Rabu, 18 Oktober 2017

Seorang pemerkosa diberi hak asuh anak yang dilahirkan korbannya

Selasa, 10 Oktober 2017 19:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Kasus pria pemerkosa Michigan, AS yang mendapatkan hak asuh atas seorang anak yang ibunya pernah diperkosa saat berusia 12 tahun telah memicu kemarahan publik.

Banyak yang tidak habis pikir bahwa Christopher Mirasolo, 27 tahun, bisa diberi hak sebagai wali menyusul sebuah tes DNA membuktikan bahwa dia adalah ayah kandung dari anak itu.

Pengacara korban mengatakan masalahnya terjadi setelah kliennya mendapat tunjangan anak dari negara bagian Michigan.

Ini merupakan kasus pertama dalam jenisnya di Michigan dan mungkin di Amerika Serikat.

Pada hari Jumat lalu, pengacara Rebecca Kiessling mengajukan keberatan, karena Hakim Gregory Ross memutuskan bahwa Mirasolo memiliki hak sebagai orang tua dari bocah yang sekarang berusia delapan tahun, lapor Detroit News.

Hakim Ross juga memberikan alamat rumah korban kepada Mirasolo yang dulu memerkosanya.

Perempuan yang sekarang tinggal di Florida itu, telah diperintahkan untuk kembali ke Michigan.

Lebih jauh, Hakim Ross juga memerintahkan agar nama Mirasolo ditambahkan ke dalam akte kelahiran sang anak tanpa persetujuan ibunya, kata pengacaranya.

Apa latar belakang kasusnya?

Peristiwa ini berawal dari penuturan seorang perempuan berusia 21 tahun kepada polisi, bahwa Mirasolo menyekap serta memperkosanya saat dia berusia 12 tahun pada September 2008.

Peristiwa mengerikan itu dimulai saat korban dan kakak perempuannya, 13 tahun, seorang temannya pergi keluar rumah untuk menemui teman laki-lakinya dan Mirasolo, yang kala itu berusia 18 tahun.

Mirasolo menyekap mereka selama dua hari, sebelum melepaskan kakak perempuannya di sebuah taman.

Dia ditangkap sebulan kemudian saat perempuan tersebut hamil, ujar Kiessling menambahkan.

Mirasolo didakwa dengan tindak kejahatan tingkat pertama di Michigan, namun dia malah mendapatkan kesepakatan untuk tuntutan pidana lebih ringan karena mengaku.

Dia lantas dihukum selama setahun di penjara setempat, namun hanya menjalani enam setengah bulan saja, karena dibebaskan lebih awal untuk merawat ibunya yang sakit.

Pada tahun 2010, dia melakukan penyerangan seksual terhadap korban lainnya yang berusia antara 13 dan 15 tahun, dan lagi-lagi dia dipenjara, kali ini selama empat tahun, menurut Lembaga Pemasyarakatan Michigan.

Mirasolo dibebaskan pada bulan Maret 2012 dan masuk arsip sebagai seorang pelaku penyerangan seksual.

Dia diawasi dalam kategori 'orang dewasa' meski dia saat itu masih remaja.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Menurut Kiessling dan korbannya, kasus tersebut mencuat setelah sang ibu meminta tunjangan untuk anaknya.

Pengacara Mirasolo, Barbara Yockey, mengatakan kepada Detroit Free Press bahwa kliennya 'tidak pernah memprakarsai' kasus hak asuh tersebut.

Dia mengatakan hal itu karena "hal yang secara rutin dilakukan oleh kantor kejaksaan saat slah satu pihak mengajukan permohonan tunjuangan negara".

"Chris diberi tahu soal kedudukannya sebagai seorang ayah dan ketetpan tentang mengasuh anak sudah dikeluarkan oleh pengadilan pada bulan lalu, dan bahwa dia memiliki hak asuh dan berhak untuk mengunjungi anaknya," katanya.

Yockey mengatakan kliennya tidak menunjukkan rencana akan mengambil hak-haknya sebagai orang tua dan dia tidak dijadwalkan untuk hadir di pengadilan.

"Saya tidak tahu apa rencana atau niatnya terkait hubungannya dengan anak itu di masa depan," katanya.

Kiessling mengatakan bahwa kasus tersebut melanggar UU tentang pengasuhan anak korban perkosaan (Rape Survivor Child Custody Act), yang memungkinkan pengadilan menghentikan hak-hak sebagai orang tua dari pemerkosa yang dihukum, karena anak yang dikandung merupakan akibat perkosaan.

anak korban pemerkosaan
Getty Images

Apa itu 'Rape Survivor Child Custody Act'?

Undang-undang yang diperjuangkan oleh pemerintahan Obama pada tahun 2015, memberi akses kepada negara-negara bagian untuk memberikan dana lebih besar bagi korban-korban penganiayaan seksual, jika pengadilan menghentikan hak orang tua dari pelaku pemerkosaan terhadap orang lain yang mengakibatkan kehamilan.

Menurut jurnal American Journal of Obstetrics and Gynecology sekitar 5% korban pemerkosaan berusia 12 sampai 45 tahun hamil akibat perkosaan. Undang-undang ini hadir di 43 negara bagian dan District of Columbia, namun penerapannya berbeda antar negara bagian.

Di 20 negara bagian dan District of Columbia, pelaku perkosaan harus dipenjara sebelum diberikan hak sebagai orang tua.

Para pengamat berpendapat hal ini akan membuat para korban rentan dalam kasus-kasus yang tidak diproses secara hukum.

Tujuh negara bagian tidak memiliki undang-undang yang bisa melarang pemerkosa untuk menjadi orang tua dari anak yang dilahirkan akibat pemerkosaan.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar