Rabu, 27 September 2017

Pengiriman Relawan Australia ke Panti Asuhan di Luar Negeri Dihentikan

Selasa, 12 September 2017 21:20

(Courtesy: AustraliaPlus) Antoinette Beaumont (kaos ungu) ketika berada di Kamboja di tahun 2013 bersama World Challenge. (Courtesy: AustraliaPlus) Antoinette Beaumont (kaos ungu) ketika berada di Kamboja di tahun 2013 bersama World Challenge.
Ayo berbagi!

Tampaknya kegiatan teratur yang dilakukan oleh murid sekolah Australia untuk melakukan kerja relawan di panti asuhan di luar negeri akan segera berakhir.

Perusahaan yang mengatur perjalanan sekolah terbesar di dunia World Challenge tidak lagi akan menawarkan kunjungan ke panti asuhan di negara berkembang, setelah penelitian menunjukkan bahwa tindakan itu lebih banyak sisi negatifnya bagi anak-anak panti asuhan yang didatangi.

Badan pegiat bernama ReThink Orphanages mengatakan para relawan yang datang dan pergi malah membuat situasi dimana anak-anak merasa ditelantarkan dan juga kedekatan semakin memburuk.

Bukti yang ditunjukkan membuat World Challenge menghentikan tindakan tersebut.

Sebelumnya selama 30 tahun, World Challenge sudah menghubungkan sekolah dengan berbagai proyek relawan di banyak negara termasuk di Kamboja, Vietnam dan Madagaskar.

Ini adalah industri yang besar.

Selama 10 tahun terakhir, industri volunteer tourism (relawan turis) — atau dikenal sebagai voluntourism — telah berkembang pesat dan nilainya sekarang sekitar 173 miliar secara global, kata ReThink Orphanages.

'Secara keseluruhan lebih banyak buruk dari bagusnya'

World Challenge memiliki kerjasama dengan 300 sekolah di Australia dan mengirimkan sekitar 150 murid sekolah ke panti asuhan tahun lalu.

Antoinette Beaumont mengikuti perjalanan yang diatur oleh World Challenge di tahun 2012 ke sebuah panti asuhan di Kamboja.

Selama dua minggu, Antoinette dan siswa lain mengajar bahasa Inggris, melakukan kegiatan olahraga bersama anak-anak dan menyumbang meja untuk mereka.

Dia memang memiliki perasaan campur aduk mengikuti program ini.

"Ke luar negeri untuk melihat pengalaman anak-anak di panti asuhan, dan melihat bagaimana mereka hidup, dan perjuangan anak-anak seumur saya, merupakan pengalaman yang luar biasa." katanya.

"Di sisi lain, bila ini membuat anak-anak di dunia ketiga ini lebih menderita, saya kira ini merupakan hal yang buruk."

Keily Dimsey mengatakan sekarang dia merasa bahwa menjadi penghalang bagi anak-anak di panti asuhan di Vietnam yang dikunjunginya.

Menurut Dimsey (22 tahun), kelompok pelajar yang mengunjungi panti tidak memiliki kualifikasi untuk melakukan apa yang mereka lakukan, dan tidak ada yang mengawasi tindakan mereka.

"Saya kira kami tidak memiliki hak berada di kamar anak-anak yang sakit, dan bermain dengan mereka, dan mengubah sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diubah."

"Saya tidak menyesal dengan apa yang saya lakukan karena saya senang bahwa saya mengerti sekarang mengapa hal itu mungkin tidak tepat dilakukan. Keseluruhan memang saya merasa lebih banyak buruk dari bagusnya "

World Challenge: Buruk bagi anak-anak

World Challenge mengatakan sudah menyadari mereka melakukan kesalahan dan akan mengakhiri hubungan dengan panti asuhan di akhir bulan.

Mark Walters from World Challenge
Mark Walters manajer Asia Pacific World Challenge.

ABC News: Ruby Jones

"Mengetahui apa yang kami ketahui sekarang, dan berkaca dari pengalaman lalu, kami merasa apa yang kami lakukan di masa lalu kurang berguna." kata manajer Asia Pacific World Challenge Mark Walters.

"Mungkin di masa lalu ini berguna bagi anak-anak dari Australia, namun jelas sekali ini ini tidak berguna bagi anak-anak di sana, dan kami tidak akan terus melakukannya."

Di masa puncaknya, World Challenge bekerjasama dengan 12 panti asuhan di seluruh dunia.

Baru-baru ini mereka bekerja sama dengan lima panti di Kamboja, Vietnam, Mongolia dan Madagaskar.

Perjalanan relawan sebelumnya baru selesai dilakukan pertengahan tahun, dan perusahaan itu sekarang sedang dalam proses perundingan untuk menghentikan kegiatan mereka di bidang ini.

"Dengan melanjutkan kunjungan ke panti asuhan, kita seolah-olah tergantung dengan institusi semacam itu." kata Walters.

Keputusan yang diambil World Challenge dilakukan setelah adanya lobi dari Rethink Orphanages dan Leigh Mathews dari Rethink Orphanages mengatakan dia berharap perusahaan lain akan melakukan hal yang sama.

"Ada banyak perusahaan yang memfasilitasi perjalanan serupa." katanya.

"Ada banyak sekolah yang memiliki hubungan langsung dengan panti asuhan di luar negeri, dan ada banyak lembaga amal yang mendukung dan menjalankan panti asuhan di luar negeri."

Menurut penelitian yang dilakukan ReThink Orphanages, 14 persen sekolah di Australia memiliki hubungan dengan panti asuhan di tahun 2016.

Menurut ReThink, lebih dari separuh universitas di Australia mengiklankan adanya penempatan di panti asuhan sebagai bagian dari kegiatan relawan internasional.

Leigh Mathews, the founder of ReThink Orphanages
Leigh Mathews dari ReThink Orphanages.

ABC News: Ruby Jones

Namun menurut Leigh Matthews, menemukan seberapa besar keuntungan yang didapat dari agen perjalanan dari perjalanan ke panti asuhan itu susah didapat, karena mereka tidak harus melaporkan hal tersebut.

"Kami sama sekali tidak memiliki data, dan kita memiliki mekanisme untuk mengumpulkan data, apakah itu di tingkat pemeerintah, di tingkat lembaga pengawas atau laporan pribadi." katanya.

"Dalam pengalaman saya, saya menemukan bahwa industri tidak terlalu transparan dalam masalah ini, dan berapa banyak uang yang mereka dapat dari turis relawan dan mereka tidak harus melaporkannya di Australia."

Menurut penelitian dari lembaga amal Lumos, ada sekitar 8 juta anak-anak yang tinggal di panti asuhan di seluruh dunia, dan 80 persen tinggal bersama dengan sedikitnya satu orang tua atau anggota keluarga.

Menurut Lumos, kebanyakan anak-anak ini berasal dari keluarga miskin, dengan orang tua yakin anak-anak mereka akan memiliki hidup lebih baik tinggal di panti asuhan.

Menurut lembaga tersebut, orang tua kadang malah dianjurkan untuk tidak berkunjung, atau memiliki hubungan dengan anak-anak mereka.

Mathews mengatakan alasan mengapa banyak panti asuhan bermunculan bukan karena karena banyaknya anak-anak yatim piatu, namun karena banyaknya permintaan dari relawan dari negara-negara Barat untuk bertemu dan membantu anak-anak di panti.

"Bila kita melihat peta mengenai lokasi panti, dan daerah kunjungan turis, maka akan terlihat adanya hubungan." katanya.

"Tidak semua panti asuhan berusaha melakukan eksploatasi terhadap anak-anak dan relawan."

Sampai saat ini baru, World Challenge saja yang menghentikan kerjsama dengan panti asuhan.

Diterjemahkan pukul 14:45 AEST 12/9/2017 oleh Sastra Wijaya dan simak beritanya dalam bahasa Inggris di sini

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar