Kamis, 17 Agustus 2017

Charlottesville: Pawai 'berdarah' supremasi kulit putih di AS

Senin, 14 Agustus 2017 04:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
Bentrokan di Charlottesville
Reuters
Pertemuan supremasi kulit putih di Charlottesville, Virginia, diwarnai bentrokan.

Di tengah Taman Emansipasi di Charlottesville pada Sabtu (12/08), dua perempuan muda, satu berkulit putih dan satu lagi berkulit hitam, saling berpegangan tangan erat-erat, dan dengan tangan lainnya mereka memegang pembatas baja di hadapan mereka.

Beberapa meter dari arah mereka, seorang pemuda berkulit putih, yang berambut cepak dan mengenakan kacamata hitam, mengarahkan badan ke arah dua perempuan di seberang pembatas itu.

"Anda akan menjadi f*****g orang yang dipulangkan dengan perahu," teriak sang pemuda ke arah perempuan berkulit hitam, sebelum memalingkan badan ke arah perempuan berkulit putih. "Dan untuk Anda, Anda akan lamgsung masuk neraka," katanya. Ia kemudian memberikan salut ala Nazi.

Untuk ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir, kaum nasionalis kulit putih turun ke kota kecil dan liberal, Charlottesville, di negara bagian Virginia bagian selatan, untuk memprotes rencana penurunan patung seorang jenderal Konfederasi, Robert E Lee.

'Antiimigran, antisemit, rasis'

Kali ini mereka mengusung agenda "alt-right", dalam pawai yang disebut "Unite the Right" atau "Satukan Kelompok Kanan".

Mereka berasal dari berbagai unsur milisi, kelompok rasis, neo-Nazi, dan mereka yang semata-mata ingin mempertahankan sejarah Selatan.

Nasionalis kulit putih
BBC
Bendera Konfederasi dikibarkan dalam pawai "Unite the Right" di Charlottesville, Virginia.

Mereka berkumpul di pagi hari di Taman Emansipasi - sebelumnya dikenal dengan nama Taman Lee - lokasi patung Robert E Lee ditempatkan, sebagian mengenakan perlengkapan taktis dan secara terbuka menentang senapan. Adapun sebagian lainnya mengenakan baju atasan berwarna hitam, helm dan sepatu boot.

Secara berkelompok mereka menyerbu taman, menggunakan pentungan dan kepalan tangan untuk menyingkirkan kelompok pemrotes tandingan, dari kubu antifasis.

Mereka lantas memblokir pintu masuk dengan tameng. Di taman, David Duke, mantan pemimpin agung Ku Klux Klan, menyeringai dan melambaikan tangan ketika kerumunan massa, hampir seluruhnya orang putih dan laki-laki, memberikan sambutan kepadanya, meneriakkan namanya dan mengangkat tangan mereka untuk memberikan salut ala Nazi.

Mereka mempunyai alasan untuk bersenang hati. Mereka berada di tengah-tengah pertemuan kaum nasionalis kulit putih terbesar di Amerika Serikat selama puluhan tahun terakhir.

Pemrotes
Reuters
Seorang milisi supremasi kulit putih berdiri di depan pengunjuk rasa dari gereja yang mengadakan aksi tandingan.

Di taman, dengan dikelilingi pagar pembatas baja, mereka meneriakkan slogan antiimigran, antisemit dan slogan rasis. Mereka menyasar para perempuan berkulit putih yang menggelar protes tandingan dengan menyebut mereka "pengkhianat" yang "perlu ditundukkan".

Di luar taman, pemrotes dari kelompok antifasis melemparkan botol air ke arah nasionalis putih dan meneriakkan kata-kata "Enyahlah dari jalan-jalan kami, sampah Nazi".

Pada akhirnya, polisi antihuru-hara bergerak ke taman dan ke jalan-jalan di sekitarnya, memukul mundur semua orang.

Gubenur negara bagian Virginia menyatakan keadaan darurat dan pawai umum tersebut dibatalkan. Pasukan Garda Nasional menutup kawasan itu, tetapi langkah tersebut sudah terlambat karena seorang pengemudi menabrakkan mobilnya ke arah demonstran tandingan dua blok dari taman, menyebabkan seorang perempuan meninggal dunia dan melukai 19 orang lainnya.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar