Jumat, 20 Oktober 2017

Trump berterima kasih pada Putin yang usir 755 staf diplomat AS

Jumat, 11 Agustus 2017 11:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengucapkan terima kasih kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, setelah yang bersangkutan memerintahkan pengusiran 755 staf diplomat AS.

Kepada para wartawan di klub golf miliknya di Bedminster, Negara Bagian New Jersey, Trump mengaku ingin berterima kasih kepada Putin karena telah menghemat anggaran AS.

"Saya ingin berterima kasih kepadanya karena kami berupaya memangkas anggaran pengeluaran untuk gaji dan saya sangat bersyukur dia mengusir banyak orang," kata Trump.

Pada akhir Juli lalu, Putin memerintahkan pengusiran 755 staf diplomat Amerika Serikat setelah Washington menerapkan rangkaian sanksi terhadap Moskow.

Putin menegaskan ke-755 orang itu harus sudah angkat kaki dari Rusia pada 1 September mendatang. Dengan demikian, total staf diplomat AS di Rusia bakal berjumlah 455 orang, sama dengan jumlah staf Rusia di AS.

Wartawan BBC di Washington DC, Laura Bicker, mengatakan pengusiran 755 staf diplomat AS dari Rusia boleh jadi pengusiran dalam jumlah terbesar dari suatu negara dalam sejarah modern.

Ratusan orang itu, menurut wartawan BBC di Moskow, Sarah Rainsford, meliputi staf diplomat dari berbagai kawasan di Rusia. Selain para staf kedutaan di Moskow, personel yang terdampak mencakup staf konsulat di Ekaterinburg, Vladivostok, dan St Petersburg.

Akan tetapi, mereka yang diusir diyakini 'warga lokal' sehingga jumlah yang harus angkat kaki dari Rusia sejatinya kurang dari 755 orang.

Sesaat setelah Putin mengumumkan keputusannya, pemerintah AS menilai tindakan Rusia "disayangkan dan aksi yang tidak perlu".

Kini, seiring dengan munculnya ucapan Trump bahwa dia ingin berterima kasih kepada Putin, sorotan kembali tertuju pada hubungan antara Trump dan Rusia.

Beberapa penyelidikan tengah berlangsung di AS guna mencari kemungkinan tentang adanya persekongkolan Trump dan Rusia dalam masa kampanye pemilihan presiden 2016.

Bahkan, putranya, Donald Trump Jr, disebut-sebut bertemu dengan seorang pengacara Rusia bernama Natalia Veselnitskaya saat masa kampanye. Trump Jr dituding menemui pengacara itu lantaran yakin dia memiliki informasi yang akan mencederai rival ayahnya, Hillary Clinton.

Trump berulang kali membantah adanya persekongkolan dengan Rusia.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar