Selasa, 26 September 2017

Target 14.000 doktor sulit tercapai, ini penyebabnya

Sabtu, 09 September 2017 20:22

Foto : Istimewa Foto : Istimewa
Ayo berbagi!

Pemerintah terus mengejar target untuk  mencetak 14.000 dosen bergelar doktor atau lulus S-3 hingga 2019. Menurut Senior Expert Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi John Pariwono target 14.000 dosen S3 itu agak sulit tercapai pasalnya pada tahun depan kebijakan belanja anggaran dari pemerintah lebih difokuskan kepada pembangunan infrastruktur untuk menggenjot perekonomian nasional. Selain itu, kesiapan dari para dosen bergelar S-2 untuk melanjutkan pendidikan pun masih minim.

Menurut John pemerintah harus mencari sumber dana di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika hal tersebut terjadi, kualitas perguruan tinggi Indonesia akan terus tertinggal dari negara tetangga, terutama Malaysia dan Singapura.

“Kalau hanya mengandalkan dana pemerintah, target 14.000 doktor pasti gagal. Perlu menjalin banyak kerja sama dengan luar negeri, pihak swasta dan kampus luar negri yang siap membantu pendanaan atau skema beasiswa doktoral,” ucap John dalam diskusi Doctoral Program Information Day, Jakarta, Sabtu (9/9).

John menuturkan, jenjang pendidikan para dosen berperan strategis dalam peningkatan kualitas perguruan tinggi. Semakin banyak doktor, jumlah penelitian berstandar internasional dari Indonesia juga akan meningkat. Pada sektor ekonomi, penelitian dari para akademisi juga seharusnya memberi kontribusi. “Tapi di Indonesia, antara hasil penelitian dan kebutuhan industri belum in line,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Monash University Australia menjadi salah satu perguruan tinggi luar negeri yang menyatakan siap membantu Kemenristekdikti. Senior Pro Vice Chancellor Monash University Zlatko Skrbis mengklaim, saat ini tak kurang dari 1.000 calon doktor asal Indonesia yang sedang menyusun disertasi di berbagai jurusan di Monash University. Menurut dia, program doktoral di kampus yang berbasis di Melbourne Australia itu bisa ditempuh dalam kurun 4 tahun.

“Tahun ini kami masih membuka beasiswa program doktoral untuk mahasiswa Indonesia. Ada 300 mahasiswa yang sudah mengajukan proposal, dan sedang kami seleksi. Jenjang doktoral yang kami tawarkan sangat sesuai untuk meningkatkan kecakapan serta pengetahuan yang diperlukan untuk melakukan penelitian bereputasi internasional,” kata Zlatko.

Menurut dia, jurusan yang siap menampung calon doktor asal Indonesia tersebar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Hukum, Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Teknologi dan Informatika dan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan.

“Selama belajar dan menyusun disertasi, mahasiswa kami juga didukung fasilitas yang memadai. Terutama standar teknologi penelitian, prospek pengembangan riset dan publikasi ilmiah internasional,” ujarnya.

Berdasarkan data statistik yang dilansir oleh Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, tercatat pada 2017 jumlah dosen bergelar S3 saat ini mencapai 34.223 orang atau sekitar 14 persen dari total 250.000 dosen di seluruh Indonesia.

Angka tersebut masih sangat jauh dari target minimal 20 persen jumlah doktor yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan nasional sumber daya manusia di Indonesia. Peningkatan angka lulusan S3 dari kampus internasional berkualitas seperti Monash akan berdampak pada publikasi ilmiah di tingkat internasional dan meningkatkan inovasi yang saat ini menjadi prioritas pemerintah Indonesia.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar