Kamis, 23 November 2017

Ternyata tersangka pemerkosa bocah 10 tahun di India 'bukan' pamannya

Kamis, 14 September 2017 05:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Polisi India membuka kembali kasus pemerkosaan bocah perempuan 10 tahun setelah uji forensik menyatakan bahwa sampel DNA bayinya tidak sesuai dengan pamannya yang didakwa memperkosanya.

Setelah Mahkamah Agung menolak memberikannya izin untuk aborsi, bocah itu melahirkan seorang bayi perempuan bulan lalu.

Bocah perempuan itu tidak sadar bahwa dia melahirkan. Sepanjang kehamilan, ia menyangka bahwa ada batu besar di dalam perutnya.

Dia diduga diperkosa berulang kali oleh pamannya sepanjang tujuh bulan.

Tersangka, yang berusia 40-an tahun, sudah ditahan dan menjalani proses persidangan yang khusus berurusan dengan kejahatan terhadap anak-anak. Saat ini dia berada di penjara dan tidak memberikan pernyataan apapun sejauh ini.

Wartawan BBC Geeta Pandey di Delhi mengatakan hasil tes DNA saat ini menimbulkan pertanyaan apakah bocah itu telah diperkosa oleh orang lain.

Ayah bocah itu sebelumnya mengatakan ke BBC bahwa tertuduh tidak menolak tuduhan yang dijatuhkan kepadanya. Polisi mengatakan bahwa pamannya telah mengakui tuduhan itu.

"Sejauh ini belum ada yang berpikir akan kemungkinan yang lain. Bocah itu telah bersaksi ke pengadilan lewat konferensi video dan dalam pernyataannya, dia dengan sangat jelas mengatakan nama pamannya dan menyatakan fakta-fakta mengenai kekerasan yang dialaminya," kata seorang petugas yang terlibat dalam penyelidikan itu ke BBC pada Rabu (13/09).

Ibu anak itu mengatakan ke penyelidik bahwa mereka tidak mencurigai orang lain sehingga kasus ini menjadi sangat aneh, tambah petugas itu.

Pada Selasa, polisi dan pengacara mengunjungi keluarga itu kembali untuk berbicara dengan bocah 10 tahun itu.

Kehamilannya diketahui bulan Juli, tatkala ia mengeluhkan sakit di perutnya dan orang tuanya memeriksakannya ke rumah sakit.

Mahkamah Agung pada Juli menolak permohonan untuk mengizinkan aborsi bagi bocah itu. Alasannya, kehamilannya sudah terlalu lanjut, dan para dokter mengatakan bahwa aborsi pada kehamilan lebih dari 32 pekan, 'terlalu berisiko.'

Karena keluarganya menolak mengurus bayi yang baru lahir itu, saat ini bayi tersebut dirawat staf badan kesejahteraan anak dan akan disiapkan untuk dapat diadopsi.

Kasus ini mendominasi tajuk berita global selama berminggu-minggu, dan pejabat mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendengar seorang ibu begitu mudanya melahirkan bayi di rumah sakit India.

Hukum India tidak mengizinkan aborsi di atas 20 minggu kecuali dokter menyatakan bahwa hal itu mengancam nyawa si ibu.

Namun di beberapa tahun belakangan, pengadilan India telah menerima beberapa petisi, kebanyakan dari penyintas pemerkosaan anak, yang ingin mengaborsi kehamilan mereka di atas 20 minggu.

Dalam kebanyakan kasus, kehamilan-kehamilan ini ditemukan terlambat karena anak-anak itu sendiri tidak sadar akan kondisi mereka.

Jumat lalu, seorang anak berusia 13 tahun yang hamil 32 minggu melahirkan seorang bayi laki-laki setelah pengadilan mengabulkan izin untuk mengaborsi kehamilannya. Bayi itu meninggal dua hari kemudian.

Pada Mei, sebuah kasus serupa dilaporkan dari negara bagian Haryana tempat seorang anak 10 tahun, diduga diperkosa oleh ayah tirinya, diizinkan untuk aborsi. Dia hamil 20 minggu, kata dokter.

Tak ada satupun anak-anak perempuan itu yang dapat diidentifikasi demi alasan legal.


Aksi protes di India
AFP
Banyak kalangan di India yang mendesak pemerintah mengambil lebih banyak tindakan mengatasi kasus-kasus kejahatan seksual.

Skala kekerasan anak di India

  • Seorang anak berusia di bawah 16 tahun diperkosa setiap 155 menit, dan seorang anak berusia di bawah 10 tahun diperkosa setiap 13 jam.
  • Lebih dari 10.000 anak diperkosa sepanjang tahun 2015.
  • 240 juta perempuan di India menikah sebelum berusia 18 tahun.
  • 53,22% anak yang ikut dalam sebuah penelitian pemerintah melaporkan menderita kejahatan seksual.
  • 50% dari pelaku kejahatan dikenal oleh anak-anak yang menjadi korban atau merupakan 'orang yang dipercaya atau yang merawat mereka'.

Sumber: Pemerintah India, UNICEF

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar