Sabtu, 18 November 2017

Banyak orang Rohingya 'cacat karena ranjau darat'

Selasa, 12 September 2017 11:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

BBC brtemu sejumlah kaum Muslim Rohingya yang jadi cacat karena setelah menginjak ranjau darat saat berusaha menyelamatkan diri dari kekerasan di negara bagian Rakhine.

Salah satu di antaranya, seorang bocah berusia 15 tahun yang sedang dirawat di rumah sakit di bangladesh, kehilangan kedua kakinya.

Seorang perempuan yang juga dirawat di rumahsakit itu, berkisah bahwa dia sendiri menginjak sebuah ranjau darat ketika ia dan keluarganya lari karena ditembaki. Tidak jelas, pada kedua kasus itu, siapa yang menanam ranjau.

Lebih dari 300.000 warga Rohingya sudah meninggalkan Burma dalam beberapa pekan terakhir. Tentara Burma membantah bahwa mereka menyasar warga sipil.

Pada hari Minggu lalu, lembaga pemantau hak asasi manusia Amnesty International menuduh militer Myanmar menebarkan ranjau-ranjau darat di jalur perbatasan yang digunakan oleh warga Rohingya untuk melarikan diri.

Sebuah sumber militer Myanmar mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa ranjau-ranjau darat itu telah ditanam di sepanjang perbatasan pada tahun 1990-an dan tentara telah berusaha untuk membersihkannya, namun katanya tidak ada ranjau yang ditanam dalam beberapa hari ini.

Rumah sakit yang dikunjungi oleh BBC tersebut telah merawat sejumlah orang yang menderita luka ranjau darat, kata dokter.

Anak laki-laki berusia 15 tahun, Azizu Haque, tiba di sana dengan keadaan kakinya hancur. Saudaranya, di rumah sakit lain, mengalami nasib yang sama, kata ibunya.

"Luka mereka sangat buruk sehingga seolah-olah mereka sudah mati," katanya kepada BBC. "Lebih baik Allah mengambil mereka, karena mereka sangat kesakitan."

Perempuan yang terluka tersebut, Sabequr Nahar, mengatakan bahwa dia melarikan diri dari Myanmar karena militer telah menyasar komunitasnya, dan dia sedang melintasi perbatasan bersama ketiga anaknya saat dia menginjak ranjau darat.

"Kami diberondong, ditembaki, dan mereka menanam ranjau," kata perempuan berusia 50 tahun itu.


Cedera mengerikan - oleh Reeta Chakrabarti, BBC News, Bangladesh

Tubuh Azizu Haque hancur oleh ledakan: kakinya hilang, dan berbagai bagian tubuhnya juga terluka. Dokter tampak emosional saat dia berkisah tentang upayanya untuk menyelamatkannya - dia tidak berharap banyak. Azizu memiliki golongan darah yang langka, dan rumah sakit tidak memiliki bank darah, dan sudah kehabisan donor.

Di bangsal peremp;uan, Sabequr Nahar adalah sosok kecil yang kelelahan. Dia mengatakan bahwa saat melintasi perbatasan Myanmar, ia berjalan di belakang ketiga putranya yang lolos tanpa cedera.

Tidak jelas siapa yang memasang ranjau yang menyebabkan cedera ini - dan kapan - namun kedaaan orang-orang yang menjadi korbannya ini terus menimbulkan pertanyaan tentang versi pemerintah Myanmar tentang hal ini.


Kekerasan bermula pada 25 Agustus ketika gerilyawan Rohingya menyerang pos polisi di negara bagian Rakhine, menewaskan 12 petugas.

Serangan tersebut memicu operasi keamanan besar-besaran yang memicu kecaman internasional.

Pada hari Senin, kepala urusan hak asasi manusia PBB Zeid Raad al-Hussein menyebut langkah-langkah militer Burma merupakan "contoh tentang pembersihan etnis".

Warga Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar mengatakan bahwa desa-desa mereka dibakar dan warga sipil diserang dalam operasi brutal untuk mengusir mereka.

Rohingya, minoritas Muslim di Rakhine, diperlalukan sebagai imigran gelap dan tak diakui kewarga-negaraannya.

Bangladesh sudah menampung ratusan ribu orang Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan sebelumnya di Rakhine.

Kamp pengungsi yang ada penuh dan pendatang baru yang terpaksa tidur di tempat manapun yang dapat mereka temukan, kata sejumlah laporan.

Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, mendapat kecaman dari berbagai penjuru karena dituding berdiam diri atas nasib Rohingya.

Tapi kaum Rohingya sangat tidak populer di Myanmar. Pada hari Minggu, polisi menembakkan peluru karet untuk membubarkan massa yang menyerang rumah seorang tukang daging Muslim di wilayah Magway di Myanmar tengah. Seorang pengunjuk rasa mengatakan kepada AFP bahwa hal itu merupakan reaksi mereka terhadap kejadian di Rakhine.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar