Sabtu, 21 Juli 2018 | 14:49 WIB

Daftar | Login

banner kuping banner kuping
Macro Ad

/

Komite di Oslo didesak ubah aturan untuk cabut Hadiah Nobel Aung San Suu Kyi

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
BBC Indonesia
BBC Indonesia
<p>Komite Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo diminta mengubah peraturan internal sehingga Nobel Perdamaian untuk Aung San Suu Kyi bisa dicabut karena dianggap tak berbuat banyak untuk mengatasi krisis Rohingya di Rakhine, Myanmar.</p><p>Petisi pencabutan Nobel yang diterima Aung San Suu Kyi pada 1991 tersebut hingga Senin (11/09) siang mencapai hampir 500.000 tanda tangan. </p><p>Rencananya petisi ini akan disampaikan ke Komite di Oslo begitu melewati batas setengah juta pendukung, kata salah seorang inisiator petisi Agus Sari.</p><p>&quot;Kami berencana menyerahkan langsung petisi ini ke Komite Nobel pada saatnya nanti. Kami sadar bahwa mereka sudah mengatakan tidak bisa mencabut Nobel (untuk Aung San Suu Kyi), tapi yang ingin kami sampaikan adalah Aung San Suu Kyi tidak layak menerimnya,&quot; kata Agus kepada BBC Indonesia.</p> <ul> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41162474">Hadiah Nobel Aung San Suu Kyi tak bisa ditarik walau banyak yang menuntut</a></li> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41149698">Siapa sebenarnya etnis Rohingya dan enam hal lain yang harus Anda ketahui</a></li> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41105830">Krisis terbaru Rohingya: bagaimana seluruh kekerasan bermula?</a></li> </ul><p>&quot;Yang penting ada kesadaran publik bahwa perlu ada tekanan besar kepada Aung San Suu Kyi dan penguasa militer untuk menghentikan krisis kemanusiaan di Rakhine,&quot; katanya. </p><p>Sebelumnya, Jonna Petterson dari Kantor Komite Nobel, kepada BBC Indonesia mengatakan, &quot;Berdasarkan anggaran dasar kami, <a href="http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41162474">Hadiah Nobel tidak dapat dicabut</a>.&quot;</p><h3>'Terlibat kejahatan kemanusiaan'</h3><p>Selain tak dapat dicabut, mantan anggota komite, Gunnar Stalsett, mengatakan komite juga tidak mengeluarkan kecaman.</p><p>&quot;Hadiah (Nobel) Perdamaian tak pernah dicabut dan Komite tidak mengeluarkan kecaman atau mengkritik penerima hadiah,&quot; kata Stalsett, mantan politikus yang menjadi anggota komite pada 1991, saat Suu Kyi menerima penghargaan.</p><p>&quot;Prinsip yang kami anut adalah bahwa keputusan (pemberian Hadiah Nobel) bukan deklarasi seorang yang suci,&quot; kata Stalsett seperti dikutip <em>The New York Times</em>.</p><p>&quot;Saat keputusan telah dibuat dan hadiah diberikan, itulah akhir tanggung jawab Komite,&quot; tambahnya.</p> <ul> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41125784">Krisis Rohingya: 'Kami dengar orang-orang berteriak bakar, bakar, bakar'</a></li> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41096793">Warga Rohingya: 'Menakutkan, desa dibakar, banyak anak dan orang tua terpisah'</a></li> <li><a href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41225883">PBB: Operasi militer terhadap Muslim Rohingya tergolong 'pembasmian etnis'</a></li> </ul><p>Agus Sari mengatakan pihaknya menghormati Anggaran Dasar atau aturan internal Komite Nobel. Tapi ada baiknya Komite sekarang melakukan kajian atau evaluasi untuk mencerminkan situasi yang berkembang di lapangan.</p><p>&quot;Mereka harus melihat ke diri sendiri, me-<em>review</em> secara internal, jangan-jangan ada kriteria atau mekanisme (pemberian Hadiah Nobel) yang harus mereka ubah,&quot; kata Agus.</p><p>Salah satu pendukung petisi adalah kolumnis surat kabar Inggris <em>The Guardian</em>, Gerge Monbiot. </p><p>Menurut Monbiot, Komite Nobel harus bertanggung jawab atas penghargaan yang mereka berikan dan mencabut penghargaan jika dianggap para penerima melanggar prinsip-prinsip yang mereka pegang. </p><p>Terbuka kemungkinan, tulis Monbiot, 'kita berada dalam situasi luar biasa di mana penerima hadiah Nobel Perdamaian terlibat kejahatan terhadap kemanusiaan'.</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kecelakaan | 21 Juli 2018 - 14:12 WIB

5 tewas, 1 kritis akibat kecelakaan di Tol Cipali

Hobby | 21 Juli 2018 - 13:56 WIB

Tren pecinta burung berkicau meningkat di Indonesia

Aktual Dalam Negeri | 21 Juli 2018 - 13:38 WIB

Hadia Daeng Saming, jemaah kedua asal Indonesia wafat di Tanah Suci

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com