Senin, 23 Oktober 2017

Pengertian Reksadana Saham: Beri Return Terbaik, Tapi Risiko Besar

Kamis, 10 Agustus 2017 14:00

courtesy https://www.cermati.com/artikel/pengertian-reksadana-saham-beri-return-terbaik-tapi-risiko-besar courtesy https://www.cermati.com/artikel/pengertian-reksadana-saham-beri-return-terbaik-tapi-risiko-besar
Ayo berbagi!

Reksadana saham salah satu pilihan investasi yang menjanjikan hasil paling tinggi, dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya dan menjadi instrumen investasi pilihan bagi banyak orang.

Bukan hanya bagi mereka yang telah lama berkecimpung di dalam kegiatan investasi, bahkan para pemula juga kerap menjadikan reksadana saham sebagai pilihan, mengingat investasi yang satu ini memang menjanjikan keuntungan yang besar.

Namun selain keuntungan, sejumlah risiko yang terkandung di dalam reksadana tentu patut diwaspadai, sebab semakin besar potensi keuntungan dari sebuah investasi, maka tentu akan semakin besar pula risiko yang terkandung di dalamnya. Berbagai risiko inilah yang harus dipahami sejak awal, agar investor dapat mengatasi berbagai gejolak yang mungkin saja terjadi di dalam reksadana saham miliknya.

Jangan sampai perhitungan keuntungan yang besar, tidak diimbangi dengan antisipasi yang baik terhadap berbagai risiko yang mungkin datang, sebab hal ini bisa saja membuat investasi tersebut tidak berhasil.

Baca Juga: Cara Investasi Reksadana yang Menguntungkan dan Mudah

Saham dan Aturannya

saham dan aturannya
Saham dan Aturannya

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum memutuskan untuk berinvestasi adalah mengenali dengan baik dan detail instrumen investasi yang akan dibeli. Hal ini akan mempermudah investor dalam mengelola investasinya di masa yang akan datang, sehingga potensi keuntungan dapat dimaksimalkan.

Reksadana saham merupakan jenis investasi yang menjadikan saham sebagai potrfolionya. Investasi ini dikelola oleh seorang manajer investasi profesional, sehingga investor tidak perlu khawatir akan kewalahan dalam mengelola sendiri investasinya.

Namun meski demikian, seorang investor tetap harus memiliki pengetahuan yang baik atas investasi yang dipilihnya, termasuk dalam reksadana saham, terutama terkait dengan sejumlah risiko yang terdapat di dalamnya. Reksadana saham akan mendatangkan sejumlah keuntungan ataupun kerugian bagi investornya berdasarkan kenaikan atau penurunan harga yang terjadi di pasaran. Jika harga naik, maka keuntungan juga akan meningkat, dan sebaliknya jika harga merosot turun, maka kerugian akan terjadi di dalam investasi ini.

Di dalam praktiknya, reksadana saham harus mematuhi sejumlah aturan dan juga ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Berbagai aturan ini dimaksudkan untuk melindungi hak dan juga kewajiban pemodal atas investasi tersebut. Investor tentu mengharapkan adanya jaminan keamanan atas investasi yang dilakukannya, dan hal inilah yang coba dilindungi oleh pemerintah dengan mengeluarkan beberapa peraturan terkait dengan reksadana saham, seperti:

  • Investasi hanya bisa dilakukan pada berbagai saham perusahaan yang berbadan hukum Indonesia di bursa efek di dalam negeri ataupun bursa efek luar negeri. Hal ini secara langsung mewajibkan bahwa investasi hanya bisa dilakukan pada saham perusahaan yang telah tercatat di pasar modal, di mana mereka menjual sahamnya secara resmi kepada masyarakat luas.
  • Investor juga dilarang untuk membeli saham di bursa efek luar negeri yang informasi perkembangannya tidak dapat diakses dari Indonesia, baik itu melalui media massa ataupun jaringan internet. Hal ini dianggap penting untuk melindungi pemodal, sebab kesulitan untuk mengakses informasi akan membuat modal mengalami kesulitan untuk memantau pergerakan sahamnya di bursa efek.
  • Jumlah investasi maksimum yang dapat dilakukan oleh seorang investor pada satu saham adalah sebesar 10% dari nilai aset reksadana yang dimilikinya.
  • Investor juga dilarang untuk menguasai lebih dari 5% modal sebuah perusahaan dari saham terkait.
 

Komposisi Reksadana Saham

komposisi reksadana saham

Komposisi Reksadana Saham

Meski portfolio reksadana saham adalah saham, namun bukan berarti semua dana investasi yang disetorkan oleh investor akan dialokasikan ke dalam investasi saham secara penuh. Hal ini merupakan sebuah bentuk antisipasi, agar jika sewaktu-waktu investor ingin mencairkan unitnya, maka hal tersebut bisa dilakukan dengan segera. Selain pertimbangan tersebut, pembagian dana ini juga penting dilakukan untuk mengatasi nilai portfolio yang bisa saja sedang buruk bersamaan dengan waktu pencairan yang dilakukan oleh investor.

Pada umumnya, pembagian komposisi saham ini bisa dilihat secara jelas di dalam prospektus. Saham yang akan dibeli oleh manajer investasi bisa saja berbeda-beda, tergantung pada kebijakan yang diambil oleh manajer investasi yang bersangkutan.

Namun, setiap investasi reksadana saham, pasti akan dibagi dalam komposisi saham dan juga sejumlah dana tunai, seperti tabungan atau deposito. Misalnya: penempatan dana investasi akan dilakukan 80% untuk saham dan 20% dalam bentuk cash (tabungan atau deposito).

Baca Juga: Seperti Apa Peran Manajer Investasi dalam Mengelola Reksa Dana? Cek di Sini

Return vs Risiko

Return vs risk
Return vs Risk

Return tentu akan menjadi alasan terbesar bagi investor untuk melakukan investasi di dalam reksadana saham. Jumlah keuntungan yang dijanjikan oleh investasi ini memang menjadi yang tertinggi, jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya. Namun pada dasarnya, return yang tinggi ini juga diikuti dengan sejumlah risiko yang juga besar, dan hal ini tentu patut dipahami dengan baik sejak awal oleh para investor.

Meski memiliki potensi keuntungan yang sangat besar, reksadana saham juga memiliki fluktuasi keuntungan yang juga tinggi. Bisa saja dalam kurun waktu yang cukup lama saham akan mengalami kenaikan return, namun kemudian secara tiba-tiba nilainya juga akan merosot dengan tajam. Dalam beberapa kejadian, kondisi ekonomi yang buruk seperti tahun 1998 tentu akan membuat nilai saham merosot dengan sangat tajam.

Meski memiliki potensi untuk pulih kembali dan mengalami kenaikan nilai yang cukup baik, namun hal ini tidak terjadi dalam kurun waktu yang singkat. Artinya, bisa saja pemulihan ini terjadi dan membutuhkan waktu yang cukup panjang, misalnya 1 atau bahkan 3 tahun berikutnya.

Jika menilik pada masalah di atas, maka sudah jelas bahwa reksadana saham bukanlah sebuah investasi jangka pendek, meskipun dalam satu atau dua tahun saja investasi ini sudah memberikan keuntungan yang cukup baik. Namun tingginya risiko dan juga fluktuasi harga yang bisa terjadi setiap saat merupakan hal yang wajib diwaspadai dan diantisipasi dengan baik sejak awal.

Artinya, reksadana saham bukanlah investasi yang selalu aman untuk Anda cairkan setiap waktu, terutama ketika pasar sedang tidak menentu, sebab hal ini bisa saja menimbulkan sejumlah kerugian yang cukup besar. Untuk itu, sangat penting bagi investor untuk selalu menyesuaikan tujuan keuangannya dengan pemilihan instrumen investasi ini sejak awal.

Pahami dan Sesuaikan dengan Tujuan Keuangan

Reksadana saham adalah salah satu instrumen investasi yang dapat memberikan return tertinggi, jika dibandingkan dengan yang lainnya. Namun hal tersebut tentu dibarengi dengan sejumlah risiko yang juga tak kalah tingginya.

Pahami berbagai risiko yang terkandung di dalam reksadana saham, sebelum akhirnya memutuskan untuk membelinya. Jangan lupa untuk selalu menyesuaikan tujuan keuangan sebelum berinvestasi, agar hasil investasi tersebut bisa tercapai dengan maksimal.

Baca Juga: Inilah Poin-Poin Penting Prospektus Reksa Dana yang Wajib Diketahui

 

Artikel disalin secara otomatis, Baca artikel aslinya di Cermati.com

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar