Senin, 23 Oktober 2017

Tim PPA Provinsi Jateng turun tangan dalam kasus bullying siswi

Rabu, 09 Agustus 2017 20:57

Foto: Kontributor Elshinta, Sutini. Foto: Kontributor Elshinta, Sutini.
Ayo berbagi!

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan monitoring terkait kasus kekerasan yang menimpa anak SD di Kudus. Di mana tim dari provinsi tersebut mendatangi sejumlah instansi untuk mengumpulkan data dan informasi sebab selama ini data yang dimiliki berbeda. Hasil investigasi tersebut akan menjadi acuan untuk mengambil langkah.

Analis Perlindungan Anak dari Dinas PPPA Dalduk KB Provinsi Jateng, Isti Ilma Patriyani mengatakan, sebenarnya kedatangan mereka ke Kudus untuk melakukan monitoring rutin terhadap daerah-daerah yang dianggap rawan terjadi kasus kekerasan anak. Data yang ada Kabupaten Kudus masuk kategori yang harus dimonitoring. Ditambah lagi mencuatnya kasus bullying siswi SD oleh teman-teman sekelasnya, sehingga membuat tim berkeinginan mencari akar permasalahan. Sebab kasus bullying di Kudus sudah kategori mengkhawatirkan.

Dikatakan Ilma, menindaklanjuti kasus tersebut pihaknya telah membuat rekomendasi ke pihak Dinsos maupun Pemkab Kudus diantaranya, segera merapatkan barisan terkait penangganan anak dengan lintas sektoral. Selain juga menyarankan untuk memperbanyak upaya pencegahan.

"Apa yang dilakukan anak-anak pasti ada penyebabnya, kalau pola pengasuhan yang salah maka perlu adanya edukasi dimasyarakat", tuturnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini.

Ilma menganggap kasus bullying yang terjadi di Kudus merupakan kesalahan bersama sehingga dibutuhkan dukungan semua pihak. Baik itu keluarga, sekolah maupun masyarakat untuk melakukan evaluasi. "Sekolah maupun orang tua harus lebih meningkatkan pengawasan agar kasus seperti ini tidak terjadi. Semua harus diedukasi mengenai bentuk-bentuk kekerasan anak, sehingga ketika terjadi sesuatu dapat dibedakan, antara kenakalan anak-anak maupun kekerasan", ucapnya.

Anggota Pusat Study Gender Universitas Muria Kudus Hidayatullah menjelaskan dari sisi hukum kasus yang terjadi di salah satu SD di Gebog Kudus sudah kategori kekerasan terhadap anak bukan kenakalan anak pada umumnya. Sehingga kasus seperti ini harus ditanggani secara tuntas baik dari sisi penegakan hukum maupun sisi psikologisnya. Sebab anak-anak baik korban maupun pelaku butuh pendampingan.

"Sebenarnya kami siap berkontribusi membantu pendampingan namun sepertinya Disdikpora menganggap kasus tersebut sudah selesai", ujarnya.

Dikatakan Hidayatullah, pihaknya berharap kasus ini tidak diintervensi terutama anak-anak yang hari ini, penyidik Polres Kudus melakukan penyidikan terhadap mereka di UPT setempat, padahal seharusnya tim pendamping telah menyediakan para psikolog maupun ruang khusus agar membuat anak-anak tidak ketakutan.

Sementara itu dapat kekerasan terhadap siswi kelas IV berinisial AR (8) tahun dilakukan oleh 9 orang temannya sejak mereka masih kelas III, namun yang paling parah sehingga berujung pelaporan ke Polres Kudus terjadi pada tanggal 19 Juli saat jam pelajaran kosong, AR dibully dengan cara diinjak-injak, ditindih kursi kemudian kemaluannya dimasukan penggaris besi.

Penulis: Andi Juandi

Editor: Sigit Kurniawan

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar