Rabu, 20 Juni 2018 | 14:57 WIB

Daftar | Login

Banner Lebaran Banner Lebaran
Top header banner

/

Jusuf Kalla: Kita tidak ingin ciptakan bangsa kerdil

Sabtu, 28 Februari 2015 - 19:20 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Wakil Presiden Jusuf Kalla
Wakil Presiden Jusuf Kalla
<p>Wakil Presiden, Jusuf Kalla, mengatakan, pemerintah tidak ingin menciptakan bangsa yang kerdil sehingga terus berupaya memperbaiki gizi bayi dan balita dengan harapan ke depan tidak ada lagi anak-anak dengan pertumbuhan badan kerdil (<i>stunting</i>).</p><p> "Kita membicarakan masa depan bangsa karena masa depan itu tergantung kelahiran bayi kemudian kesehatannya. Kita tidak ingin menciptakan bangsa yang kerdil, karena itu ini perlu diperbaiki," kata dia, usai memimpin rapat pleno lanjutan untuk penanganan masalah anak bertubuh kerdil, di Jakarta, Rabu (9/8).</p><p> Hadir dalam rapat itu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro.</p><p> Juga hadir Menteri Sosial, Khofifah Parawansa, Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, serta Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Sandjojo.</p><p> Puan mengatakan, saat ini pemerintah berupaya menggalakkan kembali program gizi seimbang yang melibatkan 12 kementerian dan lembaga.</p><p> "Harapannya ke depan tidak ada lagi anak kerdil, dan yang terpenting gizi untuk anak-anak itu bisa kita antisipasi bahwa makanan yang mereka makan memang cukup gizinya dan kita sesuaikan dengan kearifan lokal, misal karbohidrat tidak hanya beras saja," ujar dia.</p><p> Pemerintah telah berkomitmen untuk menangani masalah anak bertubuh kerdil. Anak bertubuh kerdil adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.</p><p> Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, atau dalam 1.000 hari pertama kehidupan. </p><p>Tetapi tubuh kerdil baru nampak setelah anak berusia dua tahun. Kekerdilan ini berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan penurunan produktivitas.</p><p> Berdasarkan Riskerdas Kementerian Kesehatan pada 2013, sekitar 37 persen atau kurang lebih 9 juta anak balita di Indonesia bertubuh kerdil.</p><p> Anak-anak dengan masalah tubuh kerdil ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan lintas kelompok pendapatan. Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lain.</p><p> Indonesia berada pada kelompok negara dengan kondisi tubuh kerdil terburuk, dengan kasus tubuh kerdil pada balita dan anemia pada perempuan dewasa bersama 47 negara lain, termasuk Angola, Burkina Faso, Ghana, Haiti, Malawi, Nepal, dan Timor Leste. (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 20 Juni 2018 - 14:47 WIB

Kecelakaan mudik lebaran 2018 turun 46 persen

Aktual Dalam Negeri | 20 Juni 2018 - 14:37 WIB

Posko Bakauheni catat 386.676 orang telah diberangkatkan ke Merak

Musibah | 20 Juni 2018 - 14:25 WIB

Tim gabungan temukan koordinat lokasi KM Sinar Bangun

Aktual Dalam Negeri | 20 Juni 2018 - 14:12 WIB

Kapolri imbau pemudik tidak balik berbarengan

Aktual Dalam Negeri | 20 Juni 2018 - 14:05 WIB

Kebakaran hutan pinus, jalur pendakian di Gunung Lawu ditutup

Aktual Dalam Negeri | 20 Juni 2018 - 13:55 WIB

Kertasari hingga Cawang, one way terpanjang dalam sejarah Indonesia

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com