Senin, 20 November 2017

Trump melarang penjualan perusahaan teknologi AS ke Cina

Kamis, 14 September 2017 18:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
Trump
Getty Images

Pemerintahan Trump melarang perusahaan teknologi AS dijual ke sebuah perusahaan Cina, dengan alasan resiko keamanan nasional.

Sejak November, Canyon Bridge Capital Partners yang dimiliki Cina telah berusaha mendapatkan izin untuk membeli Lattice Semiconductor seharga $1,3 milyar (Rp17 trilyun).

Perusahaan itu mengatakan mereka 'kecewa' atas keputusan itu.

Perintah itu diberikan saat AS sedang memperkuat posisinya dalam urusan bisnis dengan Cina.

Bulan lalu AS meluncurkan sebuah pengkajian resmi mengenai praktik perlindungan kekayaan intelektual Cina, yang dikatakannya dapat memaksa perusahaan-perusahaan AS menyerahkan informasi berharga.

Politisi dan pimpinan militer AS juga telah mendorong pemerintahan Trump untuk mengawasi investasi Cina di AS, khususnya di industri teknologi.

'Kesepakatan yang sangat bagus'

Dalam pengumumannya, pemerintahan Trump mengatakan bahwa mereka khawatir mengenai "potensi dipindahkannya" kekayaan intelektual dari Lattice, perusahaan yang membuat chip komputer canggih.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa produk-produk Lattice digunakan oleh pemerintah AS.

Keputusan Trump sejalan dengan rekomendasi dari sebuah panel pemerintah AS yang mengkaji transaksi asing untuk pertimbangan keamanan nasional.

Rekomendasi panel biasanya sudah menentukan kasus-kasus seperti ini, namun perusahaan itu melakukan apa yang jarang dilakukan yaitu langsung banding ke presiden untuk mendapatkan izin.

Lattice yang berbasis di Oregon telah menderita masalah keuangan, dengan mengalami kerugian pada tahun 2016 dan 2015. Proposal dari Canyon Bridge menawarkan harga premium atas harga saham mereka.

Dalam sebuah pernyataan, CEO Lattice Darin Billerbeck mengatakan bahwa transaksi itu gagal "demi kepentingan terbaik para pemegang saham, konsumen, pegawai kami dan Amerika Serikat".

Perusahaan pembuat chip itu, yang sekitar sepertiga pendapatannya dihasilkan di Cina, telah menggeser usahanya dari sestor militer dan mengatakan bahwa transaksi itu tidak akan berujung pada resiko keamanan.

Dalam upayanya untuk mendapatkan izin, mereka juga sudah berjanji untuk melipat gandakan jumlah pekerja di AS.

Canyon Bridge tidak menyinggung kekhawatiran seputar keamanan yang menjadi kecemasan pemerintah AS.

Perusahaan itu, yang keuangannya didukung China Venture Capital Fund, mengatakan bahwa mereka akan terus mencari investasi lain. Menurut AS, China Venture Capital Fund dimiliki oleh sebuah BUMN Cina.

"Kami jelas kecewa akan keputusan hari ini oleh Presiden Amerika Serikat untuk meluputkan apa yang kami yakini adalah sebuah kesepakatan yang sangat bagus untuk para pemegang saham Lattice dan pegawainya dengan mengembangkan kesempatan untuk mempertahankan lapangan pekerjaan di Amerika," tulis perusahaan itu dalam sebuah pernyataan dikirim lewat surat elektronik.

Investasi Cina yang berkembang

Keputusan Trump ini adalah keempat kalinya seorang presiden melarang dilakukannya kesepakatan swasta dengan alasan keamanan nasional. Presiden Barack Obama menggunakan otoritas itu dua kali, dan keduanya terhadap perusahaan Cina.

Pada tahun 1990, Presiden George HW Bush juga menghalangi perusahaan Cina membeli pabrik di Seattle.

Keputusan itu muncul akibat investasi Cina di AS melonjak, melebihi $46 milyar (Rp620 trilyun) pada 2016, tiga kali lipat jumlah pada 2015, menurut Rhodium Group.

Tahun ini angka itu pun tampaknya akan terlampaui.

Kesepakatan lain yang masih menunggu izin antara lain Ant Financial milik Jack Ma (pemilik Alibaba) yang ingin membeli perusahaan pengiriman uang AS MoneyGram senilai $1,2 milyar (Rp16 trilyun).

China Oceanwide Holdings Group juga sedang mencari izin untuk mengakuisisi perusahaan asuransi AS Genworth Financial senilai $2,7 milyar (Rp36 trilyun).

Para politisi AS telah mendorong pemerintahan Trump untuk menolak berbagai kesepakatan lain terkait perusahaan Cina.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar