Kamis, 24 Agustus 2017

SItuasi panas AS-Korut: Apakah kita perlu khawatir?

Kamis, 10 Agustus 2017 17:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Presiden AS telah berikrar untuk membalas ancaman Korut 'dengan kekuatan militer sangat dahsyat' .

Sementara, Korut telah mengancam untuk meluncurkan rudal ke wilayah Guam AS - tempat tinggal bagi 163,000 penduduk.

Dan semua ini terjadi di tengah laporan bahwa Pyongyang akhirnya berhasil membuat miniaturisasi senjata nuklir yang dapat muat di dalam rudal antar benua - sebuah kemungkinan yang sangat ditakuti oleh AS dan sekutu-sekutunya di Asia.

Guam adalah wilayah kepulauan AS yang terletak di Barat Samudera Pasifik, 2.000 km dari Papua, dan 4.700 km dari Jakarta. Tidak begitu dekat, namun tak begitu jauh juga, lebih-lebih lagi jika bicara soal nuklir. Seberapa cemas dan khawatir orang-orang Indonesia?

Sejumlah warga Jakarta mengungkapkan kepada Madeleine Setiono yang melaporkan untuk BBC Indonesia, keyakinan bahwa Korea Utara hanya sekadar menggertak, namun sebagian dihinggapi kecemasan juga.

"Ah, kemungkinan hanya isu belaka ya, karena pasti nggak tinggal diam juga sih, apalagi karena sudah ada ancaman serupa dari Presiden Amerika Donald Trump yang akan balik menyerang Korea," kata Fadillah Asep Gunawan, seorang supervisor restoran di daerah Jakarta Pusat.

Pendapat yang tak jauh berbeda disampaikan Indra Adiputra, seorang wirausaha. "Mungkin untuk sekarang kita belum perlu khawatir karena menurut saya belum ada dampak langsung ke sininya, ke Indonesia, saat ini," tambahnya. "Namanya berjaga-jaga boleh, tapi lebih banyak hal yang perlu kita waspadai seperti ancaman teroris di negara sendiri maupun negara-negara di sekitar."

Lain lagi dengan Aida, seorang visual merchandiser. "Agak serem sih, soalnya 'kan dekat 'kan, masih wilayah Asia juga," katanya, kendati ia juga menganggap, Korut sekadar menggertak. "Soalnya kalau memang beneran, mungkin sudah mulai perang." Ia juga menyesalkan ungkapan Presiden Trump yang ditujukan kepada Korut yang menurutnynya "nggak masuk akal," karena begitu gencar dalam berperang kata-kata dengan Korea Utara.

Kecemasan serupa muncul dari Apriyadi, seorang tukang ojek di daerah Bunderan HI. "Sangat khawatir juga, takut dampaknya ke Indonesia juga."

Lalu bagaimana kata para pakar politik internasional? Anda belum perlu panik - setidaknya untuk sekarang. Ini alasannya:

1. Tidak ada siapapun yang menginginkan perang

Inilah salah satu hal terpenting yang perlu dicamkan. Perang di semenanjung Korea tidak menguntungkan bagi kepentingan siapapun.

Tujuan utama rezim Korea Utara adalah pertahanan - dan perang dengan AS akan membahayakannya. Seperti yang dikatakan wartawan BBC, Jonathan Marcus, serangan Korea Utara terhadap AS atau sekutu-sekutunya dalam konteks saat ini dapat dengan cepat berubah menjadi perang yang lebih luas - dan kita harus berasumsi bahwa rezim Kim Jong-un tidak ingin bunuh diri.

Sebenarnya, inilah mengapa Korea Utara telah berusaha begitu keras untuk menjadi kekuatan nuklir. Kemampuan ini, mereka beralasan, akan melindungi rezim tersebut dengan membuat 'biaya' untuk menjatuhkan rezim jadi lebih tinggi. Dan Kim Jong-un tidak ingin mengikuti nasib Muammar Gaddafi di Libya atau Saddam Hussein di Irak.

Andrei Lankov dari Universitas Kookmin di Seoul mengatakan kepada surat kabar Guardian Inggris bahwa "kemungkinan terjadinya konflik yang sangat kecil," namun Korea Utara juga sama-sama "tidak tertarik pada diplomasi" pada saat ini.

"Mereka ingin memiliki kemampuan untuk menghapus Chicago dari peta terlebih dulu, baru kemudian akan tertarik dengan solusi diplomatik," kata Lankov.

Bagaimana dengan serangan pencegahan AS?

AS tahu bahwa serangan di Korea Utara akan memaksa rezim tersebut untuk melancarkan balasan terhadap sekutu AS, Korea Selatan dan Jepang.

Ini akan mengakibatkan hilangnya nyawa secara besar-besaran, termasuk kematian ribuan orang Amerika - tentara dan warga sipil.

Selain itu, Washington tidak mau mengambil risiko diluncurkannya rudal-rudal nuklir ke daratan AS.

Akhirnya, Cina - satu-satunya sekutu Pyongyang - akan membantu menopang rezim tersebut karena keruntuhannya dianggap sebagai akhir yang secara strategis lebih buruk lagi. Pasukan AS dan Korea Selatan yang berada tepat di seberang perbatasan Cina adalah sebuah kemungkinan yang tidak ingin dihadapi Beijing - dan itulah yang akan terjadi kalau perang meletus.

2. Yang Anda saksikan ini adalah kata-kata, bukan tindakan

Presiden Trump mungkin mengancam Korea Utara dengan bahasa yang tidak biasa untuk seorang presiden AS, tapi ini tidak berarti AS secara aktif bergerak ke posisi perang.

Seperti seorang pejabat militer AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita Reuters: "Hanya karena retorika meningkat, tidak berarti sikap kami berubah."

Kolumnis New York Times, Max Fisher setuju: "Yang paling menentukan dalam hubungan internasional bukan komentar dari seorang pemimpin, melainkan sinyal-sinyal tentang kebijakan diplomatik."

Dalam sebuah foto yang diambil pada tanggal 2 Agustus 2017, tentara Korea Selatan berjaga-jaga di depan Panmon Hall (sisi C) Korea Utara dan garis demarkasi militer yang memisahkan Korea Utara dan Selatan, di Panmunjom, di Area Keamanan Bersama Zona Demiliterisasi.
AFP
Dalam lingkungan yang tegang, sebuah gerakan yang disalah artikan bisa mengakibatkan perang

Terlebih lagi, setelah dua uji coba rudal balistik antar benua Korea Utara pada bulan Juli, AS kembali ke taktik yang sudah terpercaya - menekan Pyongyang melalui sanksi-sanksi Dewan Keamanan PBB.

Dan diplomatnya masih menyerukan langkah kembali ke meja perundingan - menunjuk kepada dukungan dari Cina dan Rusia.

Tindakan-tindakan ini mengirim sinyal yang bertentangan ke Pyongyang, namun juga memperlunak retorika keras dari Presiden Trump.

Biarpun begitu, beberapa analis mengatakan satu langkah yang disalah artikan dalam lingkungan yang tegang saat ini dapat mengakibatkan perang yang tak disengaja.

"Mungkin ada pemadaman listrik di Korea Utara yang mereka salah artikan sebagai bagian dari serangan pencegahan (AS). Atau kalau Amerika Serikat membuat kesalahan di (Zona Demiliterisasi0," kata Daryl Kimball dari Asosiasi Pengendali Ketahanan Senjata AS kepada BBC. "Jadi ada berbagai cara yang masing-masing pihak bisa salah perhitungan yang mengakibatkan situasi memanas tak terkendali".

3. Kita sudah pernah mengalami hal ini

Seperti yang dikatakan mantan Asisten Menlu AS PJ Crowley, AS dan Korea Utara sempat mendekati situasi konflik bersenjata pada tahun 1994, ketika Pyongyang menolak untuk mengizinkan pemeriksa internasional masuk ke fasilitas nuklirnya. Diplomasi kemudian mengatasi konflik tersebut.

Selama bertahun-tahun, Korea Utara telah secara teratur melontarkan ancaman terhadap AS, Jepang dan Korea Selatan. Mereka sering sesumbar untuk menjadikan Seoul sebagai 'lautan api.'

Dan retorika Trump - dalam isinya, jika bukan gayanya - juga bukannya tidak muncul terjadi sebelumnya dari seorang presiden AS.

"Dalam berbagai bentuk, meski tidak seberwarna (retorika Trump), AS selalu mengatakan bahwa jika Korea Utara menyerang, rezim tersebut akan musnah," tulis Crowley.

Perbedaan kali ini, lanjutnya, adalah bahwa presiden AS tampaknya mengisyaratkan bahwa dia akan melakukan tindakan pencegahan (walaupun Menteri Luar Negeri Rex Tillerson kemudian menepiskan asumsi ini.)

Retorika semacam ini, yang tidak dapat diprediksi, yang berasal dari Gedung Putih, tidak biasa dan memang membuat orang-orang khawatir, kata para analis.

Namun, Korea Selatan - sekutu AS yang akan paling banyak mendapat kerugian dari konfrontasi dengan Korea Utara - tidak nampak terlalu khawatir.

Seorang pejabat senior Gedung Biru mengatakan kepada wartawan pada tanggal 9 Agustus bahwa situasinya belum mencapai tingkat kritis, dan kemungkinan besar hal itu dapat diselesaikan dengan damai.

Ini adalah alasan untuk bersikap optimis.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar