Rabu, 18 Oktober 2017

Petani kopi di lereng Muria gelar tradisi wiwit kopi

Rabu, 09 Agustus 2017 21:54

Foto: Kontributor Elshinta, Sutini. Foto: Kontributor Elshinta, Sutini.
Ayo berbagi!

Tradisi wiwit kopi merupakan tradisi yang menandai dimulainya panen kopi. Tradisi tersebut dilakukan oleh para petani pegunungan Muria Kudus, Jawa Tengah setiap memasuki musim panen kopi, sebagai ungkapan rasa syukur atas melimpahnya hasil panen kopi.

Ratusan petani kopi warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus secara bersama-sama membawa nasi kenduri dengan lauk ingkung ayam ke ladang kopi yang akan di panen. Kali ini para petani memilih lokasi kebun kopi yang dikelola Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) Muria. Ada sekitar 900 hektar tanaman kopi yang ditanam oleh para petani dihutan lindung milik Perhutani.

Ketua PMPH Muria, Shokib Garno Sunarno mengaku jika panen kopi tahun ini cukup bagus, karena faktor cuaca yang mendukung selain juga harga kopi dipasaran cukup tinggi. Untuk luasan kopi di lereng Muria ada sekitar 900 hektar namun sebagian tanaman kopi merupakan peremajaan sehingga belum berbuah.

Shokib yang tahun lalu menerima penghargaan Kalpataru atas keberhasilannya melestarikan hutan Muria menuturkan, keberadaan tanaman kopi dikawasan Muria selain membantu menjaga kelestarian hutan lindung, karena ditanam disela-sela pohon-pohon utama juga sekaligus meningkatkan perekonomian warga.

"Kami bina para petani untuk mengelola kebun kopi menjadi tempat wisata, sehingga kini banyak orang yang berwisata trekking ke kebun kopi, sekaligus menikmati kopi dikedai para petani", ucapnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini.

Sementara itu, Bupati Kudus Musthofa yang hadir dalam kegiatan wiwit kopi mendukung pemanfaatan kebun kopi yang dikelola PMPH untuk menjadi lokasi wisata yang dapat meningkatkan kesejahteraan para petani.

Bupati meminta OPD terkait juga membantu para petani dalam mengoptimalkan hasil panen kopi. Sejak dari panen hingga proses pengemasan bahkan pemasaran agar kopi Muria dapat dilaku dipasaran.

Ada tiga OPD yang diminta memfasilitasi. Yakni Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Perdagangan. Ketiganya memiliki peran secara teknis mengoptimalkan hasil pertanian dan wisata dikebun kopi tersebut.

"Objek-objek wisata yang ada disekitar kebun kopi harus diberdayakan, guna menunjang pemasaran kopi robusta hasil dari Muria ini," imbuhnya.

Dalam acara wiwit kopi, para petani yang membawa nasi kenduri dengan lauk ingkung ayam, setelah didoakan oleh pemuka agama dimakan secara bersama-sama. Acara dilanjutkan dengan memetik buah kopi sebagai simbol mengawali panen raya kopi.

Sementara itu, menurut para petani, panen kopi dalam setahun hanya dilakukan sekali dengan puncak panen yakni pada Agustus. Di mana panen kali ini hasilnya melimpah setelah tahun lalu mengalami kegagalan karena cuaca yang tidak mendukung.

Penulis: Andi Juandi

Editor: Sigit Kurniawan.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar