Selasa, 26 September 2017

Diduga Periksa Kemaluan Pasien Tanpa Alasan Medis, Dokter Ini Diadili

Selasa, 12 September 2017 12:40

(Courtesy: AustraliaPlus) Dr Jeremy Coleman dikenai tuduhan melakukan 130 penganiayaan seksual terhadap lebih dari 80 korban. (Courtesy: AustraliaPlus) Dr Jeremy Coleman dikenai tuduhan melakukan 130 penganiayaan seksual terhadap lebih dari 80 korban.
Ayo berbagi!

Seorang dokter ahli masalah imunologi di Newcastle (New South Wales) Australia, diajukan ke pengadilan dengan tuduhan telah melecehkan belasan pasien perempuan. Pasalnya, sang dokter dituduh melakukan pemeriksaan vagina dan dubur (anal) karena alasan seksual, bukan alasan medis.

Dokter bernama Jeremy Michael Stafford Coleman (64) itu dikenai 66 dakwaan pelecehan seksual dan perbuatan tidak senonoh.

Menurut Pengadilan Distrik Newcastle, pelanggaran yang dilakukan Coleman terjadi selama 20 tahun sampai tahun 2013 yang terjadi di kliniknya di Newcastle dan Kanwal.

Namun pengacara Coleman, Pauline David, mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Coleman dilakukan untuk alasan medis, dan bukan tindakan seksual.

"Yang ingin saya katakan dalam sidang ini adalah tindakannya untuk alasan medis. Satu-satunya alasan memegang-megang para wanita itu adalah karena alasan medis." kata David.

"Cara kerjanya dalam praktek dokter sehari-hari canggih, dan pendekatannya adalah melihat sistem kerja tubuh secara keseluruhan."

Pauline David mengatakan pertanyaan sensitif mengenai kehidupan seksual pasien adalah pertanyaan yang wajar dan ada alasan yang kuat untuk melakukan pemeriksaan fisik.

Baca juga: Guru Perempuan Bersalah Miliki Hubungan Seksual Dengan Murid

Pengusaha Ini Akui Hancurkan Anggur Rival Bisnisnya Senilai Rp 633 Juta

Jaksa mengatakan ada alasan seksual

Pihak penuntut Paul Marr mengatakan dalam persidangan bahwa Coleman tidak memiliki alasan medis yang jelas dalam memeriksa pasien, dan beberapa dilakukan tanpa mengenakan sarung tangan.

Marr mengatakan Colemen biasanya akan memulai konsultasi dengan bertanya masalah alergi yang dialamai pasien, dan kemudain pembicaraan beralih ke masalah seksual.

"Bukti menunjukkan bahwa tidak ada pasien yang menentang, karena mereka melihat dia sebagai seorang spesialis." kata Marr.

Penuntut mengatakan pemeriksaan bagian dalam itu tidak perlu dan di luar wewenang pemeriksaan yang wajar.

"Beberapa menggambarkan pemeriksaan itu kasar, menyakitkan dan sangat tidak mengenakkan." katanya.

Marr juga menuduh bahwa Coleman akan memperhatikan pasien perempuan melepas baju, dan melakukan pemeriksaan tanpa baju dokter, dan juga di atas kasur tanpa sprei, yang dibantah pengacara terdakwa.

Pihak penuntut juga mengatakan Coleman kadang meminta pasien perempuan untuk menungging ketika memberikan obat penyemprot hidung.

"Dokter akan mengatakan mereka menggunakan penyemprot hidung dengan cara yang salah sebelumnya." katanya.

"Dia mengatakan mereka harus menungging, dengan pantat di atas sebelum melakukan penyemprotan hidung."

"Disebutkan bahwa hal tersebut akan membantu suami mereka bila mereka berada dalam posisi tersebut."

Pihak pembela mengakui bahwa Coleman kadang meminta pasien perempuan menungging dengan kedua tangan di lantai sebelum memberikan penyemprot hidung.

Tetapi pengacara Pauline David mengatakan apa yang dilakukannya kliennya bukanlah hal yang berlebihan.

"Ini adalah posisi yang tepat. Mungkin terlihat aneh, namun ini dilakukan karena alasan medis." kata David .

David juga membantah bahwa kliennya mengalami ereksi ketika menangani pasien, dan juga bersikap lembut ketika melakukan pemeriksaan.

"Tuduhan bahwa dia memiliki motif seksual sangat dipertanyaakn, dan juga pendapat bahwa dia melakukannya dengan kasar." kata David.

Coleman tamat dari sekolah kedokteran di tahun 1978 sebelum bekerja di rumah sakit di Sydney dan Newcastle.

Diterjemahkan pukul 16:10 AEST 11/9/2017 oleh Sastra Wijaya dan simak beritanya dalam bahasa Inggris di sini

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar