Selasa, 21 November 2017

Mengapa bantuan kemanusiaan ke pengungsi Rohingya begitu lamban?

Jumat, 15 September 2017 14:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Pemandangan hiruk pikuk kacau balau di awal krisis pengungsi dalam skala raksasa yang kita lihat di tenggara Bangladesh -tak jauh dari perbatasan Myanmar, sudah bisa dibayangkan.

Sesudah hampir dua setengah pekan kemudian, upaya bantuan kemanusiaan yang terorganisir seharusnya sudah mulai muncul.

Tapi kita tidak melihat hal ini di Cox's Bazar, tempat terdamparnya ratusan ribu warga Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar.

Pesawat Herkules C-130 yang mengangkut makanan dan tenda dan matrial untuk penampungan belum juga mendarat di bandara; tidak kita lihat adanya truk bantuan yang mengangkut tenda dan unit pemurni air berjalan lamban menyusuri jalan yang ramai.

Memang, salah satu hal yang paling mengejutkan di antara semua kengerian di sini adalah pengakuan banyak orang Rohingya bahwa mereka sama sekali belum terhubung dengan lembaga bantuan atau badan kemanusiaan internasional.

Bantuan dari Indonesia dan sejumlah negara lain sudah dikirimkan, namun lembaga-lembaga bantuan menyebut bahwa bantuan itu belum juga sampai pada yang membutuhkan.

Sebagian besar pengungsi mengaku bahwa data mereka -nama dan desa asal- dicatat di perbatasan. Namun setelah itu, mereka dibiarkan begitu saja.

Hampir semua tempat penampungan kumuh yang terlihat di kota-kota dadakan yang luas di tengah semak belukar dan perbukitan rendah itu dibuka, dibangun dan dibiayai oleh para pengungsi itu sendiri.

Malah ini tumbuh ekonomi baru di pinggir-pinggir jalan, yang merespons kedatangan -dan kebutuhan para pengungsi. Bermunculan kios pinggir jalan yang menjual batang-batang bambu yang baru dipotong dan lembar-lembar plastik tipis, yang merupakan bahan membuat tempat penampungan darurat, yang dijual kepada para pengungsi.

Tapi kalau Anda tidak punya uang, Anda tidak akan mendapatkan apapun.

Puluhan ribu orang harus tidur di tempat terbuka meski musim hujan sudah tiba.

Persediaan makanan sangat terbatas. Orang-orang akan berkerumun dalam jumlah besar di sekitar truk jika datang dermawan warga Bangladesh yang akhirnya melontarkan berbagai bahan makanan dan pakaian ke tengah mereka.

Saya pernah melihat anak-anak dan orang tua terinjak-injak dalam desak-desakan orang yang tak terkendali itu.

Itu tidak berarti bahwa tidak ada yang dilakukan. Semua badan bantuan kemanusiaan dan lembaga internasional ada di sini.

Ketika berbicara resmi, mereka sangat diplomatis. Mereka akan mengakui bahwa banyak orang tidak memperoleh bantuan yang mereka butuhkan dan akan mengakui bahwa upaya pemberian bantuan seharusnya bisa dilakukan lebih baik.

Tapi bicaralah dengan mereka secara off the record, tidak untuk dicatat dan disiarkan, maka Anda mendapatkan cerita yang berbeda. Mereka berkisah bahwa mereka frustrasi dengan kurangnya koordinasi dan pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah Bangladesh tentang bagaimana operasi mereka.

Contoh yang paling jelas adalah bagaimana perlakuan terhadap badan pengungsi PBB, UNHCR.

Menurut ketentuan yang sudah berlangsung lama, UNHCR hanya bisa beroperasi di dua kamp pengungsian resmi, Kutupalong dan Nayapara.

Kedua kamp telah didirikan selama bertahun-tahun dan merupakan penampungan bagi sekitar 20.000 sampai 30.000 orang Rohingya yang meninggalkan Myanmar pada gelombang pengungsian sebelumnya.

PBB mengatakan bahwa sejak eksodus Rohingya dalam jumlah raksasa sejak tanggal 25 Agustus, populasi kamp mencapai 70.000 - 'jauh melampaui titik jenuh.'

Jadi, semua pengungsi baru yang sekitar 400.000an itu terdampar di luar kamp, karenanya -menurut peraturan pemerintah Bangladesh - UNHCR tidak dapat bekerja bersama dengan mereka.

Situasinya sungguh luar biasa.

Pada hari Selasa, UNHCR mengumumkan bahwa mereka mulai mengangkut bantuan besar melalui udara - dua pesawat kargo besar yang membawa tenda keluarga, selimut, jerigen, alas tidur dan barang kebutuhan dasar lainnya.

Dikatakan semua itu akan cukup untuk memenuhi kebutuhan mendesak 25.000 pengungsi dan bahwa sesudah itu akan ada pesawat bantuan lain yang mengangkut kebutuhan darurat untuk sekitar 120.000 pengungsi.

Namun, dengan aturan yang ada, UNHCR tidak memiliki wewenang untuk memberikan pasokan kebutuhan penting ini kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Jadi mengapa pemerintah Bangladesh membuat organisasi seperti UNHCR begitu sulit untuk melakukan pekerjaan mereka?

Negara ini memang menghadapi dilema yang menyakitkan.

Banyak orang Bangladesh tahu betul, bagaimana mengerikannya menjadi orang yang terusir.

Lebih dari 10 juta orang melarikan diri dari negara tersebut selama perang saudara pada tahun 1971, yang menyebabkan terbentuknya negara merdeka Bangladesh di wilayah yang dulunya merupakan Pakistan Timur.

Mereka ingin membantu sesama Muslim yang menderita penganiayaan yang mengerikan tersebut.

Tapi mereka juga tahu bahwa para pengungsi akan menjadi beban besar bagi bangladesh, yang merupakan salah satu negara paling miskin dan terpadat di dunia.

Dan jangan lupa bahwa ini bukan gelombang pengungsi Rohingya pertama yang mencari perlindungan di Bangladesh. Menurut perkiraan pemerintah Bangladesh, sudah ada 400.000 orang Rohingya di sini.

Jadi di satu sisi pemerintah ingin menawarkan bantuan dan dukungan, seperti yang dikatakan perdana menteri Bangladesh, di sisi lain mereka tidak ingin membuat para pengungsi itu merasa hidup lebih mudah karena takut hal itu akan mendorong lebih banyak lagi orang rohingya yang menyeberang.

Strategi tersebut membawa risiko, bukan hanya untuk para pengungsi yang menderita sebagai akibatnya. Sejauh ini, kebingungan dunia difokuskan pada Myanmar.

Tapi jika pemandangan kesengsaraan dan keputusasaan yang kita lihat di wilayah perbatasan ini terus berlanjut, bisa saja tak lama lagi Bangladesh mendapati dirinya jadi sorotan negatif dunia.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar