Jumat, 24 November 2017

Perempuan 61 tahun tewas ditembak, krisis di Venezuela terus berlanjut

Senin, 17 Juli 2017 12:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
Venezuela
CARLOS BECERRA/AFP
Dua orang aparat keamanan mencegat seorang pendemo di Caracas, Venezuela, 10 Juli lalu.

Seorang perawat berusia 61 tahun tewas akibat tertembak saat menunggu untuk memberikan suara dalam referendum tidak resmi yang digelar kelompok oposisi di ibu kota Venezuela, Caracas.

Seorang pria bersepeda motor menembaki sejumlah orang yang tengah antri, sehingga menewaskan perempuan itu serta melukai tiga orang lainnya.

Pihak oposisi menuduh kelompok "paramiliter" sebagai pelaku, sementara video yang diambil dari tempat kejadian menunjukkan orang-orang berlarian menjauh dari arah tembakan. Banyak diantaranya melarikan diri ke gereja.

Insiden penembakan ini merupakan lanjutan dari krisis di Venezuela, dan lebih dari 100 orang tewas dalam bentrokan politik sejak April lalu.

Komentar oposisi

Juru bicara kelompok oposisi, Carlos Ocariz mengomentari kasus penembakan dan mengatakan: "Kami meratapi kejadian itu, dengan rasa sakit yang tak terkira."

Kejaksaan Venezuela mengatakan akan menyelidiki insiden tersebut, sementara sejumlah laporan menyebut perempuan itu bernama Xiomara Soledad Scott.

Venezuela
JUAN BARRETO/AFP
Warga Venezuela yang menentang kebijakan pemerintahan Maduro. Dan juru bicara kelompok oposisi, Carlos Ocariz mengomentari kasus penembakan dan mengatakan: "Kami meratapi kejadian itu, dengan rasa sakit yang tak terkira."

Dia meninggal beberapa menit setelah tiba di rumah sakit.

Secara terpisah, seorang jurnalis Luis Olavarrieta telah diculik, dirampok dan dipukuli oleh sekelompok orang. Tetapi dia berhasil melarikan diri dan sejumlah foto yang beredar memperlihatkan dirinya tengah dirawat di rumah sakit.

Komentar Nicolas Maduro

Bagaimanapun, sebuah pemungutan suara resmi akan digelar pada 30 Juli untuk pembentukan majelis baru, yang memiliki kekuatan menyusun konstitusi yang baru dan membubarkan institusi negara.

Venezuela
EPA
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menggambarkan pemungutan suara tidak resmi itu "tidak berarti".

Namun para kritikus menganggap majelis baru tersebut sebagai tindakan yang mengarah kepada pada kediktatoran.

Para politisi oposisi kemudian menggelar jajak pendapat tidak resmi pada Minggu, dengan mendirikan tempat pemungutan suara di bioskop, lapangan olah raga dan alun-alun di Venezuela. Jajak pendapat ini juga digelar di lebih dari 100 negara di seluruh dunia.

Namun demikian, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menggambarkan pemungutan suara tidak resmi itu "tidak berarti".

"Mereka melakukan konsultasi hanya dengan partai-partai oposisi, dengan mekanisme mereka sendiri, tanpa mengikuti aturan pemilu, tanpa verifikasi terlebih dahulu. Seolah-olah mereka otonom dan memutuskan sendiri," katanya.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar