Jumat, 22 September 2017

Bangladesh batasi gerak pengungsi Rohingya

Minggu, 17 September 2017 10:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Bangladesh membatasi pergerakan lebih dari 400.000 migran dari etnik Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar.

Para migran harus tinggal di lokasi yang telah ditentukan oleh pemerintah dan tidak diizinkan untuk bepergian ke tempat lain, seperti disampaikan kepolisian setempat.

Bangladesh juga mengumumkan rencana untuk membangun lokasi pengungsian bagi lebih dari 400.000 orang Rohingya di dekat kota Cox's Bazar.

Etnik Rohingya yang sebagian besar beragama Islam mengungsi dari kekerasan yang dilakukan pemerintah Myanmar sejak bulan lalu, yang oleh PBB dapat dianggap sebagai pembersihan etnik.

Kelompok HAM menuduh militer membakar desa-desa yang dihuni orang Rohingya.

Tetapi tentara mengatakan tindakan itu dilakukan sebagai respon atas serangan militan dan membantah menyasar masyarakat sipil.

Situasi ini juga memicu perselisihan diplomatik baru antara Bangladesh dan Myanmar akibat dugaan pelanggaran wilayah udara Bangladesh dalam sepekan terakhir.

Seperti apa pembatasan gerak orang Rohingya?

Dalam sebuah pernyataan, polisi Bangladesh mengatakan Rohingya tidak akan diizinkan untuk bepergian keluar lokasi yang telah ditentukan, bahkan untuk tinggal dengan keluarga atau teman mereka.

Operator transportasi dan para supir juga diminta untuk tidak membawa pengungsi, dan para pemilik rumah untuk tidak menyewakan properti pada pengungsi.

Analis mengatakan pemerintah ingin mencegah orang Rohingya membaur dengan penduduk setempat dan membuat mereka tetap terpantau, dengan harapan akan dipulangkan kembali ke Myanmar- atau bahkan ke negara ketiga.

Apa yang harus diketahui tentang tempat pengungsian baru?

Menurut koran Bangladesh, Daily Star, tempat pengungsian baru itu akan berada di sebuah lahan seluas 8 kilometer persegi, dekat dengan lokasi kamp yang dipadati pendatang dari Myanmar.

Fasilitas sanitasi akan dibangun juga di lokasi tersebut, antara lain 8.500 toilet sementara dan 14 "gudang darurat" akan didirikan di dekat tempat pengungsian, seperti diberitakan Daily Star.

Tempat pengungsian baru ini akan dibangun dalam 10 hari.

Sebuah rencana ambisius, tetapi apakah masuk akal?

Jonathan Head, koresponden Asia Tenggara BBC

Bangladesh menghadapi sebuah pekerjaan yang untuk mengakomodasi lebih dari 400.000 Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar. Kondisi itu membutuhkan lebih banyak dukungan internasional. Dan dukungan itu melambat akhir-akhir ini.

Salah satu alasannya adalah lonjakan pendatang dengan jumlah dramatis dalam waktu yang sangat singkat. Alasan lainnya adalah politik bantuan di Bangladesh selatan.

Badan pengungsi PBB tidak diizinkan untuk mengurusi orang Rohingya yang tinggal di luar kamp pengungsian resmi karena pemerintah tak ingin orang-orang ini memiliki status pengungsi. Itulah sebabnya Organisasi Migrasi Internasional IOM telah diberikan peran yang besar, karena memiliki keahlian dalam membantu dan memantau migran namun tidak untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan yang lebih besar.

Dalam konteks ini, rencana untuk membangun 14.000 rumah dan 8.000 kakus dinilai ambisius. Jangka waktu sepuluh hari yang ditetapkan pemerintah tampak tidak realstis. Faktanya, puluhan ribu orang Rohingya bertahan tanpa tempat berlindung dan makanan, serta banyak orang yang datang setiap harinya. Sampai saat ini belum ada yang membuat rencana yang masuk akal untuk membantu mereka.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar