Senin, 20 November 2017

Potong Tangan Mayat Taliban, Tentara Australia Bebas Tuduhan Kejahatan Perang

Kamis, 14 September 2017 18:40

Ayo berbagi!

Seorang tentara dari pasukan khusus Australia SAS yang memotong tangan dari dua tersangka pejuang Taliban, telah dibebaskan dari tuduhan kejahatan perang oleh penyelidikan Kepolisian Federal negara itu.

Insiden tersebut, yang pertama kali dilaporkan ABC News pada tahun 2013, terjadi selama operasi gabungan antara pasukan keamanan nasional Afghanistan dan tentara Australia di Provinsi Zabul pada bulan April 2013.

Operasi gabungan itu menargetkan seorang komandan pemberontak yang diberi kode nama "Rapier" oleh tentara Australia.

Operasi menyebabkan terbunuhnya empat tersangka pemberontak. Rapier sendiri tidak terbunuh atau tertangkap.

Seorang Kopral SAS memeriksa mayat dua gerilyawan yang dicurigai. Setelah menemukan pistol Makarov di salah satu mayat, kopral ini mulai memotong tangan kanan mayat itu dengan pisau.

Tentara Australia diminta untuk mengumpulkan sidik jari dan pemindaian mata bagi setiap pejuang Taliban yang terbunuh ketika hal ini memungkinkan untuk dilakukan.

Namun, mutilasi mayat merupakan pelanggaran hukum perang.

Terungkapnya kejadian itu menyebabkan digelarnya penyelidikan Australian Federal Police (AFP) selama dua tahun. Penyelidikan mencari tahu apakah tentara tersebut telah melakukan kejahatan perang, dan membuka adanya perpecahan antara SAS dan pihak penyidik militer.

Baca Juga:

Tentara Australia Akan Dilibatkan Tangani Terorisme Domestik

Tekanan waktu

Pada bulan Juli tahun ini ABC menerbitkan rincian baru tentang insiden tersebut menyusul kebocoran ratusan dokumen rahasia mengenai keterlibatan Australia selama 16 tahun dalam perang di Afghanistan.

Salah satu dokumen berupa penyelidikan internal atas insiden tersebut, menggambarkan alasan kopral SAS itu untuk memotong tangan mayat tersebut.

"Dalam pembuktiannya (kopral SAS) mengatakan bahwa sekali lagi dia telah memutuskan tangan EKIA (musuh yang terbunuh dalam aksi) 2 dan EKIA 3 atas kemauannya sendiri, karena adanya tekanan waktu untuk mengambil materi biometrik dan kembali ke helikopter untuk meninggalkan lokasi," demikian disebutkan laporan tersebut.

"Pada saat itulah komandan patroli (seorang sersan)... tiba di EKIA 3, dan melihat kedua tangan di tanah, melontarkan perkataan kurang-lebih: Apa yang kamu lakukan?"

Anggota parlemen Australia Andrew Hastie, mantan kapten di SAS, merupakan komandan patroli salah satu kelompok tentara di lokasi kejadian.

Dokumen yang bocor menunjukkan Kapten Hastie juga mengamati salah satu tangan terputus di lapangan dan bertanya apa yang sedang terjadi.

Ketika Kapten Hastie dan sersan kembali ke markas, mereka membahas kejadian tersebut dan meminta anggota SAS lain untuk mengetahui apakah praktik tersebut diizinkan berdasarkan aturan dan ketentuan Angkatan Bersenjata.

Kapten Hastie memerintahkan anak buahnya untuk tidak lagi memotong tangan dan keesokan harinya melaporkan kejadian tersebut kepada komandannya

Memeriksa briefing

Investigasi internal Angkatan Bersenjata Australia mengenai pemotongan tangan ini memotong bergantung pada briefing diberikan kepada tentara SAS oleh Australian Defence Force Investigative Service (ADFIS) di hari-hari menjelang kejadian tersebut.

Anggota SAS mengklaim dalam briefing tersebut mereka diberitahu bahwa bisa diterima untuk memotong tangan pejuang Taliban yang tewas untuk tujuan identifikasi. Sementara anggota ADFIS yang memberikan pengarahan tersebut membantah hal itu.

Investigasi internal ini juga menemukan bahwa tentara Australia yang diterjunkan di Afghanistan tidak mendapatkan arahan apakah pengumpulan bagian tubuh untuk tujuan identifikasi dapat diterima atau tidak.

Namun disebutkan bahwa terlepas dari informasi apapun yang diberikan kepada tentara Australia, tentara yang memotong tangan tersebut telah "melakukan penilaian yang buruk karena gagal untuk menghargai konsekuensi strategis yang mungkin timbul dari tindakan tersebut, khususnya potensi tanggapan dari warga setempat, (Pemerintah Afghanistan), publik Australia dan media."

ABC juga melaporkan pada bulan Agustus mengenai komandan SAS yang mengajukan surat komplain kepada kepala ADFIS bahwa penyelidikan atas insiden itu didorong oleh pertimbangan politik.

"Agar jelas, saya yakin tim ADFIS sengaja ingin menuntut anggota tim saya untuk mencegah tindakan merugikan pada anggota mereka sendiri. Ini persepsi yang dimiliki oleh mereka yang di luar rantai komando saya juga," tulis pejabat SAS itu pada bulan Oktober 2013.

Ketidaksensitifan

Investigasi Angkatan Bersenjata Australia menemukan bahwa setelah anggota SAS secara eksplisit diberitahu agar tidak memotong tangan lebih banyak lagi, mereka masih mempertanyakan apakah hal itu diperbolehkan dalam beberapa situasi.

"Posisi di atas dapat dikaitkan dengan keinginan bersama oleh anggota untuk mendukung (tentara SAS yang telah memotong tangan), setelah dia menerapkan teknik ini," kata laporan tersebut.

"Dukungan seperti itu tidak mengherankan mengingat sifat unit dan operasinya. Namun, pandangan yang diungkapkan tampaknya melampaui daris ekadar dukungan dan menunjukkan penyimpangan nilai, atau setidaknya tingkat ketidaksensitifan," demikian ditambahkan.

Personel lain yang lebih senior yang diwawancarai dalam penyelidikan kurang ambivalen. Hastie dikutip mengatakan: "Naluri saya baik-baik saja, itu adalah praktek yang aneh."

Seorang anggota SAS lainnya mengatakan, "Tak ada ketidakpastian. Saya tidak akan memotong tangan orang."

Petugas penyelidikan mengatakan bahwa dia tidak dapat mengidentifikasi apa yang menyebabkan "pergeseran nilai" pada anggota SAS. Namun mencatat bahwa mereka secara teratur melihat orang mati dan mayat yang tidak utuh, dan mereka sendiri secara teratur membunuh dan mencederai orang.

"Pentingnya (hal ini) adalah bahwa anggota ini membutuhkan arahan sangat jelas dalam kaitannya dengan apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan, dan para anggota meminta arah sebanyak mungkin," tulisnya.

"Selain itu, akan sangat tidak bijaksana jika para komandan menganggap anggotanya berada dalam posisi membuat penilaian, dengan cara yang sesuai dengan keputusan para komandan, dan yang lainnya," tambahnya.

Seorang juru bicara AFP mengkonfirmasi masalah tersebut telah dirujuk kembali ke Angkatan Bersenjata Australia.

Diterbitkan Kamis 14 September 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia di sini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar