Sabtu, 18 November 2017

Hamas siap gelar pemilu pertama sejak 2006

Minggu, 17 September 2017 18:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
Hamas
AFP
Hamas memuji upaya mediasi oleh Mesir.

Kelompok militan Palestina Hamas mengatakan mengatakan akan membubarkan komite yang memerintah Gaza dan melakukan pemilu.

Dalam sebuah pernyataan, Hamas juga menyatakan ingin melakukan pembicaraan dengan saingannya Fatah untuk mengakhiri permusuhan yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Setelah kekerasan antara dua faksi pada 2007 lalu, Fatah terdorong keluar dari Jaluar Gaza.

Upaya yang dilakukan kelompok itu untuk membentuk pemerintah yang bersatu di Gaza dan Tepi Barat gagal dilakukan.

Dalam pernyataannya Hamas mengatakan langkah itu merupakan hasil dari negosiasi Mesir untuk persatuan Palestina, dengan mengatakan ingin menggelar pertemuan "untuk mencapai rekonsiliasi di Palestina dan menghentikan perbedaan".

Fatah yang mendominasi Otoritas Palestina Presiden Mahmoud Abbas di Tepi Barat, belum berkomentar menganai langkah Hamas itu.

Tetapi laporan di Mesir megatakan bahwaa seorang delegasi Fatah berada di Mesir pada Sabtu (16/09) lalu untuk membahas kemungkinan adanya rekonsiliasi.

Langkah itu merupakan syarat utama untuk rekonsiliasi yang diminta oleh Abbas. Tetapi Associated Press melaporkan bahwa tidak jelas apakah Hamas siap untuk menempatkan pasukan keamanannya dibawah kekuasaan Abbas - sebuah hal yang melekat di masa lalu.

Hamas secara keseluruhan, atau dalam sejumlah kasus, sayap militernya dituduh sebagai kelompok teroris oleh Israel, AS, Uni Eropa, Inggris serta kekuatan lainnya.

Pertai itu telah berkuasa di Gaza sejak 2007 lalu, ketika memenangkan pemilu legislatif, mengalahkan Fatah yang merupakan partai berkuasa saat itu.

Bentrokan mematikan antara Fatah dan Hamas terjadi di gaza pada Juni 2007 lalu, setelah Hamas membentuk pemerintahan yang bersaing dengan pemerintah, meninggalkan Fatah dan otoritas Palestina yang memerintah di sejumlah wilayah di Tepi Barat yang tidak berada dalam kekuasaan Israel.

Sejak 2007, Israel telah memberlakukan blokade penuh ke Gaza.

Pada Mei lalu, Hamas mempublikasikan dokumen kebijakan yang baru - yang pertama sejak piagam pendiriannya.

Dokumen itu untuk pertama kalinya mendeklarasikan kemauan untuk menerima sebuah negara Palestina sementara dalam batas pra-1967, tanpa mengakui Israel.

Dalam dokumen itu juga disebut perjuangan Hamas dilakukan bukan dengan Yahudi tetapi dengan "pendudukan penyerang Zionis". Pada 1988, piagam itu dikecam karena anti-Yahudi.

Naskah itu dipandangs ebagai upaya Hamas untuk memperlunak citranya.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar