari hutan dan perbukitan. Lingkungan setempat dirusak oleh orang-orang ini, pohon-pohon dan kawasan perbukitan rusak dan oleh karenanya lingkungan kami tercemar.&quot;</p><p>Selain lingkungan, lanjutnya, layanan kesehatan juga digunakan di luar kapasitas. </p><p>&quot;Bahkan fasilitas kesehatan kami begitu terbatas. LSM setempat dan LSM asing menyediakan sebagian bantuan tetapi tak cukup sehingga satu persoalan menimbulkan masalah lain yang kami hadapi,&quot; tegas Mohammad Ali Hossain dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di Cox's Bazar.</p><h3>Perawatan untuk luka di Myanmar</h3><p>Masalah sanitasi dan kesehatan menjadi prioritas mendesak terutama di musim hujan seperti sekarang.</p><p>&quot;Mereka sangat rentan, mereka terusir dari negara lain. Mereka tinggal di penampungan sementara jadi terdapat banyak persoalan kesehatan seperti layanan ibu melahirkan, penyakit-penyakit umum, seperti penyakit kulit, kekurangan air, rumah yang terkontaminasi,&quot; kata Koordinator Kesehatan Organisasi Migrasi Internasional (IOM), dr Niranta Kumar Dash. </p><p>Di samping itu, lanjut dr Dash, banyak di antara mereka masih perlu perawatan rutin karena luka-luka yang mereka alami di Myanmar.</p><p>&quot;Banyak pula yang mengalami cedera akibat berjalan di kawasan perbukitan dan sebagian mengalami luka akibat kekerasan di Myanmar sehingga mereka mengalami luka potong lebih dari satu,&quot; jelasnya dalam wawancara di pusat kesehatan kamp pengungsi Leda, Teknaf.</p><p>Skala persoalan kesehatan itu terlihat jelas dari jumlah pasien yang mengantre untuk mendapatkan perawatan. Rata-rata pusat kesehatan IOM yang dijalankan oleh hanya 33 staf, mulai dari tingkat satpam hingga dokter, tersebut menangani 400-500 pasien setiap hari. ***</p><p><em>Tulisan ini adalah bagian dari laporan </em><em>1</em><em>7 Juli</em><em> dan dalam acara radio Liputan Khas BBC Indonesia mulai Kamis, 29 Juni, dalam siaran pukul 05:00 WIB. </em></p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aplikasi | 19 Juni 2018 - 20:52 WIB

Instagram akan hadirkan fitur pelacak aktivitas

Aplikasi | 19 Juni 2018 - 20:39 WIB

YouTube Music dan YouTube premium telah resmi dirilis

Megapolitan | 19 Juni 2018 - 20:28 WIB

Jokowi berikan jaket olahraga ke pengunjung KRB

Aktual Dalam Negeri | 19 Juni 2018 - 19:48 WIB

Sistem buka-tutup diberlakukan di Jalur Nagreg

Arestasi | 19 Juni 2018 - 19:37 WIB

Polres Sukabumi tangkap tiga pelaku pembunuhan

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com