Senin, 20 November 2017

Aparat Inggris buru pelaku pengeboman kereta bawah tanah London

Sabtu, 16 September 2017 17:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Upaya pencarian pelaku pengeboman kereta bawah tanah London tengah berlangsung.

Kepolisian Inggris mengatakan mereka "mengejar sejumlah tersangka" dan menugaskan ratusan petugas untuk mencermati rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar jalur kereta.

Ledakan bom di Stasiun Parsons Green terjadi pada Jumat (15/09) pagi sehingga mencederai 29 orang.

Pemerintah Inggris meningkatkan ancaman teror ke taraf 'kritis', tingkat tertinggi yang berarti serangan berikutnya dapat terjadi dalam waktu dekat.

Peningkatan taraf ancaman teror itu juga membuat Perdana Menteri Theresa May berwenang memerintahkan militer untuk menyokong kepolisian. Dengan demikian, sejumlah serdadu dapat dikerahkan menggantikan polisi dalam menjaga berbagai infrastruktur nasional.

Penggunaan militer adalah bagian pertama Operasi Temperer, yaitu langkah pemerintah yang mengesahkan pengerahan serdadu untuk membantu polisi setelah berbagai serangan terjadi. Operasi itu diberlakukan pertama kali pada 23 mei lalu, menyusul serangan di Manchester Arena.

Hal lainnya, polisi London diberi wewenang untuk mengusung senjata api di tempat umum.

"Publik akan melihat polisi bersenjata di jaringan transportasi dan di jalan guna memberikan perlindungan ekstra. Ini merupakan langkah proporsional dan wajar yang memberikan rasa aman dan perlindungan selagi penyelidikan berlangsung," kata May.

Perbuatan ISIS?

Sejauh ini kelompok milisi ISIS mengklaim sebagai pihak yang melakukan peledakan itu.

Namun, Asisten Komisaris Kepolisian Metropolitan London, Mark Rowley, mengatakan ISIS terbiasa mengklaim serangan, "terlepas dari apakah kelompok itu telah berhubungan dengan pelaku atau tidak."

Koresponden BBC, Danny Shaw, melaporkan bahwa kepolisian telah menggunakan kata pelaku dalam bentuk jamak. Artinya, amat mungkin aparat mencari lebih dari satu pelaku.

"Asumsi Scotland Yard dan MI5 bahwa setidaknya ada satu orang pelaku dan ada orang lainnya yang membantu atau mendorong pelaku menaruh alat tersebut," kata Shaw.

Menurut kesaksian sejumlah penumpang kereta, ledakan bom yang diletakkan di dalam kantong belanja itu mirip 'bola api'. Akibatnya, sebanyak 29 orang terluka. Mereka dibawa ke empat rumah sakit berbeda, termasuk satu rumah sakit yang memiliki unit khusus luka bakar.

Peralatan peledak itu ditengarai memiliki alat pengatur waktu. Namun, sebagaimana dilaporkan koresponden keamanan BBC, Frank Gardner, bom tersebut tampaknya tidak meledak sepenuhnya.

Jika bom itu berfungsi seperti yang diharapkan pelaku, kata Gardner, semua orang di sekitarnya akan tewas dan seluruh penumpang di dalam gerbong bakal cedera seumur hidup.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar