Sabtu, 18 November 2017

Memprotes aturan 'seragam LGBT', orang tua pindahkan anak ke sekolah lain

Selasa, 12 September 2017 22:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
Murid-murid sekolah
BBC
Tidak ada kebijakan khusus yang mengatur soal seragam sekolah. Sekolah bebas menerapkan aturan mereka sendiri, asalkan tidak melanggar undang-undang hak asasi manusia dan persamaan.

Pasangan orang tua di Inggris memindahkan putranya yang berusia enam tahun dari sekolahnya karena tidak paham mengapa siswa di sana diperbolehkan memakai rok.

Nigel dan Sally Rowe mengatakan anaknya bingung para siswa di Church of England School di Isle of Wight bisa berpakaian baik seperti anak laki-laki maupun seperti anak perempuan.

Keuskupan Portsmouth, yang menaungi sekolah dasar tersebut, mengatakan aturan itu diterapkan untuk 'menghormati keragaman dari semua gender'.

Kedua orang tua bocah itu yakin bahwa sekolah semestinya berkonsultasi dengan para orang tua.

Nyonya Rowe mengatakan kepada program BBC Victoria Derbyshire, saat mereka membicarakan hal itu dengan pihak sekolah, yang disembunyikan namanya, mereka diberi tahu 'jika itu yang menjadi keinginan siswa maka kita harus menerimanya'.

Pasangan tersebut mengungkapkan sesuai dengan kebijakan sekolah tentang perisakan, anaknya terancam hukuman disipliner karena keliru mengidentifikasi gender seorang siswa berusia enam tahun.

Dua tahun yang lalu mereka juga memindahkan putra sulungnya dari sekolah yang sama setelah berselisih soal anak lain yang memiliki masalah identitas gender.

Keluarga Rowe menuturkan bahwa wacana bahwa gender itu cair bertentangan dengan ajaran Kristen yang mereka anut dan mereka akan mengambil langkah hukum terhadap tindakan sekolah tersebut.

Lembaga Christian Legal Center, yang mendukung keluarga Rowe, mengatakan bahwa pasangan orang tua murid tersebut dituding menunjukkan 'perilaku transfobia' karena 'menolak mengakui gender sebenarnya dari seorang transgender.'

"Saya kaget dengan wacana (bahwa gender itu cair) tersebut, terutama karena ini adalah sebuah sekolah Kristen, bahwa hanya karena kita mempertanyakan gagasan mengapa bocah laki-laki berusia enam tahun bisa menjadi seorang bocah perempuan, kami dicap transfobia" tutur Rowe.

"Kami yakin dia (putra tertuanya) stres karena bingung ada bocah laki-laki di kelasnya yang memutuskan untuk menyandang nama perempuan dan berpakaian layaknya anak perempuan," tambahnya.

Seragam sekolah, kedudukan hukum

Tidak ada peraturan yang secara khusus mengatur soal seragam sekolah di Inggris. Sekolah bebas menerapkan aturan mereka sendiri, asalkan tidak melanggar prinsip hak asasi manusia dan kesetaraan.

Dengan kata lain, mereka tidak dapat melakukan diskriminasi berdasarkan gender, ras, disabilitas, orientasi seksual atau keyakinan.

Berdasarkan prinsip HAM, sekolah juga harus memastikan bahwa tak ada satu pun anak yang dilarang untuk belajar di sekolah karena aturan seragam yang mereka kenakan.

Umumnya sekolah-sekolah atau karyawan akan ditegur jika tidak mengenakan pakaian yang tepat atau dilarang mengenakan sesuatu, misalnya jilbab atau kalung salib, dan bukan karena mereka mengizinkan sesuatu - dalam hal ini untuk anak laki-laki yang mengenakan baju seragam anak perempuan.

Kasus ini memang tidak biasa karena orang tua yang mengambil langkah hukum untuk memprotes bentuk seragam yang diizinkan bukan yang dilarang, dan karena anak mereka bukanlah pihak yang terkena dampak langsung dari peraturan tersebut.

Hal ini mungkin membuat kasus mereka lebih sulit untuk diperdebatkan.

Semuanya terkait hak kedua anak itu untuk dengan bebas belajar dan tidak didiskriminasi.

Jeff Williams, direktur pendidikan Keuskupan Portsmouth, mengatakan, "Sekolah-sekolah Gereja Inggris adalah lingkungan inklusif di mana siswa-siswa belajar untuk menghormati keragaman.

"Seperti sekolah-sekolah negeri lainnya, sekolah kami mematuhi ketentuan undang-undang kesetaraan.

"Antara lain, mengharuskan sekolah untuk menerima keinginan anak-anak dan keluarganya berkaitan dengan identitas gender. Jika sekolah kami tidak melakukan hal itu, maka kami melanggar hukum."

Keluarga Rowe mengatakan penanganan sekolah terhadap situasi itu tidak mempertimbangkan dengan seksama efek emosional dan psikologis jangka panjang yang mungkin terjadi pada kedua anak yang ingin mengubah jenis kelamin, atau pada kebingungan dan keprihatinan yang disebabkan oleh orang lain dengan wacana bahwa anak laki-laki tidak selalu laki-laki, dan anak perempuan tidak selalu perempuan.

Pegiat LGBT Jane Fae, yang merupakan transgender, mengatakan keluarga Rowe telah salah menilai dalam permasalahan ini, karena anak-anak dengan isu gender memerlukan simpati untuk membantu mencegah mereka diintimidasi.

"Saya punya anak yang sering diolok-olok karena gender saya dan intimidasi itu sama persis: orang tua mengatakan 'kita memiliki hak untuk berpendapat' dan mereka mengungkapkan pendapat mereka pada anak-anak mreka, dan dengan itu anak-anak mereka mengira mereka bebas untuk mem-bully anak saya."

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar