Kamis, 21 Juni 2018 | 11:05 WIB

Daftar | Login

Top header banner

/

Freeport Dituduh Tak Pedulikan Layanan Kesehatan Pekerja yang Mogok

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
<p>Perselisihan antara pekerja di Papua Barat dan raksasa pertambangan Freeport-McMoRan semakin meningkat. Perusahaan tambang milik Amerika Serikat ini dituduh mengingkari layanan kesehatan bagi pekerja yang lakukan mogok, serta soal pendidikan untuk anak-anak pekerja.</p><p>Sebuah serikat pekerja global berada di Jakarta untuk melobi pemerintah Indonesia membantu menyelesaikan perselisihan yang sedang berlangsung antara Freeport dan sekitar 4.000 pekerja dari Pertambangan Grasberg di Papua Barat.</p><p>Serikat pekerja mengatakan para pekerja telah dipecat karena mengikuti mogok kerja. Kini mereka pun menuduh perusahaan tersebut sudah menahan hak-hak dasar mereka.</p><p>Pemogokan kerja yang dilakukan ribuan orang dilakukan setelah hak mereka dikurangi, di saat Freeport sedang bersitegang dengan pemerintah Indonesia soal izin pertambangan baru.</p><p>Freeport mengatakan pekerja tersebut dianggap mengundurkan diri, karena mereka melanggar kontrak mereka di tambang tembaga terbesar kedua di dunia tersebut.</p><p>Andrew Vickers dari CFMEU Australia mengatakan pendidikan untuk anak-anak pekerja, hak kesehatan, dua diantara banyak hal lainnya, telah ditarik.</p><p>"Kami telah melihat kasus orang-orang yang dipulangkan dari rumah sakit, sebagai akibat dari kurangnya jaminan soal kesehatan dan tragisnya, kami diberitahu 10 orang meninggal dikeluarkan rumah sakit karena kurangnya layanan kesehatan ini," kata Andrew kepada ABC. Dia berada di Jakarta untuk melobi kepentingan para pekerja.</p><p>"Kami juga memahami bahwa tanpa jaminan penghasilan, bank-bank menyita pinjaman rumah, jadi keadaan sangat tragis terjadi di Papua Barat sebagai konsekuensi dari perselisihan perburuhan ini."</p><p>Andrew menyebutnya sebagai pelanggaran "mengerikan" terhadap hak asasi manusia dan para pekerja melakukan pemogokan secara legal.</p><div class="view-image-embed-full" > <div class="view-richTallCaptionByline linked" > <figure> <div class="component comp-image"> <img src="http://www.abc.net.au/cm/rimage/8795610-16x9-thumbnail.jpg?v=2" data-sizes="auto" data-src="http://www.abc.net.au/cm/rimage/8795610-16x9-thumbnail.jpg?v=2" data-srcset="http://www.abc.net.au/cm/rimage/8795610-16x9-thumbnail.jpg?v=2 160w, http://www.abc.net.au/cm/rimage/8795610-16x9-small.jpg?v=2 220w, http://www.abc.net.au/cm/rimage/8795610-16x9-medium.jpg?v=2 460w, http://www.abc.net.au/cm/rimage/8795610-16x9-large.jpg?v=2 700w " title="Grasberg copper and gold mine complex" alt="The Grasberg copper and gold mine complex" class="lazyload" data-expand="0" /> </div> <figcaption> <div class="caption">Pertambangan Grasberg adalah pertambangan emas terbesar di dunia.</div> <div class="comp-rich-text credit clearfix" id="comp-rich-text7" > <p>Reuters: Antara Foto Agency, file</p> </div> </figcaption> </figure> </div> </div><p>"Dalam kasus PT Freeport, di Papua Barat sekitar tambang Grasberg, perusahaan memiliki begitu banyak kekuatan dan banyak pengawasan," ujar Adam Lee dari Serikat Industri ALL Global, yang juga datang ke Jakarta.</p><p>"Mereka juga bisa pengaruhi sekolah sehingga anak-anak dari pekerja yang ikut mogok kerja tidak bisa belajar."</p><p>Serikat pekerja telah menuntut mendapat akses ke lokasi tambang dan kawasan lain di wilayah Papua Barat yang ditutup.</p><p>"Kami ingin pergi ke Grasberg, dimana masyarakat berada, tempat para penambang ini tinggal dan menggali lebih dalam, serta mendapatkan informasi yang lebih baik dan lebih jelas soal dampak dari yang dilakukan pertambangan," kata Adam. </p><p>"Sayangnya, perusahaan tersebut tidak memberi izin kepada serikat pekerja atau media."</p><p>Juru bicara Freeport Riza Pratama mengatakan kepada ABC bahwa pekerja tersebut dianggap telah mengundurkan diri, sehingga perusahaan tersebut tidak wajib untuk terus membayar mereka, termasuk memberikan sekolah untuk anak-anak mereka.</p><p>Diterbitkan pada 11/08/2017 pukul 15:00 AEST. Simak laporannya dalam bahasa Inggris <a class="external" href="http://www.abc.net.au/news/2017-08-11/global-union-heads-to-indonesia-to-defend-freeport-workers/8795584" target="_blank" title="">di sini</a>.</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pilkada Serentak 2018 | 21 Juni 2018 - 10:57 WIB

Spanduk kontroversi tamasya Almaidah muncul jelang Pilgubsu 2018

Kecelakaan | 21 Juni 2018 - 10:44 WIB

Panglima TNI-Kapolri kunjungi korban KM Sinar Bangun

Ekonomi | 21 Juni 2018 - 10:29 WIB

Rupiah Kamis pagi tercatat Rp14.010

Aktual Dalam Negeri | 21 Juni 2018 - 10:15 WIB

Enam pesan Permampu jelang Pilkada 2018

| 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Kamis, 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

Sabtu, 16 Juni 2018 - 11:27 WIB

Polisi tembak pembunuh nenek di Tapanuli Selatan

Selasa, 12 Juni 2018 - 12:26 WIB

Hari raya Idul Fitri, listrik aman dari pemadaman

Minggu, 10 Juni 2018 - 07:52 WIB

Dishub imbau pemudik waspadai jalur rawan macet

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com