Senin, 23 Oktober 2017

Nasib petani tebu kian terpuruk imbas PPN dan HET naik

Rabu, 09 Agustus 2017 16:36

Foto: Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono Foto: Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono
Ayo berbagi!

Perwakilan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di bawah koordinator Sunardi Edy Sukamto mendatangi menteri keuangan RI Srimulyani guna menindaklanjuti persoalan PPN gula.

Disampaikan Edy Sukamto kedatangan bertemu menteri keuangan sangat mengecewakan karena jadwal Srimulyani sangat padat melakukan rapat dengan IMF sehingga agenda bertemu menteri khirnya temui sekretarisnya bernama Ferry dan staf ahli Awan.

Dijelaskan Edi Sukamto pertemuannya dengan sekertaris dan staff Srimulyani menyampaikan bahwa apa yang menjadi keinginan petani bahwa gula tebu petani bebas PPN atas penyerahan dari petani ke pedagang sampai ke konsumen akhir tidak kena PPN atau terhutang PPN dan tinggal nunggu tanda tangan ibu Srimulyani sebagai Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Keinginan petani dipaparkan Edi Sukamto jika hal itu terwujud "Ini menjadi berita gembira dan diharapkan segera keluar dalam minggu ini karena nafas petani tebu udah di tenggorokan sekarat semua, situasi ini menjadi momok berkempanjangan", ujarnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.

Ditengah persoalan petani tebu rakyat indonesia yang luar biasa satu belum kelar muncul lagi dampak tata niaga dari kementerian perdagangan yang menetapkan HET rendah dan  perdagangan antar pulau salah kaprah karena di saat panen raya ini justru gula petani tidak laku di jual dan pedagang engan membeli gula.

"Bagaimana tidak parah republik ini gula belum swasembada hampir 60 presen masih impor namun gula produksi dalam negeri GKP tidak bisa di jual karena perdagangan antar pulau tidak bisa dilakukan dan ternyata luar jawa penuh dengan gula rafinasi dan gula tidak berkelamin" ungkap Edi dengan nada meninggi.

"Jawa sebagai besik penghasil gula tidak bisa jual gula keluar pulau sedangkan hampir 60 prosen produksi nasional gula GKP yang  dihasilkan pabrik gula di pulau jawa dari para petani tebu, dengan situasi sulitnya jual gula otomatis pedagang sudah tidak mampu membeli gula baik milik petani maupun PG," kata Edi.

Keberadaan petani tebu terhimpit biaya harus bayar operasional tenaga kerja buruh angkutan dan lain-lain terpaksa jual gula murah hingga tembus harga Rp8.900 perkilogram hal ini seperti pribahasa "Sudah jatuh tertimpa tangga".

Kata Edi jika dalam waktu dekat persoalan ini tidak segera di urai oleh menteri perdagangan maka petani merugi tidak akan tanam tebu lagi, pabrik akan tutup dan BUMN dipastikan rugi, penggangguran semakin banyak.

Tanya Edi Sukamto "Apakah situasi ini yang di kehendaki oleh menteri perdagangang dan menteri terkait atas persoalan pergulaan yang penuh dengan mainan politik dengan mengorbankan rakyatnya sendiri sebagai petani

Ancaman petani tebu kata Edi Sukamto "Hari ini rekan kita di Jawa Barat demo buang gula ke jalan di kantor perdagangan Jawa Barat karena gula tidak laku apakah nunggu semua petani turun ke jalan untuk memperlihatkan kinerja pembantu presiden yang dianggap tidak becus mengurus bangsa dan rakyat. Disaat bangsa Ultah ke-72 teriak "Merdeka100 kali" ternyata rakyat petani khususnya tebu rakyat Indonesia sangat menderita (koma) dan menghadapi persoalan yang sangat serius.

"Gula tidak laku krn tidak bisa jual HET rendah ... Rendemen bagi hasil gual di bawah tujuh rendah sedangkan fasilitas kredit sulit,  pupuk subsidi susah dan sangat terbatas," pungkas Edi.

Penulis: Andi Juandi

Editor: Sigit Kurniawan.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar