Senin, 23 Oktober 2017

Lagi, Presiden Jokowi `komentari` soal diktator

Kamis, 10 Agustus 2017 06:58

Presiden Jokowi didampingi Gubernur Jateng dan Walikota Solo menjawab wartawan usai meresmikan Museum Keris Nusantara Surakarta, di Jalan Bhayangkara, Surakarta, Rabu (9/8) siang. Foto: Setkab Presiden Jokowi didampingi Gubernur Jateng dan Walikota Solo menjawab wartawan usai meresmikan Museum Keris Nusantara Surakarta, di Jalan Bhayangkara, Surakarta, Rabu (9/8) siang. Foto: Setkab
Ayo berbagi!

Presiden Joko Widodo kembali "mengomentari" tentang diktator yang belakangan ini kata-katanya sering mencuat. Presiden Jokowi mengaku tidak habis mengerti, karena pada awal-awal memimpin dirinya dikatakan ndeso dan klemar-klemer, tidak tegas. Namun saat ingin menegakkan Undang-Undang (UU), menegakkan hukum, kata dia, justru dirinya disebut menjadi otoriter, menjadi diktator.

“Yang benar yang mana?,” kata Presiden Jokowi dengan nada bertanya saat menjawab wartawan usai meresmikan Museum Keris Nusantara Surakarta, di Jalan Bhayangkara, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (9/8).

Dilansir Setkab, Presiden menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang demokratis, dan masing-masing lembaga mempunyai peran sendiri-sendiri.

“Mana yang mengontrol, mana yang mengawasi, mana yang melaksanakan program-program yang ada," ujarnya.

"Eksekutif misalnya dan lembaga-lembaga yang lain yang ada, lembaga negara yang ada, juga ada pers, media, ada lembaga swadaya masyarakat ada. Ada masyarakat itu sendiri. Semuanya mengawasi,” terang Presiden.

Presiden kembali menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang demokratis, yang itu dijamin oleh konstitusi, dan tidak akan ada yang namanya diktator dan otoriter.

“Tidak akan ada yang namanya diktator dan otoriter. Tidak akan ada,” tandas dia.

Sebelumnya, Presiden Jokowi juga mengatakan bahwa dalam konstitusi RI, tak ada satu pun institusi yang mempunyai kekuasaan diktator. Konstitusi telah memastikan adanya perimbangan kekuasaan di antara lembaga negara.

"Merujuk konstitusi kita, tidak ada satu pun institusi yang memiliki kekuasaan mutlak dan apalagi seperti diktator. Konstitusi memastikan adanya perimbangan kekuasaan antar-lembaga-lembaga negara," kata Jokowi saat menghadiri Simposium Internasional MK se-Asia di Solo, Jawa Tengah, Rabu (9/8).

Bahkan saat menanggapi tudingan dirinya yang dianggap diktator, Presiden Jokowi meminta masyarakat tidak takut kepadanya.

"Sini, nggak usah takut, Presidennya nggak diktator kok," kata Presiden Jokowi kepada seorang remaja perempuan saat dia memintanya maju ke panggung berdiri bersama untuk menjawab pertanyaan yang diberikannya, pada acara Pembukaan Pasanggiri Nasional Tingkat Remaja Perguruan Pencak Silat Nasional (Persinas) ASAD 2017 di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Selasa (8/8).

Jokowi mengatakan, di media sosial, banyak yang menyebut dirinya sebagai seorang diktator. Dia membantah hal itu. "Sekarang di medsos banyak yang menyampaikan, Presiden Jokowi itu otoriter, diktator. Masak wajah saya kayak gini wajah diktator," kata Jokowi tertawa.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-der

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar